Yang Tidak Dibicarakan Saat Kehilangan (Calon) Buah Hati

Some say you are too painful to remember but I say you are too precious to forget. –unknown-

Cukup lama saya menimbang-nimbang apakah saya akan menuliskan hal ini atau tidak. I’ve been tight lipped about my miscarriages. Suatu topik yang sangat sensitif buat saya. Kalau bisa saya nggak mau ngomongin itu, kalau bisa sih bab gelap dalam hidup saya itu hilang lenyap nggak berbekas dan saya nggak inget sama sekali. But then I thought, if I keep silent, this will be just a dark episode of my life. Yet, if I share my story, at least there’s something good comes up from the painful lost that I experienced, that other people who read the story can learn something from what I have gone through.

Ceroboh

Kejadiannya sendiri sudah 2 tahun lalu. Saat itu, Adrian dan saya enggak punya rencana untuk punya anak. Sudah tau kan kalo saya dan Adrian berikrar mau senang-senang tamasya aja berduaan terus selama mungkin? Jadi kami sangat berhati-hati karena nggak mau kebobolan. Sampai 4 tahun kami sukses lho menjaga untuk nggak punya anak.

So, waktu saya terlambat satu minggu, saya nggak terlalu pusing. “Paling cuma kecapean,” begitu pikir saya. Apalagi saya baru aja pulang dari maraton tugas dan short course di luar negeri yang begitu menguras energi. Klop deh kecurigaan saya soal kecapean makanya telat mens. Tapi anehnya, mulai dua minggu sebelumnya nafsu makan saya meningkat drastis dan berat badan juga merangkak naik. Telat haid sih saya nggak panik, tapi berat badan naik? Saya panik pake banget! Anuh, sebagai pemenang pertama acara Make Over Your Life dan sukses menurunkan berat badan sampai 11kg, maka jarum timbangan geser ke kanan sedikit itu jelas bikin resah banget. Alhasil, saya pun diet ekstra ketat juga berolahraga ekstra berat. Lari, sepeda, push-ups, squat, crunch, dll. Pokoknya saya lakukan semua cardio dan latihan beban demi membakar kalori secara efisien. Plus mengatur asupan makanan yang masuk. Saking ketatnya, sepertinya saya jadi kekurangan nutrisi 😐

Diet ketat. Makan secuprit banget. Kadang nasinya aja nggak dimakan karena takut gendud dari karbao. Padahal kita tetap butuh karbo dengan porsi yang tepat.

Diet ketat. Makan secuprit banget. Kadang nasinya aja nggak dimakan karena takut gendud dari karbo. Padahal kita tetap butuh karbo dengan porsi yang tepat.

Sama sekali tidak terbersit pikiran kalau saya hamil. Tidak ada firasat atau apapun, sampai dua minggu kemudian perut saya terasa kram disusul rasa melilit hebat. Ada banyak sekali darah yang keluar, lebih banyak dari biasanya. Setelah periksa, dokter mengatakan bahwa saya tengah hamil 5 minggu beberapa hari namun sekarang sudah tidak ada lagi. Tangan saya mendadak dingin. Saya kehilangannya bahkan sebelum saya tahu bahwa ia ada. Saat mendengar perkataan dokter, dunia rasanya runtuh, waktu seperti berhenti berputar. Dada saya rasanya sesak dan saya pun menangis dalam diam sementara Adrian berusaha menguatkan dengan memeluk saya.

Episode Muram

Kehilangan bakal bayi walaupun masih berusia beberapa minggu tetap saja terasa menyakitkan. Saya berusaha meyakinkan diri bahwa ini hanyalah satu episode muram yang akan segera berlalu, tapi sesungguhnya saya hanya membohongi diri sendiri. Ada malam-malam panjang di mana saya terjaga, duduk diam dan merasa hampa. Ada waktu-waktu di mana air mata mendadak jatuh sendiri tanpa bisa saya bendung. Rasa penyesalan itu begitu dalam. Rasa bersalah itu mendera sangat hebat. Menggerogoti hati pelan-pelan seperti rayap di dalam kusen kayu. Dari luar saya terlihat baik-baik saja padahal jiwa ini mulai hancur di dalam.

The scariest part of sadness is when you can't talk about it to anyone. You can't even talk to your inner self.

The scariest part of sadness is when you can’t talk about it to anyone. You can’t even talk to your inner self.

