Ke Gereja lagi Setelah Pandemi

Sudah sebulan ini gereja saya buka ibadah on site alias off line. Aslik, pertama kali nginjek gereja lagi, saya merinding banget 🥺🥺 berkaca-kaca gitu matanya. I was overwhelmed with all these beautiful feelings.

Saat memilih mau duduk di mana, itu aja bikin terharu. Gilak, akhirnya gue balik lagi ke sini.

Saat saya naikkan pujian syukur bareng jemaat Tuhan lainnya, perasaan saya campur aduk. Haru, grateful, nggak percaya, Tuhan baik, semuanyaaaa.

Sudah dua tahun lebih kami sekeluarga ibadah online, ya dijalani aja karena kondisi pandemi. Nggak ngeluh, nggak gimana-gimana. Tapi ternyata begitu bisa gereja on site…. Ambrol. Saya serindu itu ibadah di Rumah Tuhan lagi.

HAPPY SUNDAY!

Tuhan, ajarku berdiam dalam rumah-Mu.
Ajarku berharap penuh selalu pada-Mu.

Classic Hymns

Hingga sekarang saya masih terkagum-kagum dengan penerjemahan himne-himne klasik gereja dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia. Pilihan diksinya tepat sekali, indah, tidak mengurangi makna namun secara estetika tetap terjaga. Ah, Tuhan berkati mereka yang sudah jadi perpanjangan tangan mendatangkan damai sejahtera dan sukacita melalui pujian dan penyembahan.

Salah satu himne klasik yang diterjemahkan dengan sangat baik oleh E.L. Pohan di tahun 1975 adalah Pass me not O gentle Saviour karya Fanny J. Crosby (1868).

Pass me not O gentle Saviour,
Hear my humble cry.
While on others Thou art calling,
Do not pass me by.

Saviour, Saviour,
Hear my humble cry.
While on others Thou art calling,
Do not pass me by.

Diterjemahkan ke dalam lagu pujian KJ 026 berjudul Mampirlah, Dengar Doaku

Mampirlah, dengar doaku, Yesus Penebus.
Orang lain Kau hampiri, jangan jalan t’rus.
Yesus, Tuhan, dengar doaku;
orang lain Kau hampiri, jangan jalan t’rus.

Apa teman-teman punya himne klasik kesukaan?

Have a blessed Sunday!

Tidak Hari Ini

Khotbah Kebaktian Minggu hari ini sungguh menarik, diambil dari Kejadian 50:15-21 tentang Nabi Yusuf. Kisah hidup Yusuf sendiri menurut saya luar biasa. Diperlukan tidak adil oleh saudara-saudaranya, dibuang ke sumur lalu dijual ke saudagar Mesir. Karakternya benar-benar tangguh namun di sisi lain lembut hati karena memutuskan untuk mengampuni saudara-saudaranya. Bahkan menampung mereka saat terjadi kelaparan hebat di Tanah Kanaan.

Dibandingkan dengan saya sih jauh banget. Hahaha. Tidak seperti Yusuf yang abis dijual, dijadikan pelayan kemudian difitnah Tante Potifar -trus masih belum abis juga apesnya-,  dipenjara lalu dilupakan hingga 2 tahun lamanya, saya cuma:

Dikirimi text panjang-panjang sampe pusing bacanya padahal saya sedang kemalangan mengurus anak sakit.

Baca lebih lanjut