Umur 25 Tahun Ngapain?

Beberapa waktu lalu rame di WAG bahasan soal umur 25 tahun udah mesti punya apa aja dan ngapain aja. Errr… Garuk-garuk kepala. Tiap orang jalan hidupnya beda-beda, variabelnya banyak jadi gak bisa dipukul rata mesti gimana. Nggak ada standar/patokan di umur berapa mesti apa dan gimana.

Waktu itu gue skip aja nggak minat nimbrung bahas tapi minggu kemarin isu ini muncul lagi di temlen IG gue… Lalu gue jadi nginget-nginget pas umur 25 tahun tuh gue ngapain aja ya?

Baca lebih lanjut

1st Grader

Anak lanang hari ini masuk Sekolah Dasar. Padahal kemarin kayaknya masih belajar berdiri sambil pegangan teralis jendela….. Sekarang sudah bisa mandi sendiri pake shampoo wangi dan memuji maminya dengan suara polos. Ia selalu ekspresif, selalu jujur bilang isi hatinya. Pujian kalo memang layak, akan ia sampaikan kalo enggak ya bakal bilang apa adanya (oh saya pernah dibilang bau kambing pas baru pulang sepedaan 🤣🤣). Tapi pujiannya selalu sukses bikin maminya klepek-klepek. Hahaha.

“You look beautiful with that dress, Mami.”

“Mami, you smell so good. I love it.”

“Wow, Mami, can I get a hug? I miss you so much.”

Basti, Basti…. Manisnya kamu… Kalo begini terus, berapa banyak hati cewek-cewek yang akan kamu patahkan nantinya, Bas? 🤣 Hahaha.

Selamat masuk SD ya kesayangannya kami 😘😘

Jalan Tengah

Satu hal yang saya pelajari beberapa bulan terakhir adalah memberikan ruang dan kesempatan untuk menyelami setiap perasaan (emosi) yang datang dan saya rasakan.

Jadi kalau sedih, instead of cari-cari kegiatan biar senang, saya membiarkan diri saya menangis, meratap atau bahkan bergelung di kasur.

Kalo marah, instead of mengalihkannya dengan tidak memikirkannya, saya menuliskan amarah saya.

Kalo kecewa, instead of mengubur perasaan tersebut, saya ajak diri saya berdialog. Jujur mencari akar kekecewaannya apa.

And so on, and so on. Dan mengidentifikasi serta menerima semua perasaan yang datang (tanpa resisten) itu benar-benar mempermudah hidup. Just go with the flow and life will find its own balance way. It’s relieving.

Tapi kemarin ada satu perasaan yang membuat saya bingung bagaimana harus menyikapinya. Jadi saya menerima kabar bahwa salah satu kolega di kantor (yang terkenal dengan mulut tajamnya) di-BAP. Entah sudah berapa banyak hati orang-orang yang terluka karenanya, oh dan tentu saja saya pun pernah menjadi korban siletannya meskipun (as usual) saya memilih diam menyingkir. Namun kali ini ia bermasalah dengan orang lain yang mau meladeninya ke jalur hukum dan akhirnya ia mendapat akibat dari perbuatannya sendiri.

Setelah berbulan-bulan menjalani pemeriksaan, akhirnya hasil keputusannya keluar. Saat mendengar kabar itu, ada bagian kecil dari diri saya sempat berucap, “You deserve it, mulutmu jahat sih selama ini. Makanya, baik-baik jadi orang.” Sempat juga berpikir… Mungkin gak sih ini hasil kumpulan doa yang diam-diam dipanjatkan orang-orang yang selama ini pernah dia lukai? Tapi sebentar saja saya merasa begitu. Nurani kecil di sudut hati mengingatkan bahwa tidak sepatutnya bergembira atau bersyukur atas penderitaan orang lain (meskipun ia pernah menyakiti) seperti yang tertulis di I Korintus 13:6.

Nah, sampe di sini saya sempat gamang.

Demi kesehatan, semua emosi sebaiknya diberikan waktu dan kesempatan untuk dirasakan. Namun menurut iman Kristiani yang saya percayai, emosi yang satu ini tidak boleh diberi tempat. Setelah berdiam sejenak, akhirnya saya memilih jalan tengah. Menuliskan ini untuk acknowledge emosi tersebut. Tidak mengingkari, tidak menguburnya, tetap menyapa perasaan ini namun hanya sebentar saja. Kemudian menutupnya dengan doa-doa baik bagi kolega dan juga bagi saya sendiri. Semoga pada akhirnya nanti saya bisa ada di level mengamalkan ayat pada I Kor 13:6 tersebut tanpa kegamangan. Yah, namanya juga manusia biasa, bukan malaikat. Hal kayak ini manusiawi banget, namun yang panting kan terus berusaha menjadi lebih baik. Betul? 🙂

Elegi untuk Glenn Fredly

Lagu-lagu Glenn Fredly itu terasa sangat personal buat saya. Albumnya yang berjudul Selamat Pagi Dunia seolah menyuarakan jeritan suara hati sedalam-dalamnya. Bukan cuma satu atau dua lagu tapi satu album tuh rasanya soundtrack hidup GUE BANGET!

Saya jarang sekali menyukai penyanyi atau sebuah band sampai tergila-gila seperti seekor semut menyenangi gula. Alasannya sederhana saja; nggak mau kecewa. Nggak pengen pas lagi ngefans-ngefans-nya eh tahunya idolanya melakukan sesuatu yang bikin BT. Jadi cukup lumrah untuk saya memisahkan antara sebuah karya dan artis yang membuatnya. Baca lebih lanjut

Nostalgia Membaca Buku dan Perpustakaan

Dulu waktu saya  kecil, mamak saya sering membacakan cerita dari buku atau majalah. Bukunya ada  banyak banget jadi saya nggak ingat apa saja yang pernah dibacakan. Cuma kalau majalahnya sih ingat: Majalah Bobo! Majalah sejuta umat anak-anak kecil dulu. Hihihi.

Terbit setiap hari Kamis, saya selalu menanti-nantikan majalah Bobo. Selalu excited karena penasaran sama cerita-cerita yang ada di sana.

“Hmm kira-kira kali ini Bona dan Rongrong ngapain ya?” Baca lebih lanjut

Pengalaman Pertama Waxtime dan Waxing Tips Biar Miss V Nggak Sakit

At the end, we only regret the things we didn’t do. –anon-

Dari dulu saya pengen banget waxing daerah kewanitaan alias si Miss V. Bahkan pernah berikrar pengen nyobain Brazillian Wax sebelum umur 30 tahun. Tapi keinginan tinggal keinginan. Terkubur lama banget sampe bulukan itu keinginan. Hahahaha. Anuh, ada banyak pertimbangan yang bikin saya maju mundur mau waxing. Mulai dari takut sakit, takut harganya mahal juga kuatir akan rasa malu. Duh nyaman nggak sih rasanya kalau daerah pribadi dilihat orang selain suami (walaupun sang terapis itu perempuan juga)? Errr…. Saya mikir ke sana aja rasanya kok udah jengah ya. Hahaha. Pikiran-pikiran begitu bikin saya batal tiap mau waxing jadi selama ini saya melakukan trim saja untuk rambut kemaluan. Banyak takutnya ya? Hihihi.

Tapi, ada yang mikir kayak saya juga nggak sih terkait waxing ini? Baca lebih lanjut