Saya sendiri heran, kenapa saya bisa sangat sedih (hampir depresi malah) kehilangan calon baby. Padahal kalau dipikir-pikir, waktu itu kan nggak pengen punya anak. Tapi entahlah. Apa mungkin jauh di dalam lubuk hati sesungguhnya saya mau aja punya anak atau gimana. Saya enggak tau. Yang saya tau, saya merasa sangat bersalah, merasa sangat bodoh sekaligus berdosa. Bagaimana mungkin seorang perempuan tidak tahu kalau dirinya hamil? Saking nggak tau tanda-tandanya malah diet ketat plus olahraga berlebihan dan akhirnya keguguran. Kemudian ada rasa penasaran lain…. Apa mungkin karena Tuhan tau bahwa saya nggak mau punya anak, makanya Tuhan ambil lagi calon bayi yang sempat dititipkannya selama 5 minggu di dalam rahim saya itu? Kalau iya begitu, saya jadi merasa orang paling egois sekaligus jahat. Demi hasrat saya hidup senang-senang, maka Tuhan membuat janin di perut saya pergi. Tidak punya kesempatan untuk hidup. Begitu banyak pertanyaan tak terjawab yang berkelebat di kepala. Begitu hancur perasaan saya, sampai saya sering tidak bisa tidur, malam terasa sangat panjang dengan saya hanya berbaring diam dalam kesedihan. I felt emotionally and physically exhausted. And to be honest, I longed to feel… normal again. To feel okay without this huge sorrow that I couldn’t get rid off.

Di masa-masa gelap itu, Adrian setia di samping saya. Ia tidak pernah menyalahkan saya, baik melalui perkataan atau sikap tubuh. Adrian hanya ada di sana, memberikan bahunya untuk saya pakai menangis. Menyediakan dadanya untuk saya pukul karena saya nggak mampu bicara kecuali dengan air mata. Memeluk saya saat saya didera perasaan bersalah. Kalau saya ingat-ingat, saat itu saya tidak peduli pada apapun, termasuk Adrian. Saya tenggelam dalam kesedihan hingga lupa menanyakan bagaimana perasaannya. Ah, saya jadi ingat.. Bahkan sampai sekarang, saya tidak pernah tau bagaimana perasaaan Adrian saat itu. Kami memang tidak pernah membahas hal ini. Rasanya terlalu menyakitkan sehingga tanpa ada kesepakatan pun kami tau untuk tidak membicarakannya.

Anw, untuk membantu saya melalui ini, Adrian membawa saya berlibur. Sering banget liburan malah. Hampir tiap akhir minggu kami plesir ke luar kota, ke luar pulau, atau ke luar negeri. Saya memang dari sananya seneng jalan-jalan tapi di saat seperti ini, saya lebih membutuhkannya. Ke mana aja yang penting keluar rumah dan bikin saya sibuk, karena anehnya… Walau saya kacau banget tapi saya masih bisa bekerja normal. Saya kayak robot gitu, pasang mode auto pilot buat menjalani hari-hari ke kantor dan bekerja seperti biasa. Saking lempengnya muka saya, teman-teman di kantor nggak ada yang tau kalau saya keguguran. Cuma atasan yang saya beri tau karena saya sempat absen beberapa hari saat kejadian itu. Saya tipe yang senang berbagi kebahagiaan, tapi kalau kesedihan, saya sulit ngomong. Walau bisa bekerja seperti biasa, pas pulang sampe rumah entah mengapa saya bisa tiba-tiba murung dan menangis tanpa henti. Makanya Adrian membawa saya liburan saat akhir pekan. Biar saya lupa.

Melihat tempat-tempat baru atau wisata yang menyegarkan membuat hati saya sedikit merekah. Sedikit-sedikit saya mulai bisa tersenyum. Tapi saya tetap tidak langsung pulih. Saat masih rapuh, ada aja ujiannya. Ada yang dengan nggak sopannya menanyakan kapan punya anak lalu ceramah tentang pentingnya punya anak sebelum usia 35 tahun, ada juga yang bilang kebanyakan jalan-jalan makanya anaknya nggak muncul-muncul. Saya tersenyum kecut aja. Memang yang nanya itu nggak tau kondisi saya: yang lagi rapuh, yang abis keguguran. Tapi justru karena nggak tau itu bukankah sebaiknya pertanyaan-pertanyaan pribadi model kapan nikah, punya anak, dst itu sebaiknya disimpen aja? Kalau berdalih bahwa itu bentuk doa, apa nggak sebaiknya didoakan dalam hati saja dan nggak usah diomongin? Kayaknya dengan begitu jadi lebih tulus dan (moga-moga) lebih didengar Gusti Allah. Enough said.

