Ke Gereja lagi Setelah Pandemi

Sudah sebulan ini gereja saya buka ibadah on site alias off line. Aslik, pertama kali nginjek gereja lagi, saya merinding banget 🥺🥺 berkaca-kaca gitu matanya. I was overwhelmed with all these beautiful feelings.

Saat memilih mau duduk di mana, itu aja bikin terharu. Gilak, akhirnya gue balik lagi ke sini.

Saat saya naikkan pujian syukur bareng jemaat Tuhan lainnya, perasaan saya campur aduk. Haru, grateful, nggak percaya, Tuhan baik, semuanyaaaa.

Sudah dua tahun lebih kami sekeluarga ibadah online, ya dijalani aja karena kondisi pandemi. Nggak ngeluh, nggak gimana-gimana. Tapi ternyata begitu bisa gereja on site…. Ambrol. Saya serindu itu ibadah di Rumah Tuhan lagi.

HAPPY SUNDAY!

Tuhan, ajarku berdiam dalam rumah-Mu.
Ajarku berharap penuh selalu pada-Mu.

Lebih dari Pemenang

It’s beeen a busy week. Deadline susul-susulan tak berhenti. Ada meeting penting di hari Selasa yang persiapannya saja baru selesai jam 2 dini hari. Cuma tidur 4 jam dengan mata panda. Oh tentu saja kopi pun habis bergelas-gelas. But all was paid off. I nailed the meeting. Yeay!

Nggak berhenti di situ, ada aja kerjaan baru dengan dinamikanya sendiri. Naik turun banget. Sampe gue mikir, ini kenapa lepas dari mulut buaya kok ya masuk ke mulut harimau? 😅

Namun Puji Tuhan terlalui semuanya. Bersyukur dan bersyukur selalu. Sadar banget, ini nggak akan terlampaui kalo saya nggak punya support system yang baik.

Tuhan baik. Hidup nggak selalu mulus. Ada masanya sulit, susah, penuh rintangan tapi Tuhan sediakan pertolongan. Selalu. Dan akhirnya keluar sebagai pemenang. Jika Allah di pihak kita, siapa dapat melawan?

Muhammad Ihsan

Saya memanggilnya Imed. Ia beberapa tahun lebih tua dari saya. Kenal karena Imed sahabat baik seseorang yang pernah dekat dengan saya (halah bilang aja mantan pacar, Ka! :mrgreen: ). Namun Imed bukan sekedar bro-nya si mantan, selama 4 tahun pacaran sama si mantan, Imed telah menjadi sahabat saya juga. Lho, kok bisa? Ya bisa, karena emang Imed sebaik itu orangnya. Ringan tangan, nggak pernah marah dan bisa diandalkan. Paling, bangun siangnya aja yang jadi kurangnya dia 😀

Saya ingat setiap kali ada missed call dari saya, Imed pasti akan telepon balik nanyain ada apa. Tidak pernah tidak. Sesibuk apapun pasti akan telepon balik. Satu kali dalam perjalanan ke kampus, donpet saya ketinggalan pas isi bensin. Parahnya, saya tahu setelah “mulai dari nol ya” sudah disuarakan. Ehgila, gimana bayarnya? Si mantan yang waktu itu masih jadi pacar, rumahnya jauh, 20km dari tempat saya isi bensin. Satu-satunya yang deket ya Imed, karena kampus saya dekat rumahnya Imed. Saya telepon dia. Enteng dia bilang, “Gue ke situ. Bilang petugasnya suruh tunggu.” Lalu kucuk-kucuk dia datang jalan kaki nyerahin duit ke saya yang ada di balik setir mobil 😀 . Kontras banget dah tapi kalo diinget-inget jadi lucu.

Kali lain, sobat saya, Arnilah mendadak pingsan saat kuliah dan mesti masuk IGD. Arnilah anak perantauan, nggak pegang duit ekstra, sementara duit saya cuma cukup buat bayar jaminan IGD. Di tengah kebingungan, saya telepon (mantan) pacar yang ternyata lagi ada di rumah Imed. Nggak berapa lama mereka datang dan Imed langsung bayarin itu biaya RS semuanya. Padahal Imed nggak kenal Arnilah, yang dia kenal saya. Tapi memang ia nggak pernah hitung-hitungan. Segitu baiknya dia. Teman saya dianggap temannya dia juga.

Baca lebih lanjut

That I Wish I Have a Husband Moment from Jane Fonda

Pagi tadi saya auto ngakak baca cuitan @juliamoserrrr soal Jane Fonda yang bobok pake gaun Met Gala karena gak ada yang unzipp bajunya. New Tweet, old gram yet still relatable. F*cking Queen, her grams are so relatable :mrgreen: Hampir semua baju-baju saya ritsleting-nya di belakang. Bukan cuma unzipping yang jadi masalah tapi zipping tuh juga persoalan banget. Kalau lagi di rumah, tentu perkara baju dengan ritsleting di belakang tuh easy peasy, ada suami dan anak yang bisa bantuin. Yang jadi masalah tuh kalau lagi dinas keluar kota.

Saya ingat tahun lalu saat ke Jayapura, saya nginep sendirian. Kolega ada di lantai berbeda sementara saya sudah ditunggu buat rapat dengan ASN setempat. Saya telepon kolega yang di lantai lain tapi nggak ada yang diangkat. Mandi kali. Putus asa, akhirnya saya membuka pintu celingak-celinguk cari siapa yang bisa dimintain tolong buat zipping ini ritsleting baju. Beruntung di sisi kanan, eeeh keliatan ada ibu-ibu Persit lagi nutup pintu kamarnya. Sambil bertelanjang kaki, buru-buru saya keluar dan minta tolong untuk ritsleting-in baju. Nggak pake malu, nggak pake sungkan. Hajar bleh, GUE MINTA TOLONG RITSLETING-IN BAJU KE IBU-IBU PERSIIIIT YANG NGGAK GUE KENAL. Huahahaha.

Baca lebih lanjut