Sorry, The Earth is Closed

Berada di rumah sekian lama membuat saya jadi banyak berpikir betapa rapuhnya rencana yang dibuat manusia ketika harus berhadapan dengan takdir. Mau sedetil atau sebaik apapun rencana itu tapi kalau suratan takdir sudah mengetukkan palunya, kita bisa apa?

Mulai 3 Juli 2021 PPKM Darurat di Jawa dan Bali diberlakukan lagi.

Dan saya kangen hal-hal sederhana saja. Saya kangen memeluk dan mencium mamak dan bapak tanpa kuatir menularkan sesuatu kepada mereka. Usia mereka tak lagi muda, sudah di atas 60 tahun dengan masing-masing memiliki riwayat penyakit tertentu. Jadi, ya, saya sangat berhati-hati.

Saya kangen pergi ke Indomart dan Alfamart tanpa perasaan was-was.

Saya kangen duduk di kedai kopi, menyesap wangi kopi panas yang menguar dari cangkir beling yang cantik seraya menikmati mobil yang lalu lalang dari balik jendela kaca. Rasanya baru kemarin saya melakukan itu di bilangan Thamrin, Jakarta. Kala itu saya ditemani Kak Ria, duduk manja dengan bingkai jendela biru tua. Kami ngobrol riuh dan tertawa terbahak-bahak sambil bertukar pandang akan berbagai macam isu ibu kota.

Saya kangen pergi belanja ke supermarket dengan perasaan riang, berlama-lama di lorong sabun dan shampoo tanpa merasa takut sehingga harus buru-buru pergi. Menikmati waktu memilih wangi sabun cair mana yang enak dan lembut untuk jadi kawan mandi sore hari. Berjalan santai sambil mendorong troli dan membandingkan harga Kecap Bangau dan Kecap ABC yang kadang saling berlomba.

Saya menyesal menunda-nunda keinginan untuk waxing karena saya pikir masih bisa nanti-nanti. Sekarang saya meringis karena rasanya kurang nyaman di bawah sana.

Saya kangen nonton konser atau festival musik lagi. Menggila, bernyanyi bersama sambil teriak-teriak betapa nge-fans-nya sama penyanyi yang ada di atas panggung. Iya, kalo udah nonton konser jadi lupa umur. Hahaha.

Sungguh, rasanya seperti baru kemarin bisa begini bisa begitu dan bikin rencana ini itu. Namun semuanya terlibas pandemi dan menyisakan banyak kerinduan akan rutinitas yang dulunya saya anggap sepele. Something I take it for granted.

Semoga pandemi ini lekas berlalu. Yuk taat prokes yuk. Doa saya juga, semoga kita semua selalu sehat jiwa dan raga.

Went to Festival Musik 90an with Eno, my concert buddy (like in almost every concert or festivals. Lol). How many concerts we’ve been to, No? Countless! 😅

2 respons untuk ‘Sorry, The Earth is Closed

  1. Ria berkata:

    Dear Eka, we should meet up again this year. Sip a cup off coffee together, just enjoy our me time together. Never too late to make promises 😉
    Stay safe and healthy always to you and your family.

Tinggalkan Balasan ke Ceritaeka Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s