Tentang Twitter Circle

Is Twitter Circle (TC) a thing in Indonesia? :mrgreen: I honestly don’t know. Jauh sebelum TC bisa diakses buat netizen Indonesia, sebenarnya saya sudah mendapatkan dan bisa menggunakan fitur itu. Kalo nggak salah dari bulan Maret atau April gitu saya sudah punya opsi tweet for public or circle. Namun karena saya nggak minat, ya saya nggak gunakan dan nggak saya apa-apain juga.

Ngopi sambil scrolling timeline

Sesungguhya Twitter Circle ini mengingatkan saya pada Path. Salah satu platform sosial media yang udah meninggal itu. Dengan TC, kita bisa ngetwit untuk lingkup yang lebih kecil, lebih privat. Yang mana orang-orangnya bisa kita seleksi atau tentukan sendiri. Idealnya tentu orang yang masuk di Twitter Circle adalah orang-orang yang dianggap dekat atau minimal dirasa nggak bakal rese kalau kita ngetwit macem-macem showing our true color.

Meskipun saya nggak menggunakan Twitter Circle (eh, pernah pake 1x sih buat nge-test aja), namun ternyata saya mendapati kalau saya dimasukkan ke dalam TC sobat-sobat netizen. I don’t tweet much , I also don’t have lotta free time to scroll my timeline so when I do, it’s obviously a luxury. Jadi mendapati saya masuk ke dalam TC orang lain itu cukup menghibur. Twit-nya lebih variatif and I feel close to them as a person not only as someone I know in the virtual world. Tapi itu saya.

Namun ternyata nggak semua orang senang lho dimasukkan ke dalam Twitter Circle orang lain. Alih-alih dapat simpati tapi cuitan orang lain yang ada di dalam TC malah jadi bahan ghibah atau bahan olok-olok. It happens a lot. Wajar sih kalau orang nggak nyaman, apalagi kalo yang di-twit di TC kebanyakan keluh kesah penuh bahasa kasar atau umpatan.

Ibarat kata nih, hidup sendiri aja udah berat, lha pas buka TL mau cari hiburan lucu-lucu kok ya malah harus baca kisah sedih atau ranting nggak mengenakkan dari orang lain. Jadi emotionally draining. Ada kan orang yang dari sononya emang energy vampire? Jangankan ketemu, baca cuitannya aja udah bikin capek. Untungnya orang-orang yang memasukkan saya ke TC mereka nggak gini. Untungnya twit di TC mereka seru-seru, misuh pun lucu dan jatuhnya elegan. Hahaha. Hiburan bangetlah. Apes deh yang kena dimasukkin ke Twitter Circle isinya sambat marah-marah doang.

Anw ada lagi nih yang bikin orang nggak senang dimasukkan ke TC… This is even worse from the two previous paragraph…. Nggak ngerasa kenal dekat, nggak mutual-an alias nggak saling follow (cuma 1 orang aja yang follow) tapi dimasukkan ke Twitter Circle. Maksude opo? Bukannya dapat simpati malah dikatain freak. 😀

Saya? Memilih nggak tau apa-apa. Ignorance is a bliss. Lagian udah paling bener curhat sama teman yang emang mau dengerin kita, alias ada consent. Bukan yang terpaksa baca karena secara sepihak dimasukin ke Twitter Circle

Muhammad Ihsan

Saya memanggilnya Imed. Ia beberapa tahun lebih tua dari saya. Kenal karena Imed sahabat baik seseorang yang pernah dekat dengan saya (halah bilang aja mantan pacar, Ka! :mrgreen: ). Namun Imed bukan sekedar bro-nya si mantan, selama 4 tahun pacaran sama si mantan, Imed telah menjadi sahabat saya juga. Lho, kok bisa? Ya bisa, karena emang Imed sebaik itu orangnya. Ringan tangan, nggak pernah marah dan bisa diandalkan. Paling, bangun siangnya aja yang jadi kurangnya dia 😀

Saya ingat setiap kali ada missed call dari saya, Imed pasti akan telepon balik nanyain ada apa. Tidak pernah tidak. Sesibuk apapun pasti akan telepon balik. Satu kali dalam perjalanan ke kampus, donpet saya ketinggalan pas isi bensin. Parahnya, saya tahu setelah “mulai dari nol ya” sudah disuarakan. Ehgila, gimana bayarnya? Si mantan yang waktu itu masih jadi pacar, rumahnya jauh, 20km dari tempat saya isi bensin. Satu-satunya yang deket ya Imed, karena kampus saya dekat rumahnya Imed. Saya telepon dia. Enteng dia bilang, “Gue ke situ. Bilang petugasnya suruh tunggu.” Lalu kucuk-kucuk dia datang jalan kaki nyerahin duit ke saya yang ada di balik setir mobil 😀 . Kontras banget dah tapi kalo diinget-inget jadi lucu.

