Pengalaman Pertama Waxtime dan Waxing Tips Biar Miss V Nggak Sakit

At the end, we only regret the things we didnโ€™t do. โ€“anon-

Dari dulu saya pengen banget waxing daerah kewanitaan alias si Miss V. Bahkan pernah berikrar pengen nyobain Brazillian Wax sebelum umur 30 tahun. Tapi keinginan tinggal keinginan. Terkubur lama banget sampe bulukan itu keinginan. Hahahaha. Anuh, ada banyak pertimbangan yang bikin saya maju mundur mau waxing. Mulai dari takut sakit, takut harganya mahal juga kuatir akan rasa malu. Duh nyaman nggak sih rasanya kalau daerah pribadi dilihat orang selain suami (walaupun sang terapis itu perempuan juga)? Errrโ€ฆ. Saya mikir ke sana aja rasanya kok udah jengah ya. Hahaha. Pikiran-pikiran begitu bikin saya batal tiap mau waxing jadi selama ini saya melakukan trim saja untuk rambut kemaluan. Banyak takutnya ya? Hihihi.

Tapi, ada yang mikir kayak saya juga nggak sih terkait waxing ini? Baca lebih lanjut

Iklan

Spread Love Not Hate

“Kamu tau apa arti kafir?””Tidak,” jawab saya bingung kenapa tiba-tiba saya ditanyai apa arti kafir.

“Sekarang ini kata kafir sudah dibuat lebay sama para politisi. Kalo kamu tidak percaya sama iman saya ya kamu itu kafir! Sama aja, kamu memanggil saya domba tersesat kan?” Katanya dengan nada bertanya yang agak meninggi.

Saya hanya tersenyum mendengarnya. Ada logical fallacy di sini; terjadi pengambilan kesimpulan secara deduktif dengan menggunakan frame pemikiran yang diinginkan; karena ia memanggil saya kafir maka saya memanggil dia domba tersesat? Lha kok jadi ia yang memutuskan hal itu? Memangnya ia itu saya?

Tapi yang terlebih penting dari itu semua adalah soal toleransi. Saya bersyukur saat masih SD dulu diajari oleh guru PMP untuk dapat bertenggang rasa dan memilah mana perkataan yang bisa dikatakan kepada semua orang dan mana yang untuk kalangan sendiri. Balik ke soal kofar kafir… Tidak, saya tidak tersinggung. Ini justru jadi tambahan reminder buat saya. Kalau kata John Lennon dulu, “marilah kita menjadi orang yang lebih banyak menyebarkan cinta daripada kebencian.”  Kata-katanya emang lawas, tapi masih kekinian buat digunakan. Ada penggemar John Lennon di sini?

Note: Ini foto lama yang diambil di Kalibiru, Yogyakarta tahun lalu. Fotonya emang lama tapi kisahnya sih baru-baru aja terjadi.

Bersahabat dengan Kekuatiran; Ubah Panik jadi Caring

Tips Mencegah Ruam Popok

Nggak ada yang pernah bilang ke saya kalau bayi kecil yang wanginya bikin hati damai itu datang sepaket sama kekuatiran. Hah? Punya bayi kok kuatir? Bukannya bahagia ya? Hahaha. Baru tau? Jadi gini, punya bayi itu hadir sepaket dengan perasaan bahagia dan kuatir atau malah panik. Anak demam, kuatir. Anak jatuh, hati dag dig dug. Anak males makan, emaknya pusing. Apalagi kalo anak nangis-nangis nggak nyaman karena kena ruam popok, itu bikin panik banget!

dr. Lula Kamal, Danesya Juzar (founder komunitas Productive Mamas) dan Meliana Widodo (Group Brand Manager Sleek) hadir sebagai pembicara dalam Talk Show Moms & Gathering. Kalo Eka di situ nampang foto aja sama Lula Kamal! ๐Ÿ˜› Hihihi

Nggak ada yang salah dengan rasa panik karena itu adalah alarm alami manusia saat ada yang tidak beres. Itu kata dr. Lula Kamal di acara Talk Show Moms & Gathering di Balai Kartini, Sabtu, 29 April 2017 lalu. Yang salah itu, panik berlebihan yang buntutnya jadi depresi karena kuatir mulu. Baca lebih lanjut

#BeTabAFamily : Menghabiskan Hari Keluarga bersama SAMSUNG GALAXY TAB A

A family is a little world created by love.

Logo-Samsung-Galaxy-TAB-A-6Tiap keluarga pasti punya aturan sendiri soal pemakaian gadget oleh anaknya. Ada yang santai kalo anaknya main gadget karena dianggap bisa jadi media belajar tapi ada juga yang lumayan strict soal pemakaiannya. Nggak bisa dipungkiri gadget memang bisa menstimulasi ketertarikan dan potensi anaka kan suatu hal tapi berisiko bikin kecanduan. Nah, terus terang saya adalah salah satu orang tua yang strict soal gadget ini. Anuhโ€ฆ Saya sering lemah ngadepin drama anak ngambek atau nangis kalo gadget-nya diambil >.< hehehe.

