Saying Goodbye

Setelah hampir 1 dekade lamanya menemani, tiba saatnya mengucapkan selamat jalan kepada mobil yang sehari-hari saya gunakan ke kantor dan antar jemput Basti sekolah. Yaris abu-abu kesayangan ini saya panggil Greyish. Bertahun-tahun ia menjadi sahabat saya menembus kemacetan Jakarta, meliuk di tengah himpitan satu meeting dengan meeting lainnya, menemani saya kesasar, belanja, bawa sepeda sampai sekedar cari pisang goreng Bu Nanik di Jakarta Barat sana.

Greyish, Toyota Yaris model Bakpao

Greyish juga yang menyaksikan gimana saya dan Adrian berkembang dari DINK (Double Income No Kids), menjadi orang tua. Membawa saya kontrol ke obgyn, mulai dari hamil muda sampai hamil besar lalu tergopoh-gopoh ke rumah sakit untuk operasi sesar.

Greyish juga saksi yang merasakan pergantian car seat Basti mulai dari car seat untuk infant, toddler, balita hingga sekarang anak-anak. Greyish sudah bersama kami lama sekali; merasakan pasang surut kami sebagai keluarga. Berat rasanya untuk berpisah namun memang sudah waktunya. Bukankah setiap masa ada waktunya dan setiap waktu ada masanya? Dan saat ini sudah waktunya berpisah.

Kami melepas Greyish bukan karena ia ada masalah. Sepanjang Greyish melayani keluarga kami sebagai alat transportasi, tidak pernah sekalipun Greysih merepotkan. Paling banter nggak bisa di-starter karena Adrian lupa ngecek aki. Selebihnya lancar mulus dan dipakai pun rasa sangat nyaman hingga sekarang. Namun karena kebutuhan kami berkembang, sudah waktunya berpindah ke mobil matic biar lutut nggak pegel-pegel banget. Jakarta macetnya makin gila soalnya.

Greyish, Toyota Yaris model Bakpao

Sebelum Greyish berpindah tangan, saya sempatkan duduk di dalamnya sekian menit: diam sejenak untuk kemudian mengucapkan salam perpisahan. Adrian menggenggam tangan saya erat, mengelus-elus punggung tangan saya dengan tangan satunya lagi. Ia paham saya punya ikatan batin khusus yang kuat dengan Greyish. Dan ketika akhirnya saya sudah siap melepas, Adrian pun memanggil pembelinya untuk datang mengambil di rumah. Tak kuasa, saya menitikkan air mata melepas Greyish. Panggil saya cengeng, sebut saya sensitive namun saya menghargai benda seperti saya menghargai manusia.

Selamat jalan Greyish, semoga pemilik baru merawatmu seperti kami penuh kasih sayang memeliharamu. Terima kasih untuk segala kebersamaan yang telah kita lalui Bersama. Salam dari jauh. Kami menyayangimu.

Adrian-Eka-Basti

Iklan

8 respons untuk ‘Saying Goodbye

  1. NengBiker berkata:

    aku tau banget rasa sedih melepas sahabat yg nemenin tiap hari gini
    karena baru melepas 2 mobil 1 motor juga :))))))))))). agak menyusuh jg krn selama pandemi jaraaaaang dipake.

    baca tulisan mba eka bikin nangis lagi. begitu banget kehilangannya. kadang2 masih nggak pengen attached sm barang krn gini bgt rasanya. tapi ya kadung sayang 😦

Tinggalkan Balasan ke NengBiker Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s