Feel Good Happy Moments

I feel a bit overwhelmed the past several months with the job, pandemic (who doesn’t?) deadlines and many other things. So I thought I’d post some “feel-good-happy-moments” pics here. 🤗🤗 Just a little reminder that eventhough sometimes life seems hard but in overall, it’s good! It’s been so f**king good ☺️

Speaker at a workshop in Bali attended by mid-level official as the participants and also speaker at several other Indonesian ministries. It’s an honour.

Received this beautiful post card from Manish Deo, an Indian friend I met years ago. You have no idea how my expression was getting this card knowing he sent it from the highest post office in the world! I feel wonderful, very special, and honoured, knowing someone remembers me during his trip and even putting extra effort by writing personal message and sending it like an old school. Sweet. This warmth my heart. Thank you!

Yeay for a sweet escape to Jogja. A simple family quality time yet very recharging. Did nothing but sleep, eat, swim, repeat with lotta laughter and love in between. I’m blessed! 🤗

Found the right conditioner. Say hello to my long smoother hair 🥰

Btw I get accustomed receiving compliments from various people in various occasions. I usually replied with simple “thank you”. But guess what, sometimes a frequently received compliment hits different when it was said just at the right time. Recently someone texted me, “Kamu cakep itu default.” I didn’t expect that and it made my day. So I am gonna include that as one of the happy moment here. Appreciating the right time of saying it.

Now, October has arrived and it’s gonna be another busy like a bee time. Oh hi, well… October let’s roll together.

Putting the Fun Between My Legs

Don’t you love the endorphins kick after exercising?

I like the sweats drop in every pedal I made,

I love the relaxed and happy feeling under the sun,

I like to see things through different eyes (from a moving bike),

But most of all, I like the small joy every ride brings in. For every pedal is a tiny holiday, a boost of good mood. 🥰🥰

Another 70km-ish ride!

Happy Sunday beautiful people! May you have wonderful day filled with lots of happiness. ☺️

My Ups and Downs Relationship with God

We all have that period of time where we simply decided not to follow any rules but ours. I grew up in a very strict Christian family as strict as my mom reads the bible every dawn and my dad would woke us all of his children with a loud religious songs from Radio Pelita Kasih at 6 AM. :mrgreen: So loud that I thought I gone deaf. Lol. Not to mention that we go to church every Sunday (no excuse or you’d get scholded) also attended mid week service. Well, those were not without reasons. Lots of our relatives from dad’s side are priests or pastors and even there’s a nun from my mom side. So yeah, religious activities and its values are something me and my siblings breath in everyday.

Those values lead my life well and keep me on track. I am forever grateful that my dad was putting a solid fondation for me so I wasn’t lost. But to certain point of life, I got bored. I felt like being restrained. In almost every situation, I always asked myself the WWJD question. You know, when in doubt, ask yourself, “What Would Jesus Do?” :mrgreen: So then I always behaved, always become the teacher’s pet and bosses’ fave person or something like that. To the point that I couldn’t enjoy my life freely the way I want it.

Baca lebih lanjut

(Mbatin) Dari Jendela Pesawat

Saya sedang asyik memandangi awan yang bergelung-gelung di angkasa dari jendela tempat saya duduk ketika terdengar suara ribut-ribut dari arah lorong di bagian depan pesawat. Seorang penumpang bersitegang dengan pramugari. Saya geleng-geleng kepala melihatnya. Di masa pandemi gini, saya pikir orang akan lebih berempati satu sama lain atau paling enggak hemat-hemat energi, ternyata perkiraan saya salah. Setelah sekitar 10 menit mendengarkan argumen keras, akhirnya sang penumpang nurut sama pramugari (ya jelas nurut, wong salah). Tapi hal itu nggak menyurutkan sifat angkuhnya, ia berjalan sambil terus memaki.

Lagi-lagi saya geleng-geleng kepala sambil mbatin (ngomong dalam hati) pake Bahasa Jawa, “Jatuh’o, kesandung’o, mbencekno tenan.”  Yang kalau diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia jadi, “Moga-moga jatuh kesandung, nyebelin bener sih.”

dari jendela pesawat

Dan tiba-tiba terdengar suara gedubrak. Orangnya-beneran-jatuh. Saya kaget, saking kagetnya sampe nutup mulut pake dua tangan. Tapi saya bukan kaget karena orangnya jatuh tapi kaget karena teringat pesan dari Simbah Putri yang wanti-wanti bilang agar saya jangan sembarangan mbatin. Kasihan katanya. Simbah Putri itu pribadi yang luar biasa, firasatnya tajam dan paling mengerti saya. Dulu waktu kecil, kalo pas lagi diajak ke pasar dan saya nggak sreg sama sesuatu, beliau selalu tahu kalo saya habis mbatin dan kejadian tepat di depan mata.