Untunglah dilema yang saya alami tentang penggunaan gadget ini terjawab di acara Bloggerโ€™s Gathering dalam rangka peluncuran produk terbaru Samsung Galaxy Tab A, Minggu, 29 Mei 2016 lalu. Baca lebih lanjut

Tentang Mencari Sekolah dan Membuat Rencana Dana Pendidikan

Planning is bridging the future into the present so you can do something about it now. -Alan Lakein-

Nggak terasa sebentar lagi baby B akan berusia dua tahun, akan masuk Playgroup dan lalu masuk SD. Iiiih, perasaan kemarin masih di perut, lah sekarang udah mau sekolah aja ๐Ÿ˜€ Ah, how time flies ya. PR saya jadi orang tua bertambah satu lagi deh: cari sekolah yang cocok dengan nilai-nila yang kami anut dan siapin biayanya :mrgreen: (bagian terakhir ini penting banget. Hahaha). Well, sebagai orang tua tentunya ingin memberikan yang terbaik buat anak dong dan itu semua butuh persiapan karena kalau ngomongin pendidikan tentu nggak akan lepas dari yang namanya biaya. Betul?

Sun Life Edu Fair 2016

Nah, ceritanya kemarin saya dan bapak suami main ke Senayan City karena sedang ada Sun Life Education Fair. Selain booth-booth sekolah juga ada talkshow tentang gimana jadi teman buat anak, gimana cara mendidik anak, sampai gimana mempersiapkan dana pendidikan anak. Ada juga penampilan musik, capoeira sampai kegiatan mendongeng buat anak-anak. Komplit banget deh acaranya. Di booth-booth sekolah, bisa tanya-tanya untuk membandingkan kurikulum, metode pengajaran dan biaya tanpa mesti keliling ke masing-masing sekolah atau kena macet. Kalau soal fasilitas sih, bandinginnya nanti aja setelah ada gambaran sekolah yang dituju. Suka deh sama edufair ini, bikin hemat tenaga! ๐Ÿ˜› Hehehe. Baca lebih lanjut

Barisan Para Mantan

“Let the past go and only hold the lesson.”

Hahaha, judulnya bikin merinding ya? Kesannya mantan saya banyak bingits gituuu ๐Ÿ˜€ . Anw, tulisan ini emang buat ngomongin mantan. Nggak tabu kok ngomongin mereka…ย  :mrgreen: .

Well, I’ve been in a multiple relationships before I jumped in to a boat -which can not sail back to the shore- called marriage ๐Ÿ˜€ yet, these relationships taught me a lot about love and life. A lot!

So, if you ask me, “What did your ex(es) teach you?” There you go, here are the answers:

Ada mantan yang mengajarkan saya tentang menghormati pilihan suatu individu. Bertoleransi tanpa mempertanyakan apapun. Nggak pake syarat dia harus seagama, harus pinter, anak orang kaya atau gimana. Ya intinya sih, kalo sayang ya sayang aja. Nggak pake syarat atau embel-embel! Ia menyanyangi saya seapa adanya saya banget. Waktu itu saya masih umur 15 tahun, dengan pipi chubby penuh jerawat karena kelebihan hormon remaja, gigi tonggos karena belom dikawat, dan badan rada ndut. Nggak ada cakep-cakepnya deh (lha emang sekarang cakep? :p hihihi). Tapi ia menyanyagi saya sepenuh hati. Saya ingat, pas kami putus saya bisa lihat kesedihan mendalam di matanya. Kenapa putus? Karena pada akhirnya saya yang sadar kalo saya nggak bisa jalan sama orang yang nggak seiman. Tapi ia tetap saya kenang sebagai seorang yang penuh toleransi dan yang membuat saya menyenangi duku ๐Ÿ˜€ .

Mantan yang satu lagi mengajarkan saya tentang bagaimana menikmati hidup. Tentang melangkahi segala keteraturan dan lepas bebas menjalani apa yang dikehendaki. Rasanya puas banget menjalani hidup dengan penuh hura-hura. Liar, penuh tawa dan petualangan. Because of him, I learned how to ride motorcycle, hike a mountain, even listened to the music I have never heard before. Ia meracuni saya dengan U2, Radiohead dan Muse. Ia mengenalkan saya pada cerianya dunia anak band, pada lirik-lirik lagu yang romantis dan mendalam, juga kunci-kunci gitar yang bisa membuat nada dengan manis. Tapi lalu ada momen kosong yang panjang juga sih… We were young with big dreams (but unfortunetaly lack of responsibilities). So it came across to my mind kalo udah bosen senang-senang terus mau ke mana? Mau ngapain? Masa hura-hura terus? Menurut saya, mantan yang ini adalah mantan yang asyik buat jadi pacar, tapi terus terang nggak pas kalau jadi suami ๐Ÿ˜› Wis, bubar. Hihi.

Mantan yang lain Baca lebih lanjut