Nyanyi Bareng dari Speaker Angkot

“Singing is the sound of the soul.” – James Munchie.

Siang itu, saya dalam perjalanan menuju ke bandara untuk pulang ke Jakarta diantarkan seorang teman. Kami berhenti sebentar untuk mengisi bensin dengan cuaca tak pasti: kadang panas, kadang hujan, berganti-ganti tak tentu. Cuma satu yang pasti, pom bensinnya rame! Hehehe. Mobil-mobil berjejer antri untuk isi minyak.

Pas lagi bengong-bengong mengantri, eh ada angkot juga yang ikut antri isi bensin. Nah, ciri khas angkot di Indonesia Timur itu mereka pasang musik keras-keras. Mulai dari di Manado, Sorong, sampai Jayapura, sepengalaman saya, volume speaker pada disetel ke posisi maksimal keknya deh 😅 kayak kalo nggak pol, nggak puas. Lagunya sih bebas. Suka-suka pengemudinya aja. Beruntung kalo lagunya enak atau kita suka dan kualitas sound system-nya oke; kita bisa ikut nikmati. Kalo enggak? Ya silakan merana atau sumpel telinga aja. Hehehe.

Baca lebih lanjut

Recommended Netflix Binge Watching TV Series

I was closing 2021 in 5 different cities within 2 weeks and opening 2022 also in 5 different cities within 2 weeks. That life between plane to plane is not always giddy, lots of times involves early morning at wee hours in the airport, delayed flight due to bad weather or simply restless on board. Yet I found some of these Netflix series help me kill the time. 🙂

Recommended Netflix Binge Watching TV Series

1. The Bold Type

It’s a story of 3 close knit girlfriends with their own uniqueness trying to figure out life while chasing love and career in New York City. Working at the same office: Jane Sloan, a smart writer but up tight, a little bit old fashioned girl. Tiny is her nick name coz she’s short. Then there’s Sutton Brady, a girl from a small town who’s trying to climb her ladder of success. She’s gorgeous and a hardworking person. The last member of the gang is Katie Adison, the privileged girl who knows what she wants coz her parents raised her right.

The Bold Type

It’s so much fun watching them running around the Big Apple with cute inspiring new-fashioned style (well they work in a magazine). Each episode is just refreshing, they’re not just bringing cheesy drama but recent (sometimes global) issues wrapped into very contextual daily life. Personally, it’s a mind opening to certain topics that I’ve always questioned myself of. Geez, watching this series kinda remind me of my own friendship in college. I got this group of girlfriends who were so close and after graduated 3 out 5 girls were of course working in the same office! So, we got to continue giggling over boys and our crushes. Lol. Really, it is a must watch series.

4 Seasons in Netflix, around 45 min each episode.

Baca lebih lanjut

Having Great Friends Everywhere

Here’s the truth, I don’t quite enjoy business trip. Perjalanan dinas itu menguras energi dan yang paling menyesakkan adalah bikin kangen rumah. Meski tidak ribut tapi kadang saya uring-uringan juga dalam hati. Capek.

Namun perjalanan dinas di bulan Oktober 2021 lalu memberikan perspektif baru buat saya. Ternyata perjalanan dinas (selain menyelesaikan pekerjannya) bisa memberi manfaat lain yang sungguh berharga. Membawa saya menyambung silahturahmi dengan banyak teman lama, yang sudah belasan tahun nggak ketemu, yang selama ini nggak ketahuan rimbanya. Bisa berjumpa. Berbagi kabar, meski sebentar. Bertemu muka dengan muka dan saling menatap. Sederhana, tapi sangat bermakna. It’s deep.

Pangkal Pinang, 6 Oktober 2021. Ketemu dengan Ita, teman kuliah dulu. Terharu sekali Ita betul-betul mengusahakan untuk bertemu dengan saya. Kebetulan jadwal di Pangkalpinang lumayan padat, namun ada satu hari di mana saya mengunjungi daerah Sungailiat, kurang lebih 2 jam dari Pangkalpinang dan begitu Ita tau, ia langsung meminta nomer telepon pengemudi untuk mengarahkan kami lewat rumahnya karena searah meski tidak sejalan.

