Tuntutan Permintaan Maaf

Minggu lalu saya mengajar di salah satu kelas sekolah kedinasan dari kantor saya. Satu mahasiswa yang selalu duduk di depan dan biasanya ceria mendadak berubah 180°. Keceriaannya sirna, duduk pun pindah di belakang dan mukanya muram saja. Saya tanya ke temannya kenapa dan ternyata ia lagi patah hati ditinggal ceweknya.

Ah, saya jadi teringat momen-momen saat kuliah dulu. Perjalanan cinta saya juga nggak mulus. 😀 Masa muda, biasa. Hehehe. Banyak sukanya tapi ada dukanya juga. Saat di usia 23 tahun, yang paling membuat saya bermuram durja adalah ketika saya ditinggal si mantan pacar ke-2. Saya patah sepatah-patahnya saat itu. Bertanya-tanya salah saya apa dan tentu saja saya merasa ia berhutang permintaan maaf kepada saya.

Of course, the feeling that I deserve an apology dragged me into a bitter person. Saya merasa jadi orang paling berhak, merasa dizolimi dan perasaan-perasaan negatif lainnya selalu hadir setiap hari. Saya jadi jarang tersenyum, tidak bersemangat menjalani rutinitas, dll.

Then, long ago I stumbled on this quote. Yeah, I don’t need a closure. I MADE MY OWN CLOSURE. Just like love and respect which are not freely given but it is earned, same thing goes to apology in certain case/matter. You cannot expect people to apologize to you, you’ll get it (if they want to) or never get it. In my case, I never have it until today. And that’s okay. My world doesn’t have to crumble just because my ex didn’t say sorry to me. The world keeps on spinning and the sun keeps on shining.

I stayed long in the phase “I-deserve-a-closure, an-apology-so-I-can-move-on” before I realize that it’s better to change the way I think rather than forcing that idea to my ex. Kita kan nggak bisa mengatur orang lain, yang bisa kita atur adalah cara kita meresponi keadaan yang tidak kita inginkan. Alias yang bisa kita atur adalah diri sendiri.

Lagian, menuntut orang lain minta maaf (ketika ybs tidak mau) itu egois. Lha kok kita masuk yurisdiksi orang lain. Minta maaf atau enggak, kan free will-nya orang yang bersangkutan. Menuntut sang mantan pacar minta maaf sama artinya dengan saya berusaha mengontrol perilaku my ex. Ini sesungguhnya beneran butuh closure atau tuntutan permintaan maaf ini just an act to prove that I still have power in his life? Or worse that I can micromanaging/affect/control him to do what I want?

Once I realized this, I managed to move on without any sorry (which first I thought I deserve to have it). Turned out life was easier like that. Ketika saya fokus mengatur taman hati saya, menyiraminya dengan pikiran-pikiran baik instead of berusaha mengatur taman hati orang lain dengan menuntutnya meminta maaf, ternyata hidup saya jauh lebih menyenangkan. Hati rasanya ringan. And I transformed into someone happy again, full of smiles again.

I wish I can hug that student of mine and told him that everything’s gonna be okay. Yet, I can’t, except if he opens up first. So best thing I can do at the moment, I just wish him well.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s