Vaksin atau Nggak Vaksin?

It takes a village to raise a child

Jadi ceritanya kemarin pas bangun tidur saya baca status orang yang menanyakan apa betul kalau KLB Difteri yang sekarang terjadi itu karena anak-anak yang tidak divaksin. Dengan pengetahuan saya yang terbatas, saya pengen menjawab pertanyaan tersebut tapi karena tahu bakal panjang maka saya ketik di notes dulu biar rapi. Nah, terus pas saya balik ke FB dan mau komen, eh FB-nya ke-refresh dan statusnya nggak ada lagi, pun saya nggak inget yang nulis status itu siapa karena baru bangun >.< Hahaha

Jadi kadung saya udah nulis agak panjang soal vaksin ini, diblogkan saja deh biar nggak mubazir. Hehehe. Komentar yang batal saya sampaikan itu, ditambahi beberapa informasi dari hasil FGD yang saya ikuti dengan beberapa dokter di Bogor beberapa waktu lalu.

Anak sehat adalah dambaan semua orang tua. Lindungi kehidupannya dengan vaksinasi alias imunisasi

——Saat saya baru masuk kuliah dulu saya sempat membaca satu peribahasa yang mengatakan, ”it takes a village to raise a child.” Waktu dulu saya nggak terlalu ngerti maksud peribahasa tersebut apa, masa iya nggedein anak butuh satu desa? Kan anak sendiri, urus sendiri, mandiin sendiri, nyuapin sendiri… Kalo ada duit lebih ya bayar suster, masa iya butuh satu kampung buat membesarkan anak? Hihihi, polosnya saya dulu waktu masih awal kuliah, setelah jadi ibu saya jadi paham betul makna dari peribahasa tersebut.

Salah satunya terkait dengan vaksin alias imunisasi. Anak sehat itu nggak ujug-ujug sehat begitu aja, ada peran lingkungan dan komunitas yang membuat anak sehat begitu juga sebaliknya. Oke, sekarang mari kita kenalan dulu sama apa itu vaksinasi yang sering disingkat vaksin ini.

Apa itu vaksin?

Vaksinasi adalah proses memasukkan bakteri atau virus yang sudah dilemahkan ke dalam tubuh kita sehingga kemudian tubuh membentuk antibody atau kekebalan.

 Ada berapa jenis vaksin yang harus diberikan kepada anak?

Pemerintah mewajibkan vaksin ini: BCG, Hepatitis B, Polio, DPT, Campak. Lalu di tahun 2017 ini pemerintah menambahkan vaksin wajib yaitu MR, HPV dan JE.

Kenapa pemerintah mewajibkan 8 vaksin sementara Ikatan Dokter Anak Indonesia merekomendasikan 16 jenis vaksin?

Vaksin yang diwajibkan adalah vaksin untuk penyakit yang bersifat mewabah, mematikan dan menimbulkan kecacatan seumur hidup (contohnya polio). Nah, untuk saat ini pemerintah menggolongkan 8 vaksin di atas sebagai hal wajib mengingat potensi bahayanya. Tapi bukan berarti penyakit yang lain tidak ada kemungkinan menyerang, hanya saja potensinya menjadi KLB lebih kecil. Kalau kita ada rejeki lebih, buat anak berikan bekal pertahanan yang lengkap. Ohya jenis vaksin wajib ini berbeda antara satu negara dengan negara lainnya karena ancaman KLB tiap negara beda tergantung kondisi alam, lingkungan dan lain-lain.

Jadi, anak saya butuh vaksin apa aja sih?

Setiap orang punya kebutuhan berbeda. Tentu saja karena kita tinggal di Indonesia, maka 8 vaksin yang diwajibkan pemerintah tersebut harus kita ikuti. Kemudian untuk vaksin tambahannya tanyakan sama diri sendiri sebagai orang tua. Anak kita butuh nggak? Anak kita nanti akan tinggal di mana? Kuliah di mana? Kalau ada niat dikuliahin ke Amerika atau Eropa maka tambahi vaksin yang diwajibkan di sana. Penting untuk memberikan vaksin dari kecil (tentu sesuai dengan jadwal yang dianjurkan oleh dokter ya) karena manfaat yang diambil oleh tubuh dari vaksin akan lebih besar jika diberikan sedini mungkin dibandingkan saat dewasa.