“Pak, tolong lewat jalan **** supaya saya bisa ketemu Eka. Saya udah beli oleh-oleh jadi harus dimampirkan.” Kemudian telepon ditutup. Asli, saya terpana. Dan ketawa kecil sesudahnya. Ita “memaksa” supir buat mampir dengan bilang udah beli oleh-oleh. Bikin nggak enak hati kalau sampai menolak atau nggak mampir, kan? Dan akhirnya setelah kesasar muter-muter beberapa jalan (percayalah jalan-jalan di Sumatera itu beda banget sama di Jakarta, sepinya ajegile dan bikin deg-degan. Hahaha), saya sampai di depan rumah Ita.

Mata saya berkaca-kaca ketika ketemu. Ita masih sama seperti dulu saat kami satu kelas. Masih ceriwis, masih nyablak dan (wow ternyata) makin rame. Sebagai pembanding, saya ini termasuk orang yang rame tapi di samping Ita, saya bakal masuk kategori pendiam. Iya, segitunya Ita ini super talkactive. Hahaha.

Terima kasih sudah menyempatkan ketemu. Akhirnya kami berjumpa lagi setelah 18 tahun. Asli, merinding senang. Perjumpaan yang sangat singkat, tak lebih dari 10 menit, di pinggir jalan pula. Tapi melihat wujud Ita lagi setelah sekian lama, sehat dan gembira, benar-benar menyentuh hati saya.

Meet up with Ocha Milan di halaman kantor orang. Hahaha

Sorong, 14 Oktober 2021. Ketemu dengan Ocha. Begitu Ocha tau saya ada perjalanan dinas ke Sorong, ia menyempatkan mampir. Jadwal saya (lagi-lagi) cukup padat, jadi kami bukan bertemu di lobby hotel tempat saya menginap, tidak juga janjian di suatu kafe/restoran. Ocha nyamperin saya ke kantor salah satu perangkat daerah di Sorong yang menjadi tujuan saya bekerja. Ke kantor orang! :mrgreen:

Terima kasih Ocha udah menyempatkan mampir (ke kantor orang). Akhirnya kita bisa bersua perdana setelah 11 tahun lalu colek-colekan di blog dan sesekali di Twitter. Senang sekali. Puji Tuhan bisa kopdar!

Blue Caffee

Jayapura, 20 Oktober 2021. Ketemu dengan Tiur dan Christian. Pasangan ini adalah teman gereja saya saat masih lajang dulu. Gils, sudah belasan tahun lampau berlalu dari terakhir kali kami ketemu. Kalo nggak salah sekitar 12 atau 13 tahun lalu. Mereka ada di Jayapura memberi diri untuk melayani pendidikan bagi anak-anak Papua. Hati saya tersentuh sekali. Hanya orang-orang dengan panggilan khusus yang mau dan mampu begitu. Meninggalkan gemerlap ibu kota dan mendedikasikan diri sepenuhnya untuk pelayanan.

Terima kasih Tiur dan Christian. Diberkati selalu pekerjaannya dalam ladang Tuhan.

Sebenarnya, masih ada beberapa kopdar lain lagi. Ada yang akan saya tuliskan terpisah, ada juga yang sengaja tidak dipublikasikan 😉 . Satu yang pasti, bisa bertemu langsung, nyata, bukan melalui layar ponsel itu rasanya berbeda. Sungguh berbeda. Apalagi ini adalah teman-teman lama. Jadi saat ketemu lagi, banyak sekali kenangan masa lalu yang ikut terputar.

Oktober, masa di mana setiap minggu akan berada di 2 kota yang berbeda. Puji Tuhan bisa dilalui dengan sehat dan lancar.

Dalam perjalanan pulang setelah bertemu Ita, ingatan saya kembali masa-masa kami kuliah dulu. Gimana kami saling tanya tugas atau sekedar nyanyi-nyanyi gitaran di sela jeda kuliah. Keping-keping memori yang indah.

Setelah ketemu Tiur dan Christian, saya teringat bagaimana kami dulu saat masih muda belia ibadah bareng. Penuh semangat menyanyikan lagu-lagu Hillsong bahkan kadang sampai loncat-loncat segala. Teringat juga bagaimana kami (iya saya juga terlibat hehehe. Gini-gini dulu ikut pelayanan gereja lho) memberi hati melayani anak-anak tak mampu dengan memberikan les tambahan pelajaran secara cuma-cuma. Saya mengajar Bahasa Inggris, Tiur dan Christian mengajar matpel lainnya.

Sementara pertemuan dengan Ocha mengingatkan saya tentang hangatnya blog di masa lalu. Serunya saling meninggalkan komentar di postingan baru teman dan candaan-candaan saat itu.