Lalu perlahan saya mulai bangkit. Dan waktu pun menunjukkan keajaibannya. Sang waktu memberi ruang buat saya bersedih sekaligus ruang untuk perlahan pulih. Saya kembali diingatkan tentang pepatah lama yang bilang ‘everything happens for a reason.” Mungkin kalau saya terus hamil, bisa saja tanpa sadar saya menolak kehadiran janin saya saat itu. Bisa saja saya tidak bahagia menjalani masa kehamilan yang dapat berujung pada janin yang stress. Mungkin Tuhan tau bahwa saya tidak siap. Makanya ia tidak jadi hadir. Mungkin.

Lalu saya dan Adrian berjanji, kalau Tuhan kasih lagi, maka kami akan menyambutnya dengan sepenuh hati. Saya mulai makan dengan baik, memperhatikan nutrisi yang saya makan dan berolahraga dengan benar. Nggak pake ngoyo.

Beruntung, 9 bulan kemudian, Tuhan mempercayai saya untuk hamil lagi. Lucunya, kejadiaannya hampir sama seperti sebelumnya. Saya nggak tau kalau hamil. Nggak ada tanda-tanda yang spesifik gitu. Cuma karena sudah ada pengalaman buruk, begitu terlambat haid, saya langsung ambil testpack. Jangan kira langsung positif. Perjalanan saya untuk tau kalau saya hamil, tidak semulus itu :P. Hasil test pack negatif dong! Sampe 2x test dan tetap negatif. Harusnya saya tenang dan bisa melanjutkan hidup kan ya? Iya kaaan? Tapi lha kok saya nggak tenang. Ada suara kecil di hati saya yang bilang lebih baik periksa ke obgyn buat pastinya. Lalu saya dan Adrian pun periksa ke dokter Budi di Klinik Aviat Bogor. Pak dokter yang ganteng itu bilang, masih belum cukup jelas saya hamil atau tidak walaupun rahim mulai mengembang. Mungkin dokternya nggak mau PHP ya jadinya ngomong gitu. Saya disuruh pulang dan diminta periksa 2 minggu kemudian. Pheeew! DUA MINGGU YANG SANGAT MENDEBARKAN. Status saya nggak jelas, saya ini hamil atau enggak siiih? Mana dalam rentang 2 minggu itu, Adrian udah booking trip buat snorkling ke Pulau Bira dan sudah dibayar pulak. Aaaaaak….Akhirnya kami tetap pergi walau pas ngetrip saya ati-ati banget. Nggak berani sembarang snorkling dan nggak berani minum champagne 😀 Teman-teman ngetrip udah curiga saya hamil, tapi saya dan Adrian tutup mulut karena kami takut salah.

Lalu 2 minggu kemudian, pertanyaan itu pun terjawab. Sudah ada janin mungil berusia 7 minggu di dalam rahim saya. Maknyeeeesss… Saya langsung nangis bahagia. Adrian juga. Dan kami menepati janji kami, semua rencana hidup kami berubah menyesuaikan keadaan baru ini. Saya pikir, saya lebih siap hamil dan nggak sembrono lagi karena sudah tau sakitnya kehilangan. Sekarang nggak terasa, si janin itu udah berumur 1 tahun aja. Udah lasak dan bikin rumah semarak sama celotehannya ^_^.

Tips Buat Kamuh, Kamuh dan Kamuh

Udah ah cerita naik-turun perasaan saya waktu itu. Sekarang saatnya serius dikit. Berkaca dari kejadian yang saya alami, kalau ada yang sedang merencanakan kehamilan atau bahkan sedang hamil, please.. please… perhatikan betul nutrisi yang dikonsumsi. Jagalah kehamilan dengan nutrisi yang baik agar tidak keguguran karena nutrisi berfungsi sebagai penunjang pembentukan janin agar tumbuh normal dan sehat. Jadi, jangan diet terlalu ketat tapi makanlah secara seimbang. Bahkan jika dirasa perlu, boleh juga minum vitamin dan susu. Tips berikutnya, tetap berolahraga supaya bugar tapi dalam porsi yang sesuai untuk ibu hamil. Lalu jika terlambat datang bulan, lebih baik segera periksa daripada menyesal di belakang. Bener deh, jangan sampai mengalami episode muram seperti saya karena rasanya nggak enak banget. Cukup saya aja yang tau seperti apa gelapnya emosi terseret dalam lubang tak berdasar itu. Cukup saya aja. Ohya satu lagi, jangan mbatin yang macem-macem. Kayak saya dan Adrian yang membatin nggak pengen punya anak. Begitu diambil… Makbum… Rasanya jantung kayak dicabut dari rongga dada. Nelongso dan hampa banget.

