Sister by Birthdate

Namanya Ailtje dengan pelafalan /ailce/ atau /ailsa/ tergantung mau dari bahasa mana. Akrab dipanggil Tjeje tapi saya sih memanggilnya Ailsa. Terasa lebih hangat dan lebih mesra menurut saya. Kami kenal saat trip ke Madura berburu batik pesisir bersama Batik Attack di tahun 2012 lalu. Siapa sangka kami punya mutual teman yaitu Venny si Ratu Kuis (dijuluki begini saking seringnya dia menang kuis. Lol). Dan itu menjadi jembatan kedekatan kami.

Persahabatan yang dimulai dari jalan-jalan itu perlahan tapi pasti berkembang. Pepatah lama bilang, cocok atau enggaknya kita sama orang itu bisa ketahuan pas lagi ngetrip bareng dan itu benar adanya! Hehehe. Ohya, ternyata selain batik, kami punya banyak kesamaan lain. Di antaranya sama-sama penggila konser atau festival musik. Bersama dengan Aling (peserta Batik Trip juga) entah sudah berapa konser yang kami hadiri bareng. Udah nggak ingat! Yang pasti kami seringnya ada di kelas festival, selalu janjian sampe jam berapa lalu bergandeng tangan jangan sampe lepas biar kami bisa meringsek masuk.  Tak lain dan tak bukan… Ya biar ada di baris paling depan jadi paling dekat sama penyanyinya… Masih keinget banget gimana kita teriak “aaaawwww” bareng pas liat Katon nyanyi ngedlosor patah hati di panggung.

Baca lebih lanjut

Power of Influence

Tidak seperti biasanya saya ada waktu luang kemarin malam. Ya iyalah, libur gitu lho. Hahaha. Akhirnya jadi ikut Kebaktian Wanita Tengah Minggu. Boleh dong ya sesekali menyegarkan diri dengan siraman rohani yang sejuk? Yang bikin hati adem, enteng dan bahagia? Syukur-syukur kadar keimanan jadi bertambah. Hehehe.

Sejak Februari, ini sudah beberapa kali saya ikutan kebaktian tengah minggu. Masih bolong-bolong banget sih tapi ya mulai rajin. Hehehe. Awalnya iseng tapi lama-lama seru juga. Is this is a sign that I’ll be more religious? I dunno. Hahaha.

Anw, tema khotbah dan diskusi kali ini cukup menarik. Tentang bagaimana perempuan memberi pengaruh kepada lelaki.

Baca lebih lanjut

What’s New?

Her name is Dewi. I’ve known her almost a decade ago on her first move to Jakarta. We rarely meet up but our heart connects in a way.

On her last birthday I wrote her long letters. My first hand-written letter this year. I didn’t understand it but felt like there’s this urge telling me to take special time writing it.

So I took time. In result the Bday gift was late being sent.

Only after I sent it I understand why the universe did that. Dewi said she burst into tears as the letter seems like answering her wanders for the past several months. And by that I knew, I knew we need to catch up over a cup of coffee (our fave liquid. Lol).

So one noon we’re sitting at Pison Coffe next to Grand Indonesia. Catching up. We talked and talked. I told her I was astonished by her and Epat’s achievement, how I was proud of them. Really I am. Then she asked me what’s new about me. So I told her recent occurrences in my life. She smiled. A very warm one and some comforting words uttered afterwards.

A friend knows. A friend understands. Thank you for our friendship Dewi. Thank you for inspiring me to push myself training for a 100 km cycling. I am working on it. ☺️ Thank you for always reminding me that your ears are always ready, by that I know you have my back.

Let’s do it again soon. Make it longer next time. Love you, always. You, cute girl with the bangs! 😊😁

May is a Happy Sway

I thought they forgot but they didn’t ☺️☺️ Though it was no biggy since we were occupied with this church thingy. But when the bouquet came in the evening while I was busy preparing meal for dinner, I couldn’t be more thrilled. They really surprised me.

Aw, you guys…. Thank you 😍 Thank you for the love. Thank you for lotta hugs and kisses I received everyday. Thank you for being my guys.

Mother’s Day 2021

Happy Mother’s Day to all the moms in the world. Who have been working so hard expressing love to family, hubbies and children, sometimes sacrificing own interest for the interest of them. May God grand your heart desire for the best of your family and yourself too.