Yang paling parah, pernah mbatin motor senggolan sama mobil karena yang naik motor nggak sopan sama Simbah. Untung abis senggolan, yang naik motor gpp meskipun motornya rada ringsek, tapi tentu saja saya jadi kena tegur. “Ojo mbatin ngono, tah, Ka. Dongake sing apik-apik wae gen sing luwih apik balik nggonmu.” (Jangan mbatin gitu, doakan yang baik-baik saja biar hal yang lebih baik lagi berbalik kepadamu).

Akhirnya saya jadi jarang “mbatin” karena sekalinya mbatin sering banget kejadian.

Suara gedubrukan penumpang yang berusaha bangkit setelah kesandung membawa saya kembali ke masa kini. Akhir-akhir ini hati saya nyeri karena ada orang dengan sengaja nyinyir, memaki dan menyakiti pake mulutnya yang tajam. Sudah hampir 9 bulan hal ini berlangsung.

Awan putih bak kapas terus bergulung-gulung di angkasa menjadi saksi bisu betapa hati ini terpicu untuk mbatin dan ngucap yang enggak-enggak. Tapi teringat pesan Simbah Putri untuk mendoakan yang baik-baik, akhirnya saya cuma mbatin gini…. “Semoga gak ada momen di mana gue jadi sampe ngucap, you deserve it, mulutmu jahat, hatimu penuh iri dengki benci sih.”

Semoga.

.

.

10.10 AM.

Ditulis di atas pesawat dalam perjalanan Jayapura-Jakarta

Sister by Birthdate

Namanya Ailtje dengan pelafalan /ailce/ atau /ailsa/ tergantung mau dari bahasa mana. Akrab dipanggil Tjeje tapi saya sih memanggilnya Ailsa. Terasa lebih hangat dan lebih mesra menurut saya. Kami kenal saat trip ke Madura berburu batik pesisir bersama Batik Attack di tahun 2012 lalu. Siapa sangka kami punya mutual teman yaitu Venny si Ratu Kuis (dijuluki begini saking seringnya dia menang kuis. Lol). Dan itu menjadi jembatan kedekatan kami.

Persahabatan yang dimulai dari jalan-jalan itu perlahan tapi pasti berkembang. Pepatah lama bilang, cocok atau enggaknya kita sama orang itu bisa ketahuan pas lagi ngetrip bareng dan itu benar adanya! Hehehe. Ohya, ternyata selain batik, kami punya banyak kesamaan lain. Di antaranya sama-sama penggila konser atau festival musik. Bersama dengan Aling (peserta Batik Trip juga) entah sudah berapa konser yang kami hadiri bareng. Udah nggak ingat! Yang pasti kami seringnya ada di kelas festival, selalu janjian sampe jam berapa lalu bergandeng tangan jangan sampe lepas biar kami bisa meringsek masuk.  Tak lain dan tak bukan… Ya biar ada di baris paling depan jadi paling dekat sama penyanyinya… Masih keinget banget gimana kita teriak “aaaawwww” bareng pas liat Katon nyanyi ngedlosor patah hati di panggung.

Baca lebih lanjut

Tips Mengenalkan Cara Menggosok Gigi Kepada Anak

Beberapa waktu lalu saya ngobrol-ngobrol sama teman kantor soal anak. Yeah, obrolan standar mamah-mamah muda pas istirahat. Hahaha. Dan saya kaget pas dengar ada anak dari tetangganya teman yang giginya nggak disikat sama sekali dari kecil, alhasil pas umurnya hampir 5 tahun, giginya udah reges/penuh karies semua. Semoga gigi anak itu baik-baik aja dan nggak sakit gigi ya. Wishful thinking.

Anw, tumbuh dan besar di mana orang tua saya menekankan betapa pentingnya kebersihan gigi membuat saya menganggap gosok gigi adalah hal standar yang wajib dilakukan. Nothing extraordinary about that. Saya jadi pengen berbagi cerita tentang gimana cara kami mengenalkan kebiasaan menggosok gigi kepada Basti. Yah lumayan sambil nostalgia mengenang masa lalu biar jadi cerita yang tak terlupakan. Hehehe.

Manfaat Menggosok Gigi Secara Teratur

Baca lebih lanjut

Umur 25 Tahun Ngapain?

Beberapa waktu lalu rame di WAG bahasan soal umur 25 tahun udah mesti punya apa aja dan ngapain aja. Errr… Garuk-garuk kepala. Tiap orang jalan hidupnya beda-beda, variabelnya banyak jadi gak bisa dipukul rata mesti gimana. Nggak ada standar/patokan di umur berapa mesti apa dan gimana.

Waktu itu gue skip aja nggak minat nimbrung bahas tapi minggu kemarin isu ini muncul lagi di temlen IG gue… Lalu gue jadi nginget-nginget pas umur 25 tahun tuh gue ngapain aja ya?

Baca lebih lanjut