Terus kalau ada temen, saudara atau siapanya gitu habis kena musibah gini, jadilah sahabat yang baik. Nggak usah banyak nasihat atau tanya ini itu, cukup ada di sana untuk kasih support, untuk kasih liat kalo kita mengerti, itu udah cukup. Nggak semua bisa melalui ini dengan mudah soalnya, ada yang bisa aja butuh waktu lama kayak saya. Just be kind by being there 🙂

Puji Tuhan (I have no idea how many times I write this praise in this article :P) kisah soal punya anak ini berakhir bahagia. Walau sempat ada rasa penyesalan dan berdosa tapi Tuhan memberikan penutup yang sangat manis. Saya berdoa, semoga apa pun yang teman-teman alami sekarang akan bermuara pada suatu kebaikan nantinya ya :). Keep the faith!

 

Love :*

Adrian-Eka-Baby B

Advertisements

68 thoughts on “Yang Tidak Dibicarakan Saat Kehilangan (Calon) Buah Hati

  1. Oline says:

    Ive been there before. Emang rasanya gak enak banget kehilangan anak. Akupun speecheless kalau ditanya org, gimana ceritanya babynya gak ada? Rasanya udah a thousand times aku cerita. Seperti membuka duka lama ya kalo ada yang tanya begitu. Tapi yah gimana namanya org gak tau and care ingin tau keberadaan kita.. 🙂

  2. Natalia says:

    peluk buat Eka memang Tuhan akan menyediakan yang terbaik buat kita ya Eka 🙂 Waktu juga yang akan membantu kamu buat menjadi lebih pulih, dan belajar dari apa yang sudah terjadi. Terima kasih ya sudah membagi cerita ini dan tips-tipsnya sekalian. Pasti ada berkah dan kebaikan, entah di mana, yang diakibatkan oleh sharing kamu ini. 🙂 hugs lagi

  3. Ratna Dewi says:

    Aku sedang merasakan fase naik turun itu, dua kali hamil dua kali pula janin diambil lagi. Yang pertama umur 24 minggu, yang kedua tujuh minggu. Ngga ada bedanya, persamaannya yaitu apapun dan bagaimana pun kehilangannya, sedih dan hancur rasanya…

  4. Danan Wahyu Sumirat says:

    duh cerita kehilangan bayi gini , kebetulan mamaku susah punya anak, selalu aja terjadi pre-eklamsia dan akhirnuya kehamilan 1-4 harus gugur sebelum waktunya. Baru anak ke -5 (kakakakku) dan ke-6 (aku) lahir , setelah itu kehamilan 7-10 tetap kasusnya sama.

    Kalau ibuku cerita, rasanya sedih banget , kaya ngga dipercaya dengan Tuhan untuk punya anak. Tapi semuanya proses hidup , yang pasti ada hikmah di dalamnya.

      • Heva Yuliana says:

        Cerita eka sama banget dengan kejadian aku deh, wkt itu jg aku blm kepingin punya anak msh menikmati hidup happy jalan2 berdua sm suami tp ternyata Tuhan kasih anugrah dan berkat tp aku ga tau,cuma aku curiga ko aku dptnya beda dr biasanya tiap bln akhirnya aku ke rs grand famili pantai indah kapuk dan dokter bilang aku ke guguran.penyesalan yg begitu dlm sampai skrng apalagi skrng aku berharap banget pingin banget punya anak tp sedih Tuhan blm kasih.minta doanya ya semoga aku diberikan berkat dan anugrah dr Tuhan ya.amin

  5. nengwie says:

    Saya 2 kali keguguran mbak, usia 2 dan 3 bln… Alhamdulillah sekarang sudah punya 4 putra putri dewasa dan menjelang dewasa..:)

    Kehilangan apapun selalu meninggalkan rasa sedih yg mendalam

      • nengwie says:

        Iya yg sulung sudah 19 thn lebih, yg 3 masih 15,14 dan 10 thn.
        Iya alhamdulillah…

        Pdhl 2 terakhir itu sama sekali ngga direncanakan, apalagi yg ke 4 walaaaah asalnya mah ngga mau hamil lagiiii 😃😃

        Oh ya salam kenal yaaa ..

