Saying Goodbye

Setelah hampir 1 dekade lamanya menemani, tiba saatnya mengucapkan selamat jalan kepada mobil yang sehari-hari saya gunakan ke kantor dan antar jemput Basti sekolah. Yaris abu-abu kesayangan ini saya panggil Greyish. Bertahun-tahun ia menjadi sahabat saya menembus kemacetan Jakarta, meliuk di tengah himpitan satu meeting dengan meeting lainnya, menemani saya kesasar, belanja, bawa sepeda sampai sekedar cari pisang goreng Bu Nanik di Jakarta Barat sana.

Greyish, Toyota Yaris model Bakpao

Greyish juga yang menyaksikan gimana saya dan Adrian berkembang dari DINK (Double Income No Kids), menjadi orang tua. Membawa saya kontrol ke obgyn, mulai dari hamil muda sampai hamil besar lalu tergopoh-gopoh ke rumah sakit untuk operasi sesar.

Baca lebih lanjut

Nick Naming

Since I was a kid, I have this thing to nick name my possession. I will nick name every single thing I find special. From stuffed animals to a (selective) friend, from laptop to cars, even from pillows to a boyfriend. Every boyfriend got a special nick name from me and only me who got to call him that way (and of course with special tone as well) πŸ˜‰ . Yeah, hard to forget a girlfriend like me when you are loved that way. :mrgreen: Lol.

I think I got this habit from my dad. He has special nick names for his daughters, only daughters; me and my little sister. And that nick name stay in the family only. When communicating to outside world, Dad will use our regular name and back home he’ll use the endearment name again. Yet, I guess I expand the habit wider by nick naming all things I find special. πŸ˜€

Talking about something fun, there’s something funny about this nick naming. I even still laugh to this day recalling it. Rolling back to when I was single after college, I remember I packed the dashboard and the back of my Hyundai Atoz (call her Lafly) with furry dolls. There were about a dozen and I named each of them. Besides for my own satisfaction, I used the stuffed animals as a preliminary test to my future boyfriend. On a 3rd or 4th date, I’d usually introduced my stuffed animals and how they’re special and unique thus I gave them nick names. Then on the 5th or 6th date, I’d asked test their memory: did they still remember at least 5 names of the dolls or not. :mrgreen: Most of them were like giving me that holly-cr*p-I-didn’t-see-this-coming-I-wished-I-paid-more-attention-earlier expression. πŸ˜‚ IMO if you’re interested to me, you’d be interested to my details and things related to me too. Lol. Darn, it was so much fun! There were only 2 people passed the test and one of them is my hubby now. 😝

Nick naming is fun, it gives that butterflies and special feeling and shows the real bonding is.

Pilih Sakit Gigi atau Sakit Hati?

Enggak mau milih salah satu dari itu. Sakit semua soalnya. Patah hati itu menyiksa, pengen cepet-cepet selesai aja sakitnya. Sementara sakit gigi itu tak kalah menderitanya. Semua salah aja gitu.

Untung dapat pain killer yang lumayan oke. 1x sehari dosisnya dan ampuh mengurangi sakit. Cuma kalo udah hampir 24 jam, pas mulai memudar obatnya, lumayan juga ya cenut-cenutnya. Modyar :mrgreen:

Sakit gigi ini kemarin menelan korban. Satu temen ngajak bercanda lewat WA, sekalian curhat juga. Udah cerita panjang lebar, cuma gue tanggepin β€œOK” aja dan dia mulai insecure. Mulai mikir panjang ke mana-mana. Astaga…. Woiiii, sakit gigi iniiii. Untung cepet resolve. Kalo orangnya ngambek, kan susyah gue. Lol.

Ngeri-Ngeri Sedap

Kamu sudah ponton film besutan Bene Dion Rajagukguk; Ngeri-Ngeri Sedap? Saya sekeluarga sudah nonton dari awal-awal launching. Sekeluarga as in bokap-nyokap lengkap sama anak cucunya :mrgreen: Bapak pesan 2 row bangku di bioskop sekaligus. Kami nonton bareng sepulang gereja dan sambil nunggu film-nya mulai, itu Bahasa Batak terdengar membahana dari seluruh penjuru bioskop. Keknya 1 bioskop isinya orang Batak semua deh itu. Huahaha.

Asli, ini film tuh mengharu biru banget. I COULD RELATE WITH ALMOST EVERY ASPECT IN THE MOVIE. Film dibuka dengan soundtrack Attar Didokkon, ini lagu bokap banget pas masih muda. Bokap suka setel lagu ini kalo pagi. Bahkan saya masih ingat nama penyanyinya dulu: Trio Ambisi dan kasetnya berwarna hijau πŸ˜€ Hahaha.

Baca lebih lanjut

You Suppose to Turn 42 Today

My heart aches when I opened our college album and recalling all the memories that comes within.

It hurts badly that I cried.

It hurts knowing that our friendship didn’t have a chance to have further rollercoaster joyful-sadness-exciting-fearfully life experience memories.

It hurts so much that we cannot exchange calls after long tiring days in the office.

It hurts painfully we cannot watch our kids grow bigger together. Basti and Vino will be great buddies just like we are (I am sorry, I still cannot write in past tense. I feel like you are still here with me by soul)

It hurts deeply reminiscing what we have gone through together and thinking what we might could’ve done.