Kali lain, sobat saya, Arnilah mendadak pingsan saat kuliah dan mesti masuk IGD. Arnilah anak perantauan, nggak pegang duit ekstra, sementara duit saya cuma cukup buat bayar jaminan IGD. Di tengah kebingungan, saya telepon (mantan) pacar yang ternyata lagi ada di rumah Imed. Nggak berapa lama mereka datang dan Imed langsung bayarin itu biaya RS semuanya. Padahal Imed nggak kenal Arnilah, yang dia kenal saya. Tapi memang ia nggak pernah hitung-hitungan. Segitu baiknya dia. Teman saya dianggap temannya dia juga.

Baca lebih lanjut

Having Great Friends Everywhere

Here’s the truth, I don’t quite enjoy business trip. Perjalanan dinas itu menguras energi dan yang paling menyesakkan adalah bikin kangen rumah. Meski tidak ribut tapi kadang saya uring-uringan juga dalam hati. Capek.

Namun perjalanan dinas di bulan Oktober 2021 lalu memberikan perspektif baru buat saya. Ternyata perjalanan dinas (selain menyelesaikan pekerjannya) bisa memberi manfaat lain yang sungguh berharga. Membawa saya menyambung silahturahmi dengan banyak teman lama, yang sudah belasan tahun nggak ketemu, yang selama ini nggak ketahuan rimbanya. Bisa berjumpa. Berbagi kabar, meski sebentar. Bertemu muka dengan muka dan saling menatap. Sederhana, tapi sangat bermakna. It’s deep.

Pangkal Pinang, 6 Oktober 2021. Ketemu dengan Ita, teman kuliah dulu. Terharu sekali Ita betul-betul mengusahakan untuk bertemu dengan saya. Kebetulan jadwal di Pangkalpinang lumayan padat, namun ada satu hari di mana saya mengunjungi daerah Sungailiat, kurang lebih 2 jam dari Pangkalpinang dan begitu Ita tau, ia langsung meminta nomer telepon pengemudi untuk mengarahkan kami lewat rumahnya karena searah meski tidak sejalan.

“Pak, tolong lewat jalan **** supaya saya bisa ketemu Eka. Saya udah beli oleh-oleh jadi harus dimampirkan.” Kemudian telepon ditutup. Asli, saya terpana. Dan ketawa kecil sesudahnya. Ita “memaksa” supir buat mampir dengan bilang udah beli oleh-oleh. Bikin nggak enak hati kalau sampai menolak atau nggak mampir, kan? Dan akhirnya setelah kesasar muter-muter beberapa jalan (percayalah jalan-jalan di Sumatera itu beda banget sama di Jakarta, sepinya ajegile dan bikin deg-degan. Hahaha), saya sampai di depan rumah Ita.

Mata saya berkaca-kaca ketika ketemu. Ita masih sama seperti dulu saat kami satu kelas. Masih ceriwis, masih nyablak dan (wow ternyata) makin rame. Sebagai pembanding, saya ini termasuk orang yang rame tapi di samping Ita, saya bakal masuk kategori pendiam. Iya, segitunya Ita ini super talkactive. Hahaha.

Terima kasih sudah menyempatkan ketemu. Akhirnya kami berjumpa lagi setelah 18 tahun. Asli, merinding senang. Perjumpaan yang sangat singkat, tak lebih dari 10 menit, di pinggir jalan pula. Tapi melihat wujud Ita lagi setelah sekian lama, sehat dan gembira, benar-benar menyentuh hati saya.