  6. irowati says:

    Sy jg keguguran saat mengandung 10mg mba…sy pun tdk tahu kalau hamil kr mmg haids sy kdg 2-3bln sekali…rasa sakit dan bersalah bbrp bln menghinggapi lalu sy sadar semua sdh kehendak-Nya. Jd sy brusaha iklas sj. Dan kr keguguran itu pl sy divonis dokter bahwa sgt kcl kmgkinan sy hamil lg. Tp sy bersyukur sy msh diberi seorang ank seblmnya.

  7. beautyasti1 says:

    Biarlah gendut asal tubuh terpenuhi nutrisi nya.. Aku bacanya sedih plus kesel juga makk.. Hihihii.. Diet is not my thing, suami ku juga gak suka aku kurus dan diet diet gitu. Tapi syukurlah sekarang makk nya sudah punya momongan, congratulations!

  8. niee says:

    Waaaahhh ternyata mbak eka pernah kehilangan calon babynya yaaaa. Emang gak kelihatan ya dari postingan postingannya. Dua tahun lalu itu yang baru balik dari selandia baru kah??

    Yang namanya kehilangan pasti sedih banget ya mbak. Apalagi itu calon baby kitaaa. 😣

  9. titiw says:

    Awwww.. Dulu pas kamu hamil aku gak ngeh kalo ada miscarriage mbak. Secara kamunya ceria begitu. Hamdallah ya Sebastian sehat2 saja. Semoga rejeki dari Tuhan yang satu ini membawa keceriaan lebih padamu dan keluarga. Keep the faith! 🙂

  10. dwi sari says:

    “…cukup ada di sana untuk kasih support….” setuju sai, dan itu yg selama ini bisa saya lakukan unt sahabat saya. Meskipun perih, susah dibilangin dsb. At least kita ada, ada unt ngedengerin up and downnya sahabat. That’s a true friendship…..
    Many thx for the doa, same wishes to u too. Ameen ~ xoxo

  11. emyou says:

    Bener banget soal harus hati-hati dengan apa yang dibatin. Stay positive and pray for the best. Semoga dirimu, Adrian dan Bastian selalu sehat yaa.. Kangen deh!

    peluk-peluk

  12. irfanifan says:

    Mbakkkk aku merinding bacanya. Ndak kebayang perjuangan kamu menahan segala keluh kesah setelah kehamilan pertama…

    Untung yang waktu itu anak anak ndak ada yg maksain kamu minum champagne yak. Waktu itu aku juga udah curiga kamu hamil. Hahahahaha .
    Aku malah belum ketemu bastian. Hiks.

  13. devieriana says:

    Aku malah udah 7 bulan dalam kandungan, jauh lebih menyesakkan ya. Tapi aku percaya, Allah Mahatahu apa yang terbaik buat umatnya. Kalau di-flashback, mungkin Allah melihat kami berdua belum cukup siap untuk menerima titipan-Nya. Kita nggak pernah tahu, kan? Menurut kita siap, tapi ternyata menurut Allah belum siap sama sekali. Akhirnya baru diberi kesempatan hamil dan punya anak selang setelah 6 tahun kemudian. Insyaallah, dengan seizin-Nya, kami jauh lebih siap lahir bathin daripada sebelumnya.

    Ah, kamu, ternyata punya kesamaan cerita juga ya, selain nama suami yang hampir sama, dan cincin kawin yang modelnya sama juga, hahaha…

  14. Ria says:

    baru baca ini Eka… I’m really sorry that you lost your first baby… My hugs and prayer with you all… Walau dia tidak sempat hadir sebagai yang pertama, tapi dia akan selalu menjadi yang pertama untuk kalian berdua…
    *kalau ada salah2 kata, mohon maaf ya… *

  15. ariani says:

    Kaaak ekaaa…abis baca komenmu aku langsung kesini. aku nangis baca postingan ini dan komen komennya, aku tadinya sempet ngerasa berlebihan dengan segala perasaan kehilanganku. Kirain aku yg terlalu menganggap kehilangan ini jadi satu hal paling menyedihkan dalam hidup

    Ternyata banyak yang ngerasa sama 😢😢😢
    Dan apa yang kak eka tulis tuh persis banget sama yang lagi aku rasain sekarang.
    Bingung mau jawab gimana saat ada yg nanya “udah isi belum?”
    Bawaannya masih pengen nangis kalau ditanya gitu.

    Tapi yang terbaik ya kak pasti 😉

  16. Diana says:

    masa-masa yg berat pasti kita ga mau ungkit-ungkit lagi ya tp bagusnya kak eka menjadikan menulis sebagai terapi
    aku merinding banget deh bacanya

    bersyukur badai udah berlalu
    tetap semangat ya kak 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s