Kalau belum tau anak mau tinggal di mana saat kuliah nanti, nggak ada salahnya juga vaksin komplit karena kita kan nggak tahu di masa yang akan datang bakal kayak apa itu virus dan bakteri. Apalagi bumi yang kitta tempati ini kualitasnya belum membaik juga.

jenis-jenis vaksin dan jadwal imunisasi. -diambil dari blog beranisehat-

Kenapa anak perlu divaksin atau diimunisasi?

Jadi begini… Vaksin itu kan virus atau bakteri yang dilemahkan terus dimasukkan ke dalam tubuh jadi tubuh kita latihan menghadapi penyakit tersebut dan setelahnya terbentuk antibodi. Suatu saat anak diserang oleh virus yang beneran, ia sudah ada antibody buat melawan. Ibaratnya nih kalo kita udah latihan karate duluan, saat ada perampok maka bisa melawan. Namun kalo belum latihan ya babak belur saat diserang perampok. Karena sudah latihan duluan, sudah tahu model virusnya seperti apa, tubuh dapat menghadapinya dengan lebih baik saat virus datang dan mencegah virus tersebut menyerang organ tubuh lebih parah.

Sedikit catatan, ada beberapa anak yang bisa saja alergi atau mempunyai masalah autoimun, konsultasikan dengan dokter terlebih dahulu akan hal ini sebelumya apabila ada riwayat di dalam keluarga.

Manfaat lain dari vaksinasi alias imunisasi

Manfaat lain yang dicari dari vaksin adalah  vaksin itu menimbulkan kekebalan komunitas alias kelompok. Virus atau bakteri dapat berkembang biak kalau ada medianya, tapi kalau semua anak udah divaksin? Nggak ada media lagi buat hidup so virus itu kecil kemungkinan ada atau menyerang.

Anakku nggak divaksin tapi nggak sakit tuh?

Lha jelas, kan dapat kekebalan komunitas alias kelompok dari anak-anak yang divaksin. Gini, vaksin maksimal bekerja apabila terdapat 85% yang divaksin. Misalkan ada 100 anak dan 85 anak divaksin maka 15 anak lagi mendapatkan kekebalan komunitas sehingga tidak terkena penyakit. Namun apabila kurang dari 85% maka potensi penyakit tersebut berkembang dan menular lebih tinggi sebab ada celah.

Apakah sesudah divaksin maka anak jadi kebal penyakit?

Anak-anak yang divaksin bukan berarti kebal terhadap penyakit tersebut namun sudah latihan menghadapi penyakit itu. Harapannya saat virus benerannya menyerang maka organ vital tubuh tidak terserang parah.

Sudah divaksin kok masih parah kena penyakitnya?

Ini pertanyaan tricky karena ada banyak sekali sebab yang bisa menjadi faktornya.

Bisa saja vaksin tidak bekerja maksimal (lho kok bisa? Penjelasannya ada di bawah nanti).

Bisa saja memang keadaan anak sedang sangat lemah,

Bisa saja virusnya kuat sekali….

Dan masih banyak lagi bisa saja yang lain….

Namun jika boleh memberi saran, vaksinlah anak di RS pemerintah, puskesmas, atau RS yang memiliki kulkas khusus untuk menyimpan vaksin.

Kenapa?

Tata laksana pemberian vaksin itu panjang dan rapi. Agar manfaat vaksin dapat maksimal di dalam tubuh, vaksin mesti disimpan di kulkas khusus (bukan kulkas seperti di rumah kita itu lho) dan dikeluarkan dengan tata cara khusus juga. Harga kulkas ini hingga ratusan juta, tidak semua rumah sakit mampu membelinya. Justru rumah sakit pemerintah dan puskesmas malah punya kulkas model ini karena memang dibiayai pemerintah dan merupakan program dasar sehingga vaksinnya pun bisa maksimal di dalam  tubuh anak.