Meet up with Ocha Milan di halaman kantor orang. Hahaha

Sorong, 14 Oktober 2021. Ketemu dengan Ocha. Begitu Ocha tau saya ada perjalanan dinas ke Sorong, ia menyempatkan mampir. Jadwal saya (lagi-lagi) cukup padat, jadi kami bukan bertemu di lobby hotel tempat saya menginap, tidak juga janjian di suatu kafe/restoran. Ocha nyamperin saya ke kantor salah satu perangkat daerah di Sorong yang menjadi tujuan saya bekerja. Ke kantor orang! :mrgreen:

Terima kasih Ocha udah menyempatkan mampir (ke kantor orang). Akhirnya kita bisa bersua perdana setelah 11 tahun lalu colek-colekan di blog dan sesekali di Twitter. Senang sekali. Puji Tuhan bisa kopdar!

Blue Caffee

Jayapura, 20 Oktober 2021. Ketemu dengan Tiur dan Christian. Pasangan ini adalah teman gereja saya saat masih lajang dulu. Gils, sudah belasan tahun lampau berlalu dari terakhir kali kami ketemu. Kalo nggak salah sekitar 12 atau 13 tahun lalu. Mereka ada di Jayapura memberi diri untuk melayani pendidikan bagi anak-anak Papua. Hati saya tersentuh sekali. Hanya orang-orang dengan panggilan khusus yang mau dan mampu begitu. Meninggalkan gemerlap ibu kota dan mendedikasikan diri sepenuhnya untuk pelayanan.

Terima kasih Tiur dan Christian. Diberkati selalu pekerjaannya dalam ladang Tuhan.

Sebenarnya, masih ada beberapa kopdar lain lagi. Ada yang akan saya tuliskan terpisah, ada juga yang sengaja tidak dipublikasikan 😉 . Satu yang pasti, bisa bertemu langsung, nyata, bukan melalui layar ponsel itu rasanya berbeda. Sungguh berbeda. Apalagi ini adalah teman-teman lama. Jadi saat ketemu lagi, banyak sekali kenangan masa lalu yang ikut terputar.

Oktober, masa di mana setiap minggu akan berada di 2 kota yang berbeda. Puji Tuhan bisa dilalui dengan sehat dan lancar.

Dalam perjalanan pulang setelah bertemu Ita, ingatan saya kembali masa-masa kami kuliah dulu. Gimana kami saling tanya tugas atau sekedar nyanyi-nyanyi gitaran di sela jeda kuliah. Keping-keping memori yang indah.

Setelah ketemu Tiur dan Christian, saya teringat bagaimana kami dulu saat masih muda belia ibadah bareng. Penuh semangat menyanyikan lagu-lagu Hillsong bahkan kadang sampai loncat-loncat segala. Teringat juga bagaimana kami (iya saya juga terlibat hehehe. Gini-gini dulu ikut pelayanan gereja lho) memberi hati melayani anak-anak tak mampu dengan memberikan les tambahan pelajaran secara cuma-cuma. Saya mengajar Bahasa Inggris, Tiur dan Christian mengajar matpel lainnya.

Sementara pertemuan dengan Ocha mengingatkan saya tentang hangatnya blog di masa lalu. Serunya saling meninggalkan komentar di postingan baru teman dan candaan-candaan saat itu.

Ah, bersyukur. Lagi-lagi bersyukur punya kesempatan (yang termasuk langka) sehingga bisa menyambung silahturahmi dengan teman-teman yang tersebar di berbagai daerah Indonesia. Selalu ada hal baik dari suatu hal. Lelah yang datang bersama dengan business trip bisa memberikan manfaat lain yang sangat indah; manfaat silahturahmi.

:* Lots of kisses

Umur 25 Tahun Ngapain?

Beberapa waktu lalu rame di WAG bahasan soal umur 25 tahun udah mesti punya apa aja dan ngapain aja. Errr… Garuk-garuk kepala. Tiap orang jalan hidupnya beda-beda, variabelnya banyak jadi gak bisa dipukul rata mesti gimana. Nggak ada standar/patokan di umur berapa mesti apa dan gimana.

Waktu itu gue skip aja nggak minat nimbrung bahas tapi minggu kemarin isu ini muncul lagi di temlen IG gue… Lalu gue jadi nginget-nginget pas umur 25 tahun tuh gue ngapain aja ya?

Baca lebih lanjut