Ah, bersyukur. Lagi-lagi bersyukur punya kesempatan (yang termasuk langka) sehingga bisa menyambung silahturahmi dengan teman-teman yang tersebar di berbagai daerah Indonesia. Selalu ada hal baik dari suatu hal. Lelah yang datang bersama dengan business trip bisa memberikan manfaat lain yang sangat indah; manfaat silahturahmi.

:* Lots of kisses

Kebahagiaan Natal Tahun Ini

Natal kali ini sungguh berbeda. Terasa sungguh meriah dan sangat semarak di hati. Ada banyak tawa yang kami bagi dan kebahagiaan yang kami sesap. Setelah tahun lalu tidak bisa berkumpul bersama karena ada anggota keluarga yang mesti karantina setelah positif covid, tahun 2021 ini, Puji Tuhan semua sehat dan kami pun bisa ngeriung bareng di rumah mamak-bapak.

Rumah yang awalnya sepi, mendadak jadi riuh kedatangan seluruh anak, cucu, dan mantu. Ada yang ketawa, ada yang teriakan rebutan mainan atau selisih paham. Maklum anak-anak. Hahaha. Kalo udah kumpul, ya gitu deh. Sebentar berantem, sebentar baikan.

Natal 2021

Sementara saya dan adik-adik serta para ipar sibuk saling bercerita atau ledek-ledekan. Yah, walau udah tua tapi kalo kakak-adik mah saling ledekan sampai memutih rambutnya keknya. Hihihi. Saya sungguh menikmati kebersamaan kami di hari perayaan Natal ini. Diisi dengan doa khusuk, banyak tawa, kehangatan keluarga serta makanan enak yang berlimpah. Di sela-sela itu, kami masih sempat manortor dan dapat saweran. Hahaha. Very festive!

Saya pulang dengan hati bingah dan membuncah. Banyak yang saya syukuri di tahun ini, namun yang paling utama adalah kesehatan dari keluarga. Kesehatan mamak-bapak yang semakin menua. Bersyukur sekali bisa menghabiskan banyak waktu bersama mereka terlebih di hari Perayaan Natal ini. Benar banget kata Keluarga Cemara, harta yang paling berharga adalah keluarga.

Anw, selamat Natal buat teman-teman yang merayakan. Semoga bahagia bersama orang-orang yang disayangi. Dan selamat berlibur buat semuanya. God bless!

Feel Good Happy Moments

I feel a bit overwhelmed the past several months with the job, pandemic (who doesn’t?) deadlines and many other things. So I thought I’d post some “feel-good-happy-moments” pics here. 🤗🤗 Just a little reminder that eventhough sometimes life seems hard but in overall, it’s good! It’s been so f**king good ☺️

Speaker at a workshop in Bali attended by mid-level official as the participants and also speaker at several other Indonesian ministries. It’s an honour.

Received this beautiful post card from Manish Deo, an Indian friend I met years ago. You have no idea how my expression was getting this card knowing he sent it from the highest post office in the world! I feel wonderful, very special, and honoured, knowing someone remembers me during his trip and even putting extra effort by writing personal message and sending it like an old school. Sweet. This warmth my heart. Thank you!

Yeay for a sweet escape to Jogja. A simple family quality time yet very recharging. Did nothing but sleep, eat, swim, repeat with lotta laughter and love in between. I’m blessed! 🤗

Found the right conditioner. Say hello to my long smoother hair 🥰

Btw I get accustomed receiving compliments from various people in various occasions. I usually replied with simple “thank you”. But guess what, sometimes a frequently received compliment hits different when it was said just at the right time. Recently someone texted me, “Kamu cakep itu default.” I didn’t expect that and it made my day. So I am gonna include that as one of the happy moment here. Appreciating the right time of saying it.

Now, October has arrived and it’s gonna be another busy like a bee time. Oh hi, well… October let’s roll together.

Putting the Fun Between My Legs

Don’t you love the endorphins kick after exercising?

I like the sweats drop in every pedal I made,

I love the relaxed and happy feeling under the sun,

I like to see things through different eyes (from a moving bike),

But most of all, I like the small joy every ride brings in. For every pedal is a tiny holiday, a boost of good mood. 🥰🥰

Another 70km-ish ride!

