Mama I Love You

I have an on and off relationship with my mom. Yeah, just like many other mother-daughter relation, during my teenage and young adult time I argued with her a lot. And mom objected plenty: about my mini skirt choices, my male friends or the breached curfew. Differ than my dad whose being protective by sending people or making sure I had someone who’s eyeing me, mom would use words. Flying out her teeth like speeding bullet: fast, sharp and hurtful.

Now, I have a good relationship with my mom. We went on a trip together exploring Vietnam and Cambodia, Singapore also Australia. Mom also takes care of my son whenever I needed to go for business trip but still with our current state, I still thought I had a terrible teenage year.

Anw as you can read from my blog posts, lately I journal a lot about my childhood involving her. And I am reminded that actually I had lots of good times with my mom. It’s funny how my mind tricks me to stick on the bad time teenager memories than the sweet childhood one whilst tbh I had even way better memories with her.

Baca lebih lanjut

Ngadi Saliro, Ngadi Busono

Saya sering mengantarkan mamak ke modeste untuk menjahitkan baju saat kecil dulu. Busana mama saya banyak banget dan rata-rata luar biasa: kain sutra yang dijahit halus menjadi kebaya (lengkap dengan selendang dan bross-nya), songket dengan taburan payet cantik yang memesona hingga pakaian-pakaian kerja batik yang anggun.

Selain busana, mama saya juga senang memesan sepatu. Saya ingat, sering kali sepulang gereja kami pergi ke tukang sepatu di daerah Cipinang. Mama memesan customed shoes berbahan kulit dengan model dan warna yang ia sesuaikan ke pakaian yang ia jahitkan. Kalau mamak lagi ada rejeki banyak, saya juga boleh memesan sepatu di sana. Whoa, buat anak kelas 4 SD ini sungguh menyenangkan sekali! Punya sepatu model unik dan eksklusif: cuma ada satu, saya doang yang punya. Hehehe. 😛

Baca lebih lanjut

Real Joy after Shifting Paradigm

Sekitar 3 mingguan ini, pekerjaan dan kehidupan pribadi saya lagi sibuk-sibuknya. Demanding. Yeah, kayak pacar posesif aja LOL 😛 Selesai rapat jam 8 atau 9 malam itu hal yang biasa. Lalu pulang terus pas sampe rumah masih mengerjakan peran sebagai ibu dan istri -baca buku bareng anak atau sekedar menyiapkan cemilan malam buat suami-. Abis itu baru bisa punya waktu untuk diri sendiri. Pas akhir pekan juga sulit istirahat karena ada aja keluarga yang melahirkan, sakit, kedukaaan dan macem-macem lagi lainnya.

Saya sempat limbung for I felt there are so many things I have to do, yet there’s so little time. Gerah, pengennya ini semua cepet selesai aja. Akhirnya saya buat to do list for both my job and personal life. Total ada 23 item yang harus saya kerjakan mulai dari bikin analisa, review draft aturan, rapikan instrument survey sampai list beli kado dan jadwal jenguk teman atau keluarga. Padat, padat, padaaat. Pengen buru-buru dikelarin. Pengen punya ritme hidup normal seperti sebelumnya. Jadiiiii…. Itu 23 item saya kasih deadline mesti kelar dalam 1 minggu 😀

And…. ZONK! :mrgreen: Hahaha. Saya nggak hepi, burn out berada dalam tekanan bahwa ini semua mesti cepat kelar.

Baca lebih lanjut

I Love the Way You Combed My Hair

Sedari kecil rambut saya selalu panjang. Hanya 1x saja rambut saya dipotong bob pendek sebatas tengkuk saat kelas 1 SD. Sebelum dan setelahnya, bahkan hingga saat ini rambut saya selalu melebihi pundak. 😊

Yang menyenangkan dari rambut panjang adalah rambut jadi bisa dimacem-macemin. Yeay! Back to kindergarten and elementary, I was one of those kids with stylish hair in school 😂. Sudah populer dari kecil, thanks to my mom! Lol.

Baca lebih lanjut

Antara Nyoblos, Ngambek dan Traktiran

Tepat dua minggu lalu, Rabu, 14 Februari 2024, bertepatan dengan hari kasih sayang, saya telah menunaikan kewajiban sebagai warga negara bersama dengan penduduk Indonesia lainnya yang telah cukup umur: Nyoblos, bok!