Putting the pic from Mother’s Day in 2020 here since I didn’t make any post last year. Lol. Once again, Happy Mother’s Day. Let’s sway in happiness, ladies! Our own created happiness. 😍😘

Upgrading Life Partner Criteria

Deru  lalu lalang orang yang bergegas bersliweran di telinga saat saya terlibat percakapan ringan dengan Riki, salah satu teman saya yang berprofesi sebagai translator dan guide berbahasa Spanyol.

“Ka, kapan lu tau kalau pacar lu adalah “the one” atau malah bukan “the one” buat ngejalanin pernikahan?”

Hmmm, dahi saya berkerut mendengarnya. Pertanyaan yang menarik yang dilontarkan di tengah bisingnya lalu lalang orang di di stasiun MRT. Topik beratnya kenapa dilempar pas di stasiun sih, Ki? :mrgreen: Tapi pertanyaan itu tetap saya jawab juga. Baca lebih lanjut

Tips Melalui Malam Pengantin

Siapa sih yang nggak pengen punya malam pengantin yang romantis, yang mesra, menggelora dan menggairahkan banget buat dikenang? Itu semua nggak hadir dengan begitu saja, ada banyak hal yang perlu disiapkan supaya kenangan saat bersetubuh pertama kali itu menyenangkan dan bisa jadi momen bersenggama alias ML yang dikenang sepanjang masa. Persiapannya nggak ribet kok asal tahu apa aja.

Nggak perlu gugup dan canggung saat malam pengantin. Baca sampai selesai tips malam pertama buat pria dan wanita biar pengalaman bersetubuh pertama kalinya memuaskan.

Baca lebih lanjut

Pillow Talk #1

“I love you.”

“I love you more.”

“Well, I love you most.” I grinned as I thought I win this pillow talk.
Yet, just minutes after that he left me speechless.

“I love you forever most. Beat that.” He said it with big smile on his face and kissed me good night.

Couldn’t reply anything I just hugged him tight. That’s the purest act of love, right? 😘

Who Needs Who?

Seminggu lalu saya dirawat di rumah sakit, diopname karena suatu hal. Adakalanya saya down banget dan kesel setengah hidup. Selain mesti menanggung sakit yang nggak ampun-ampunan, saya juga mesti menjalani banyak pemeriksaan. Dari satu pemeriksaan ke pemeriksaan lainnya. Capek. Melelahkan. Dan di saat-saat seperti itu kadang saya jadi ngelantur.

“Kalo aku mati gimana?” Tanya saya ke suami yang sedang duduk istirahat di sofa di sebelah ranjang saya.

Sontak wajah Adrian berubah saat saya menanyakan hal tersebut. “Don’t, please don’t.” Jawabnya singkat sambil berdeham.

“Kenapa?”

Adrian berdiri dan berjalan menghampiri saya. “I don’t think I can live without you.” Suaranya tercekat. Ia diam sambil mengenggam tangan saya kemudian berkata lagi, “Aku… Umm… Aku pernah membayangkan gimana kalau kamu nggak ada lagi di dalam hidupku… Dan aku tahu aku nggak sanggup. Aku nggak bisa.”

It was a short conversation, but it arouses a question to my mind. Who needs who? Selama ini saya selalu berpikir kalau saya yang nggak bisa hidup tanpa suami saya. Saya yang manja ini, yang super duper ceriwis dengan segudang kisah dan selalu senang saat melihat raut wajahnya ketika mendengarkan saya bercerita. Saya yang sering banget minta ini itu. Saya yang gede ngambeknya. Saya pikir…. Saya yang nggak bisa hidup tanpanya. Tapi Adrian? Suami saya itu begitu mandiri, tidak banyak menuntut, saya pikir tanpa saya pun ia akan dengan tenang melanjutkan hidup. (Tentu berduka sebentar, tapi ya abis itu lalu bisa melanjutkan hidup lagi). Tapi ternyata enggak gitu juga… 🙂 Hmmm hidup nikah itu memang begitu ya… Seiring waktu, sejalan dengan banyak momen yang dilalui bersama maka kami menjadi semakin tidak terpisahkan. Menjadi semakin melebur sehingga memang akan terasa lain tanpa kehadiran belahan jiwa. We need each other.

P.S. I love you, suamiku.