Happy Sunday beautiful people! May you have wonderful day filled with lots of happiness. ☺️

My Ups and Downs Relationship with God

We all have that period of time where we simply decided not to follow any rules but ours. I grew up in a very strict Christian family as strict as my mom reads the bible every dawn and my dad would woke us all of his children with a loud religious songs from Radio Pelita Kasih at 6 AM. :mrgreen: So loud that I thought I gone deaf. Lol. Not to mention that we go to church every Sunday (no excuse or you’d get scholded) also attended mid week service. Well, those were not without reasons. Lots of our relatives from dad’s side are priests or pastors and even there’s a nun from my mom side. So yeah, religious activities and its values are something me and my siblings breath in everyday.

Those values lead my life well and keep me on track. I am forever grateful that my dad was putting a solid fondation for me so I wasn’t lost. But to certain point of life, I got bored. I felt like being restrained. In almost every situation, I always asked myself the WWJD question. You know, when in doubt, ask yourself, “What Would Jesus Do?” :mrgreen: So then I always behaved, always become the teacher’s pet and bosses’ fave person or something like that. To the point that I couldn’t enjoy my life freely the way I want it.

Baca lebih lanjut

(Mbatin) Dari Jendela Pesawat

Saya sedang asyik memandangi awan yang bergelung-gelung di angkasa dari jendela tempat saya duduk ketika terdengar suara ribut-ribut dari arah lorong di bagian depan pesawat. Seorang penumpang bersitegang dengan pramugari. Saya geleng-geleng kepala melihatnya. Di masa pandemi gini, saya pikir orang akan lebih berempati satu sama lain atau paling enggak hemat-hemat energi, ternyata perkiraan saya salah. Setelah sekitar 10 menit mendengarkan argumen keras, akhirnya sang penumpang nurut sama pramugari (ya jelas nurut, wong salah). Tapi hal itu nggak menyurutkan sifat angkuhnya, ia berjalan sambil terus memaki.

Lagi-lagi saya geleng-geleng kepala sambil mbatin (ngomong dalam hati) pake Bahasa Jawa, “Jatuh’o, kesandung’o, mbencekno tenan.”  Yang kalau diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia jadi, “Moga-moga jatuh kesandung, nyebelin bener sih.”

dari jendela pesawat

Dan tiba-tiba terdengar suara gedubrak. Orangnya-beneran-jatuh. Saya kaget, saking kagetnya sampe nutup mulut pake dua tangan. Tapi saya bukan kaget karena orangnya jatuh tapi kaget karena teringat pesan dari Simbah Putri yang wanti-wanti bilang agar saya jangan sembarangan mbatin. Kasihan katanya. Simbah Putri itu pribadi yang luar biasa, firasatnya tajam dan paling mengerti saya. Dulu waktu kecil, kalo pas lagi diajak ke pasar dan saya nggak sreg sama sesuatu, beliau selalu tahu kalo saya habis mbatin dan kejadian tepat di depan mata.

Yang paling parah, pernah mbatin motor senggolan sama mobil karena yang naik motor nggak sopan sama Simbah. Untung abis senggolan, yang naik motor gpp meskipun motornya rada ringsek, tapi tentu saja saya jadi kena tegur. “Ojo mbatin ngono, tah, Ka. Dongake sing apik-apik wae gen sing luwih apik balik nggonmu.” (Jangan mbatin gitu, doakan yang baik-baik saja biar hal yang lebih baik lagi berbalik kepadamu).

Akhirnya saya jadi jarang “mbatin” karena sekalinya mbatin sering banget kejadian.

Suara gedubrukan penumpang yang berusaha bangkit setelah kesandung membawa saya kembali ke masa kini. Akhir-akhir ini hati saya nyeri karena ada orang dengan sengaja nyinyir, memaki dan menyakiti pake mulutnya yang tajam. Sudah hampir 9 bulan hal ini berlangsung.

Awan putih bak kapas terus bergulung-gulung di angkasa menjadi saksi bisu betapa hati ini terpicu untuk mbatin dan ngucap yang enggak-enggak. Tapi teringat pesan Simbah Putri untuk mendoakan yang baik-baik, akhirnya saya cuma mbatin gini…. “Semoga gak ada momen di mana gue jadi sampe ngucap, you deserve it, mulutmu jahat, hatimu penuh iri dengki benci sih.”

Semoga.

.

.

10.10 AM.

Ditulis di atas pesawat dalam perjalanan Jayapura-Jakarta