Waktu itu, hujan cukup deras mengguyur Jakarta dan kota-kota lainnya di seluruh Nusantara mulai dari Selasa malam hingga pagi. Akibatnya, genangan air bahkan banjir terjadi di beberapa tempat. Cuaca dingin dingin ditambah aroma therapy yang nyaman di dalam kamar, asli bikin saya mager. Males banget keluar dari bawah selimut. Sambil bermalas-malasan, saya cek WAG keluarga. Bapak saya dengan semangat ’45 sudah rame saja mengingatkan buat datang ke TPS.

Sedikit bercanda, saya bilang ke bapak kalau saya mau golput saja.

Baca lebih lanjut

I Think About Death

a lot lately. Beberapa orang yang berkesan di hati dari masa kecil saya satu-persatu dipanggil Tuhan.

Salah satunya adalah tetangga 3 rumah dari tempat mama saya tinggal alias rumah masa kecil dulu. Saya biasa memanggilnya Namboru (Tante) Siahaan. Ia buka warung sehingga dulu saya sering mampir buat jajan atau beli garam/gula/telur disuruh mama saya. Nah, karena buka warung itu pula maka kami sering menitipkan kunci rumah di warungnya. Yeah, kami nggak taruh kunci di bawah keset, di pot bunga atau di atas kusen pintu tapi dititip. Rumahnya selalu terbuka, kami bebas datang kapan saja oleh karena itu intensitas komunikasi kami betul-betul sering.

Baca lebih lanjut

Pilar-pilar Masyarakat

Hari ini kami pergi ibadah pagi di gereja kecil kami. Gereja yang sudah menaungi jiwa kami bertahun-tahun lamanya. Saya mengenal para pengerja gereja dari mereka muda belia hingga sekarang mereka sudah mendekati usia hampir setengah abad. Melihat sendiri perubahan para diaken gereja yang dulu berambut hitam dan sekarang sudah berubah menjadi putih semua seperti uban di kepala bapak saya. Wajah-wajah familiar yang menenangkan hati. Rasanya teduh dan tentram berada di suatu komunitas penuh stabilitas seperti ini.

Orang-orang ini melayani dengan sepenuh hati. Mereka menjenguk jemaat yang sakit, konsisten berdoa dan berpuasa bagi bangsa serta negara serta semua isi dunia. Mereka punya hati khusus dengan berkunjung ke rumah para lansia, tak lupa mengirimkan renungan harian bagi semua anggota gereja. Luar biasa, ada orang-orang yang memang dipanggil untuk menjalankan peran tersebut. Saya sih nggak mampu. Saya merasa ini memang bukan panggilan saya. Tapi ya mereka berbeda.

Ibu Gembala tadi mengingatkan kembali tentang komitmen mengikut Yesus beserta tanggung jawab dan konsekuensinya melalui himne ini

Di saat dunia berputar demikian cepat, para pengerja gereja ini menjadi perekat dan pengingat bahwa Tuhan bekerja melalui manusia. Tuhan jamah hidup banyak orang melalui pelayanan mereka sehingga jemaat yang sedang sibuk tetap merasakan sentuhan Tuhan melalui hal sederhana secara nyata. Salut bagi mereka yang memang dipanggil dan menerima panggilan Tuhan serta terus berpegang teguh pada komitmen pelayanan untuk menjadi salah satu pilar religi di masyarakat. God bless!

*Just a thought on one fine Sunday afternoon

Merawat Orang Sakit

Sudah saya ceritakan sebelumnya kalau selain karib dengan Rosita, saya juga akrab dengan keluarganya hingga saat ini. Tante Yayat, mamanya Rosita sesekali menyapa saya via WA sekedar bertanya kabar, demikian juga sebaliknya.

Seperti sore ini, Tante Yayat cerita soal impian-impian Rosita yang tidak terpenuhi sebelum dipanggil Tuhan. Hati saya ngilu dan sedih. Rosita pengen umroh kalo udah kembali ke rumah katanya. Tapi memang waktu itu tidak ada yang bisa kami lakukan karena info dari dokter yang bilang kalo harapan hidupnya hanya 6 bulan saja kami sembunyikan dari Rosita. Sementara dalam 6 bulan itu kondisinya terus menerus makin memburuk.

Lalu memori saya berputar kembali ke tahun 2015 saat saya sesekali curi waktu ijin dari kantor untuk menemaninya kemo.

Baca lebih lanjut