Learning How to Say No

Iโ€™m still learning the first line, comfortably. Garis bawahi kata comfortably alias nyaman. Dididik sama orang tua untuk harus selalu patuh dan kena omel abis-abisan kalo enggak nurut, bikin saya nggak nyaman buat menolak.

Saya terbiasa untuk speak up apa maunya saya dan nggak ada masalah dengan itu. Namun begitu ada orang yang minta tolong, ambyar semua. Saya nggak nyaman menolak. Sering merasa bersalah atau nggak enakan gitu kalo ada yang minta tolong. Say No itu tingkat kesulitannya (buat saya) sama kaya kalau saya lagi bikin itinerary liburan keluarga ke Korea atau itinerary jalan-jalan ke Kamboja :D. Ribet. Baca lebih lanjut

Best Songs from End of 90s to Early 2000s (Forever in my Playlist)

Lagu-lagu Enak dari Akhir 90an sampai Awal Tahun 2000an

Itโ€™s not the songs, itโ€™s the memories that comes within!

Beberapa waktu lalu saya membuat playlist lagu di akun Spotify saya berisikan lagu-lagu lawas dari zaman kuliah dulu. Lagu-lagu lama yang hanya dengan satu nada saja terdengar bisa membawa kembali seribu kenangan. Lagu-lagu asyik yang bisa bolak-balik saya dengerin kasetnya dan sering saya request juga di radio (ada yang pernah pesan-pesan lagu di radio juga? :mrgreen: ). Lagu-lagu yang bikin jantung berdegub nggak biasa karena liriknya seolah ditulis khusus buat saya ๐Ÿ˜€ hahaha. Well, we mustโ€™ve have some songs that just perfectly described our life, wishes or dreams, right?

So, these are the songs immediately come to my mind and I inserted it in my playlist with no particular order (along with the personal memories within). Yes, I am sharing you pieces of myself! Baca lebih lanjut

Begini Rasanya Patah Hati di Usia Kepala 3

Saya nggak pernah menyangka akan merasakan patah hati lagi di usia kepala 3, di saat segala hal terasa sudah sangat settle. Ya ampun, patah hati itu adalah suatu keadaan di mana suasana perasaan naik turun tidak terkontrol. I hate that state of heart. Mau ngapa-ngapain rasanya nggak enak. Buat saya, patah hati itu campuran perasaan menyesal dengan banyak pertanyaan โ€œwhat ifsโ€ hingga sedih karena kehilangan.

Dan jujur…. Sudah lama sekali saya tidak mengalami gejolak perasaan seperti itu.

Semenjak menikah di 2008 lalu, hidup saya stabil. Masalah terkait hati skalanya kecil, nggak sampe mengguncang riak kehidupan. Semua bisa diselesaikan dengan berkomunikasi; duduk semeja sambil makan makanan kesukaan lalu bicara. Mungkin butuh lebih dari 1x makan bersama, mungkin butuh beberapa kali pelukan manja tapi pada intinya semua masalah bisa diselesaikan. Semua masalah ada penyelesaiannya. Dan saya sudah terbiasa dengan pola seperti itu. Itu membuat saya nyaman. Ah manusia, pola berulang memang bikin nyaman ya. :mrgreen:

Baca lebih lanjut

Slowing Down a Little Bit

So I havenโ€™t feeling well for the past four weeks. It started early December then getting worse right after Christmas. Nggak jelas sakitnya apa, pokoknya cepat banget nge-drop aja. Pemicu sepele bisa bikin badan ringkih banget. Salah makan sedikit langsung diare 5 hari (padahal biasanya juga gpp makan makanan itu). Atau kecapean sedikit terus sesak napas, batuk lalu asma kambuh. Nah, ini nih yang repot. Begitu asma kambuh biasanya agak lama buat pulih.

Akhirnya ya udah, 2 minggu terakhir ini istirahat aja di rumah nggak ngapa-ngapain. Satu yang saya nggak sadari ternyata beristirahat total itu menajamkan segala macam indera perasa saya.

Baca lebih lanjut

Bucket List: My 40 Things to Do Before I Die

So, I still have couple of years before I turn 40 and was thinking that having list of things I wanna do would be fun. I made it!

Awalnya saya menuliskan judul artikel ini โ€œ40 Things to Do Before 40โ€ tapi setelah saya pikir-pikir, kenapa saya membatasi keinginan saya sampai usia 40 saja? Apakah sesudah umur 40 trus nggak boleh punya bucket list lagi? Apakah sesudah usia 40 tahun maka hidup saya akan berhenti dan nggak ada impian yang bisa dikejar lagi? and so on. Ribet. Hahaha. Pemikiran itu akhirnya sukses membuat saya mengganti judulnya menjadi My 40 Things Bucket List to Do Before I Die. Sebenarnya saya pernah menuliskannya di blog saya yang satu lagi tapi itu versi consice-nya. Yang ini versi komplitnya. Baca lebih lanjut

Spread Love Not Hate

“Kamu tau apa arti kafir?””Tidak,” jawab saya bingung kenapa tiba-tiba saya ditanyai apa arti kafir.

“Sekarang ini kata kafir sudah dibuat lebay sama para politisi. Kalo kamu tidak percaya sama iman saya ya kamu itu kafir! Sama aja, kamu memanggil saya domba tersesat kan?” Katanya dengan nada bertanya yang agak meninggi.

Saya hanya tersenyum mendengarnya. Ada logical fallacy di sini; terjadi pengambilan kesimpulan secara deduktif dengan menggunakan frame pemikiran yang diinginkan; karena ia memanggil saya kafir maka saya memanggil dia domba tersesat? Lha kok jadi ia yang memutuskan hal itu? Memangnya ia itu saya?

Tapi yang terlebih penting dari itu semua adalah soal toleransi. Saya bersyukur saat masih SD dulu diajari oleh guru PMP untuk dapat bertenggang rasa dan memilah mana perkataan yang bisa dikatakan kepada semua orang dan mana yang untuk kalangan sendiri. Balik ke soal kofar kafir… Tidak, saya tidak tersinggung. Ini justru jadi tambahan reminder buat saya. Kalau kata John Lennon dulu, “marilah kita menjadi orang yang lebih banyak menyebarkan cinta daripada kebencian.”  Kata-katanya emang lawas, tapi masih kekinian buat digunakan. Ada penggemar John Lennon di sini?

Note: Ini foto lama yang diambil di Kalibiru, Yogyakarta tahun lalu. Fotonya emang lama tapi kisahnya sih baru-baru aja terjadi.

Apa Kabarmu di Sana?ย 

Dear Rosita,

Hai kamu.. Apa kabarmu di sana? Tadi aku lelah dan penat banget di kantor. Otw pulang nyetir sendirian trus radio keparat di mobil muterin lagunya Oasis, Don’t Look Back in Anger. Lagu kesukaanmu, Ros. Inget nggak pas pensi bulan bahasa di kampus, kita berdua duduk di pantai lalu kayak orang bego nyanyi teriak-teriak lagu ini dari pinggiran panggung?

Kamu tau, Ros? Begitu lagu itu berkumandang, tanpa sadar jemari ini otomatis memencet nomor ponselmu. Karena aku kangen sama kamu, Ros. Kangen ngobrol dan cerita-cerita gaje. Tapi kenapa nggak ada nada sambung? Kenapa yang ada hanya suara voice mail yang bilang nomer telepon yang anda putar salah?! Baca lebih lanjut