Ternak

Dulu saat saya masih kerja di rumah medio 2017-2021 aktivitas ternak alias anter (les) anak itu kegiatan biasa. Jam 4 anter ke kolam, tungguin sambil cek-cek kerjaan via hape sekalian koordinasi kegiatan. Tapi begitu udah kembali aktif di kantor, ceritanya beda.

Beruntung hari ini ada yang lain. Saya bisa pulang kantor cepat jadi masih sempat antar anak lanang les renang. Ia senang sekali, minta ditungguin dan minta dijemput juga. Katanya…. HARUS MAMI YANG JEMPUT. Saya iyakan. Saya duduk di pinggir kolam lama-lama sampai hampir menangis.

Astaga, ini precious sekali. Anter les renang, nungguin dan jemput. Hal yang dulu saya anggap biasa sekarang sungguh rasanya luar biasa. Hati saya nano-nano campur aduk.

Treasure small things, being happy in small things πŸ’™πŸ’™

Tuntutan Permintaan Maaf

Minggu lalu saya mengajar di salah satu kelas sekolah kedinasan dari kantor saya. Satu mahasiswa yang selalu duduk di depan dan biasanya ceria mendadak berubah 180Β°. Keceriaannya sirna, duduk pun pindah di belakang dan mukanya muram saja. Saya tanya ke temannya kenapa dan ternyata ia lagi patah hati ditinggal ceweknya.

Ah, saya jadi teringat momen-momen saat kuliah dulu. Perjalanan cinta saya juga nggak mulus. πŸ˜€ Masa muda, biasa. Hehehe. Banyak sukanya tapi ada dukanya juga. Saat di usia 23 tahun, yang paling membuat saya bermuram durja adalah ketika saya ditinggal si mantan pacar ke-2. Saya patah sepatah-patahnya saat itu. Bertanya-tanya salah saya apa dan tentu saja saya merasa ia berhutang permintaan maaf kepada saya.

Baca lebih lanjut

Tentang Twitter Circle

Is Twitter Circle (TC) a thing in Indonesia? :mrgreen: I honestly don’t know. Jauh sebelum TC bisa diakses buat netizen Indonesia, sebenarnya saya sudah mendapatkan dan bisa menggunakan fitur itu. Kalo nggak salah dari bulan Maret atau April gitu saya sudah punya opsi tweet for public or circle. Namun karena saya nggak minat, ya saya nggak gunakan dan nggak saya apa-apain juga.

Ngopi sambil scrolling timeline

Sesungguhya Twitter Circle ini mengingatkan saya pada Path. Salah satu platform sosial media yang udah meninggal itu. Dengan TC, kita bisa ngetwit untuk lingkup yang lebih kecil, lebih privat. Yang mana orang-orangnya bisa kita seleksi atau tentukan sendiri. Idealnya tentu orang yang masuk di Twitter Circle adalah orang-orang yang dianggap dekat atau minimal dirasa nggak bakal rese kalau kita ngetwit macem-macem showing our true color.

Meskipun saya nggak menggunakan Twitter Circle (eh, pernah pake 1x sih buat nge-test aja), namun ternyata saya mendapati kalau saya dimasukkan ke dalam TC sobat-sobat netizen. I don’t tweet much , I also don’t have lotta free time to scroll my timeline so when I do, it’s obviously a luxury. Jadi mendapati saya masuk ke dalam TC orang lain itu cukup menghibur. Twit-nya lebih variatif and I feel close to them as a person not only as someone I know in the virtual world. Tapi itu saya.

Namun ternyata nggak semua orang senang lho dimasukkan ke dalam Twitter Circle orang lain. Alih-alih dapat simpati tapi cuitan orang lain yang ada di dalam TC malah jadi bahan ghibah atau bahan olok-olok. It happens a lot. Wajar sih kalau orang nggak nyaman, apalagi kalo yang di-twit di TC kebanyakan keluh kesah penuh bahasa kasar atau umpatan.

Ibarat kata nih, hidup sendiri aja udah berat, lha pas buka TL mau cari hiburan lucu-lucu kok ya malah harus baca kisah sedih atau ranting nggak mengenakkan dari orang lain. Jadi emotionally draining. Ada kan orang yang dari sononya emang energy vampire? Jangankan ketemu, baca cuitannya aja udah bikin capek. Untungnya orang-orang yang memasukkan saya ke TC mereka nggak gini. Untungnya twit di TC mereka seru-seru, misuh pun lucu dan jatuhnya elegan. Hahaha. Hiburan bangetlah. Apes deh yang kena dimasukkin ke Twitter Circle isinya sambat marah-marah doang.