Your mom just texted me this pic of us. The day when we graduated together. A bit blurry but I wanna post it here. I still keep in touch with your mom, Ros. I still keep in touch with your fam.

You are more like a sister to me than a friend, Ros. May you Rest In Peace in heaven. I love you always.

Written accompanied by Run of Collective Soul, one of your fave bad. I miss you badly, Ros.

Muhammad Ihsan

Saya memanggilnya Imed. Ia beberapa tahun lebih tua dari saya. Kenal karena Imed sahabat baik seseorang yang pernah dekat dengan saya (halah bilang aja mantan pacar, Ka! :mrgreen: ). Namun Imed bukan sekedar bro-nya si mantan, selama 4 tahun pacaran sama si mantan, Imed telah menjadi sahabat saya juga. Lho, kok bisa? Ya bisa, karena emang Imed sebaik itu orangnya. Ringan tangan, nggak pernah marah dan bisa diandalkan. Paling, bangun siangnya aja yang jadi kurangnya dia πŸ˜€

Saya ingat setiap kali ada missed call dari saya, Imed pasti akan telepon balik nanyain ada apa. Tidak pernah tidak. Sesibuk apapun pasti akan telepon balik. Satu kali dalam perjalanan ke kampus, donpet saya ketinggalan pas isi bensin. Parahnya, saya tahu setelah β€œmulai dari nol ya” sudah disuarakan. Ehgila, gimana bayarnya? Si mantan yang waktu itu masih jadi pacar, rumahnya jauh, 20km dari tempat saya isi bensin. Satu-satunya yang deket ya Imed, karena kampus saya dekat rumahnya Imed. Saya telepon dia. Enteng dia bilang, β€œGue ke situ. Bilang petugasnya suruh tunggu.” Lalu kucuk-kucuk dia datang jalan kaki nyerahin duit ke saya yang ada di balik setir mobil πŸ˜€ . Kontras banget dah tapi kalo diinget-inget jadi lucu.

Kali lain, sobat saya, Arnilah mendadak pingsan saat kuliah dan mesti masuk IGD. Arnilah anak perantauan, nggak pegang duit ekstra, sementara duit saya cuma cukup buat bayar jaminan IGD. Di tengah kebingungan, saya telepon (mantan) pacar yang ternyata lagi ada di rumah Imed. Nggak berapa lama mereka datang dan Imed langsung bayarin itu biaya RS semuanya. Padahal Imed nggak kenal Arnilah, yang dia kenal saya. Tapi memang ia nggak pernah hitung-hitungan. Segitu baiknya dia. Teman saya dianggap temannya dia juga.

Baca lebih lanjut

That I Wish I Have a Husband Moment from Jane Fonda

Pagi tadi saya auto ngakak baca cuitan @juliamoserrrr soal Jane Fonda yang bobok pake gaun Met Gala karena gak ada yang unzipp bajunya. New Tweet, old gram yet still relatable. F*cking Queen, her grams are so relatable :mrgreen: Hampir semua baju-baju saya ritsleting-nya di belakang. Bukan cuma unzipping yang jadi masalah tapi zipping tuh juga persoalan banget. Kalau lagi di rumah, tentu perkara baju dengan ritsleting di belakang tuh easy peasy, ada suami dan anak yang bisa bantuin. Yang jadi masalah tuh kalau lagi dinas keluar kota.

Saya ingat tahun lalu saat ke Jayapura, saya nginep sendirian. Kolega ada di lantai berbeda sementara saya sudah ditunggu buat rapat dengan ASN setempat. Saya telepon kolega yang di lantai lain tapi nggak ada yang diangkat. Mandi kali. Putus asa, akhirnya saya membuka pintu celingak-celinguk cari siapa yang bisa dimintain tolong buat zipping ini ritsleting baju. Beruntung di sisi kanan, eeeh keliatan ada ibu-ibu Persit lagi nutup pintu kamarnya. Sambil bertelanjang kaki, buru-buru saya keluar dan minta tolong untuk ritsleting-in baju. Nggak pake malu, nggak pake sungkan. Hajar bleh, GUE MINTA TOLONG RITSLETING-IN BAJU KE IBU-IBU PERSIIIIT YANG NGGAK GUE KENAL. Huahahaha.

Baca lebih lanjut

Surat Rindu untuk Rosita

Hai Rosita, apa kabarmu di sana? Sebentar lagi lebaran tiba dan biasanya kita sudah sibuk bertukar kabar terbaru atau bercengkerama. Aku biasanya sudah di jalan menuju Jogja dan kamu biasanya bilang, β€œLagi mudik ke Purwakarta nih sama papa dan mama.” Lalu telepon ditutup dengan janji nanti akan bertukar oleh-oleh setelah mudik selesai.

Hai Rosita, apa kabarmu di sana? Aku di sini baik-baik saja. Lebaran kali ini nggak mudik melainkan hanya ingin rehat sejenak menikmati Jakarta. Selama puasa pekerjaan lagi banyak-banyaknya, meski jarang keluar kota tapi hampir tiap hari ada aja yang menguras pikiran dan tenaga. Jadi, jeda cuti bersama ini ingin aku manfaatkan secara maksimal. Aku nggak ingin lelah bermacet-macet di jalan. Cuma pengen balik ke dapur dan sibuk masak-masak lalu menikmati binar bahagia Adrian dan Basti karena makanan kesukaan mereka dimasakkan oleh istri/maminya.

Baca lebih lanjut