That Invisible Labour  

Pekan lalu resmi saya nobatkan sebagai pekan huru-hara bagi saya dan anak saya. The struggle is real. Kenapa? Karena di minggu itu, segala macam agenda numplek-plek jadi satu kayak katering kondangan. Coba cek list-nya:

  • Ada turnamen futsal
  • Ada ujian gitar klasik
  • Persiapan kompetisi marching band di bulan Desember
  • Persiapan recital gitar klasik di bulan November
  • Persiapan try out TKA

Lha, itu kan yang sibuk anaknya? Kenapa ikutan bilang kalau kamu juga sibuk, Ka?

Hehehe. Sebagai seorang ibu, ada satu fenomena tak kasat mata yang namanya invisible labour. Iya benar, anak saya yang capek ngejalanin semua kegiatannya di garis depan, tapi di balik layar ada saya nih, emaknya yang begadang mikirin sistem pendukungnya. Mulai dari:

Baca lebih lanjut

Hal Bodoh yang Menyenangkan

Doing things without any reason, just because….

  • Beli kopi, duduk bengong doing nothing. Bukan nggak produktif tapi self-preserving.
  • Nyetir masuk ke tol ke arah Bogor yang nggak macet jadi gue punya rute beda dari biasanya. Pasang musik lalu nyanyi kenceng-kenceng di mobil. Lha senang 😊😊
  • Parkir miring. Hahaha this is out of ordinary karena gue punya kebiasaan parkir sampe posisinya presisi but this time I let it go. Sesekali nggak sempurna gpp kok. Hehehe.
  • Makan mie goreng pake nasi. Huahahaha. This is so not me, but I did it anw and ternyata enak. 😁😁
  • Nyobain MRT pertama kali di Jakarta. Um kata orang sih a bit too late hahaha. Tapi ya gpp ternyata pengalaman pertama naik MRT itu seru dan senang. Mana pulangnya bawa stamp pula.

I guess I can do things simply because I wanted to. Nggak pake ada proposal dulu di kepala, nggak harus optimalin hari atau sesuatu yang ada di situ, nggak harus ada added value. Sebab hidup bukan harus jadi proyek yang maksimal, kadang dijalani aja juga udah cukup. Dan mungkin… Hal bodoh yang paling menyenangkan yang bisa gue lakuin dalam beberapa bulan ke depan adalah membiarkan satu hari berlalu tanpa menghasilkan apa-apa dan nggak lagi ngerasa bersalah karena nggak produtif. 💙

Kebetulan yang Bukan Kebetulan

“Coincidence is God’s way of remaining anonymous.” — Albert Einstein

Kadang saya ngerasa kalau hidup ini penuh sama plot twist yang random banget tapi surprisingly sweet. Kayak, literally, ada aja hal-hal yang datang di waktu yang paling pas, even ketika saya nggak lagi minta atau malah udah lupa kalau saya punya barangnya dari bertahun-tahun lalu. Itu sih yang lagi saya rasain banget akhir-akhir ini.

Juli tuh rasanya sibuk bener deh, darderdor ke sana ke mari. Tapi di tengah kesibukan itu, Tuhan kayak sengaja ngasih kejutan-kejutan kecil yang meaningful. Kalau dipikir-pikir, are these really just coincidences? Atau jangan-jangan, emang everything happens for a reason? Ada deretan kebetulan manis yang bikin saya senyum-senyum sendiri selama bulan Juli lalu.

Kebetulan ke-1: Raden Mandasia dan Batal Bangkrut

Baca lebih lanjut

Five Questions

A friend sent me these 5 questions in the midst of meeting while waiting for the C level coming. So, sure, why not answering it 😝

What is something you’re looking forward to?

Liburan ke pantai sambil menyesap spicy margaritha and reading books. (Gosh, I was 2 books behind my goodreads challenge this year)

What is a worry that’s currently on your mind?

My health. It’s been my battle since last year and stress me out much. And also, the fact that I have to take simultaneous meds in some period of time.

Baca lebih lanjut

Slow Afternoon

There’s one thing I’ve learned along the way, though, is how much it helps to have someone who stands with you. My husband has been that for me. He has been that quiet strength for me. On days when mood swings and anxiety (due to my health) quietly take over the rhythm of life, it takes a special kind of person to meet you with patience and kindness. Someone who listens without rushing to fix things, who laughs in tears with you over back and forth reels that we sent to each other, or who gently pets the cat – even after she has scratched another part of our sofas.

My inner circle friends have been that for me as well. Those whom I can poke at any time just to rearrange my heart, suddenly coffee or hours of gibberish just to clear the fog in our heads.

I’m so thankful to have hubby and close friends by my side, and I sincerely hope you have people like that too.

Baca lebih lanjut

Thankful

Menjelang akhir tahun ini, saya sering bertanya ke diri sendiri: apa yang paling saya syukuri dari tahun ini?
Jawabannya sederhana: support. Dari banyak arah, dalam banyak bentuk.

Di pekerjaan, saya belajar lagi bahwa tim bukan sekadar orang-orang yang bekerja bersama, tapi orang-orang yang memilih untuk saling menopang. Saya bersyukur memiliki tim yang solid. Pernah, suatu kali tim kami ketiban kerjaan tim lain dan itu adalah project Rorojongrang. Terbiasa membuat timeline dan distribusi pekerjaan (tanpa pushing, karena itu bukan gaya saya), saya sampaikan ke tim risiko jika tugas ini tidak selesai dan saya prep tim jika karena ini maka kami semua kena getahnya. Saya kira mereka akan nggrundel (siapa coba yang seneng ketiban kerjaan tim lain?), ngedumel atau mundur, namun jawaban mereka mengagetkan saya.

Baca lebih lanjut

Kaset dari Bapak

Lagu “Julia Says” milik grup band Skotlandia Wet Wet Wet mengalun pelan dari stasiun radio 95.1 FM bersamaan ketika saya menekan tombol start di mobil. Lagu lawas dari pertengahan tahun 90an saat saya masih SMP dulu. Saat masih mengenakan seragam putih biru. Lagu bukan sembarang lagu namun lagu yang sarat membawa kenangan akan kasih sayang bapak.

Dulu sepulang kantor bapak sering menyodorkan sebuah kaset berisi kompilasi lagu-lagu terkenal di masa itu. Bapak paham, remaja putrinya mulai suka lagu-lagu barat kekiniaan, bukan lagi lagu anak-anak lagi.

Baca lebih lanjut