Anw ada lagi nih yang bikin orang nggak senang dimasukkan ke TC… This is even worse from the two previous paragraph…. Nggak ngerasa kenal dekat, nggak mutual-an alias nggak saling follow (cuma 1 orang aja yang follow) tapi dimasukkan ke Twitter Circle. Maksude opo? Bukannya dapat simpati malah dikatain freak. πŸ˜€

Saya? Memilih nggak tau apa-apa. Ignorance is a bliss. Lagian udah paling bener curhat sama teman yang emang mau dengerin kita, alias ada consent. Bukan yang terpaksa baca karena secara sepihak dimasukin ke Twitter Circle

Saying Goodbye

Setelah hampir 1 dekade lamanya menemani, tiba saatnya mengucapkan selamat jalan kepada mobil yang sehari-hari saya gunakan ke kantor dan antar jemput Basti sekolah. Yaris abu-abu kesayangan ini saya panggil Greyish. Bertahun-tahun ia menjadi sahabat saya menembus kemacetan Jakarta, meliuk di tengah himpitan satu meeting dengan meeting lainnya, menemani saya kesasar, belanja, bawa sepeda sampai sekedar cari pisang goreng Bu Nanik di Jakarta Barat sana.

Greyish, Toyota Yaris model Bakpao

Greyish juga yang menyaksikan gimana saya dan Adrian berkembang dari DINK (Double Income No Kids), menjadi orang tua. Membawa saya kontrol ke obgyn, mulai dari hamil muda sampai hamil besar lalu tergopoh-gopoh ke rumah sakit untuk operasi sesar.

Baca lebih lanjut

Nick Naming

Since I was a kid, I have this thing to nick name my possession. I will nick name every single thing I find special. From stuffed animals to a (selective) friend, from laptop to cars, even from pillows to a boyfriend. Every boyfriend got a special nick name from me and only me who got to call him that way (and of course with special tone as well) πŸ˜‰ . Yeah, hard to forget a girlfriend like me when you are loved that way. :mrgreen: Lol.

I think I got this habit from my dad. He has special nick names for his daughters, only daughters; me and my little sister. And that nick name stay in the family only. When communicating to outside world, Dad will use our regular name and back home he’ll use the endearment name again. Yet, I guess I expand the habit wider by nick naming all things I find special. πŸ˜€

Talking about something fun, there’s something funny about this nick naming. I even still laugh to this day recalling it. Rolling back to when I was single after college, I remember I packed the dashboard and the back of my Hyundai Atoz (call her Lafly) with furry dolls. There were about a dozen and I named each of them. Besides for my own satisfaction, I used the stuffed animals as a preliminary test to my future boyfriend. On a 3rd or 4th date, I’d usually introduced my stuffed animals and how they’re special and unique thus I gave them nick names. Then on the 5th or 6th date, I’d asked test their memory: did they still remember at least 5 names of the dolls or not. :mrgreen: Most of them were like giving me that holly-cr*p-I-didn’t-see-this-coming-I-wished-I-paid-more-attention-earlier expression. πŸ˜‚ IMO if you’re interested to me, you’d be interested to my details and things related to me too. Lol. Darn, it was so much fun! There were only 2 people passed the test and one of them is my hubby now. 😝

Nick naming is fun, it gives that butterflies and special feeling and shows the real bonding is.

Pilih Sakit Gigi atau Sakit Hati?

Enggak mau milih salah satu dari itu. Sakit semua soalnya. Patah hati itu menyiksa, pengen cepet-cepet selesai aja sakitnya. Sementara sakit gigi itu tak kalah menderitanya. Semua salah aja gitu.

Untung dapat pain killer yang lumayan oke. 1x sehari dosisnya dan ampuh mengurangi sakit. Cuma kalo udah hampir 24 jam, pas mulai memudar obatnya, lumayan juga ya cenut-cenutnya. Modyar :mrgreen:

Sakit gigi ini kemarin menelan korban. Satu temen ngajak bercanda lewat WA, sekalian curhat juga. Udah cerita panjang lebar, cuma gue tanggepin β€œOK” aja dan dia mulai insecure. Mulai mikir panjang ke mana-mana. Astaga…. Woiiii, sakit gigi iniiii. Untung cepet resolve. Kalo orangnya ngambek, kan susyah gue. Lol.