Balik lagi kenapa harus vaksin, karena kekebalan komunitas alias kekebalan kelompoklah yang kita usahakan buat anak-anak kita. Jika anak tidak divaksin maka ia bukan hanya membahayakan dirinya sendiri namun juga anak-anak lain.

“Aaah, kan cuma 1 anakku aja yang gak divaksin, masa iya bikin anak-anak lain tertular?”

Lha kalau yang mikir gini ada 16 ortu dari 100 orang tua? Berarti hanya 84% yang divaksin, berarti kekebalan komunitas tidak tercapai, berarti penyakit itu punya celah untuk menyerang.

So, masih nggak mau vaksin? Well, hidup kan bukan cuma buat diri sendiri tapi juga dimintai pertanggungjawaban atas hidup bermasyarakat juga, marilah kita jadi bagian masyarakat yang mengusahakan kesehatan buat anak-anak kita juga. Remember, it takes a village to raise a child.

Advertisements

23 thoughts on “Vaksin atau Nggak Vaksin?

  1. Keke Naima says:

    Saya termasuk yang taat urusan vaksin. Termasuk vaksin yang dianjurkan. Pokoknya saya patuh aja deh apa kata dsa.

    Ketika mulai mengamati pendapat yang anti, saya banyak bingung. Seperti pendapat kalau anak yang divaksin pasti kebal penyakit. Sumber dari mana pendapat seperti itu. DSA anak-anak saya gak pernah bilang kalau divaksin berarti kebal. Tapi ini sebagai upaya memproteksi. Setidaknya kalau sampai terkena tingkat keparahan bisa diturunkan.

    Tentang ada kasus anak yang divaksin ternyata parah juga saat kena sakit, itu juga gak bisa lah dibandingkan ma anak lain. Kekebalan tiap anak kan beda. Ya siapa tau kalau gak divaksin justru lebih parah lagi.

    Pokoknya saya berusaha aja, Mbak. Ibaratnya kalau naik motor kan wajib pakai helm. Tapi bukan berarti udah pakai helm dijamin gak akan kecelakaan dan terluka/tewas. Setidaknya kalau pakai helm, kita meminilalisir resiko yang terjadi saat kecelakaan.

    Semoga selalu sehat untuk kita semua. Aamiin

    • Ceritaeka says:

      Higlight ini –> Ibaratnya kalau naik motor kan wajib pakai helm. Tapi bukan berarti udah pakai helm dijamin gak akan kecelakaan dan terluka/tewas. Setidaknya kalau pakai helm, kita meminilalisir resiko yang terjadi saat kecelakaan.

      Iya, paling nggak kita sudah berusaha terlebih dahulu. Sudah ada riset bertahun-tahun soal manfaat vaksin ini.

      Amiiin, semoga kita dan anak-anak kita semua selalu sehat.

  2. Fanny f nila says:

    Kenapa yaa orang2 ada yg berpikir bahwa vaksin itu malah bisa merusak anak mereka? Bbrp temenku ada yg seperti itu mba. Mereka beranggapan ini ga sesuai ama cara Rasul di zamannya. Kok ya ga mikir zaman Rasul hidup, udara belum sepolusi skr, penyakit blm aneh2, ya wajar vaksin blm ada. Trs dibilang, zaman rasul untuk mencegah penyakit, cukup makan madu dan kurma. Okelah, aku ga menyangkal kalo madu dan kurma memang bagus dan berkhasiat. Tp itu aja ga akan bisa menangkal penyakit kalo memang di komunitas masyarakatnya penyakitnya sedang mewabah. Lah tubuh anaknya sendiri belum pernah dimasukin jenis virus ato penyakit yg menyerang. Gimana tubuhnya bisa siap menerima walopun dibekali pasuka madu dan kurma yg bagus. Ibaratnya, prajuritnya bagus, gagah, besar, kuat, tapi ga pernah dilatih. Sama aja boonglah.. -_-

    Tapi untuk temen2 ku yg antivaks, aku udah capek mba nasehatin. Sama kyk bicara ke patung soalnya.. Percuma.. Ujung2nya malah merusak pertemanan

  3. Anggun says:

    Tujuannya untuk melatih daya tahan tubuh sangat penting,apalagi di era saat ini untuk sehat makin mahal. Bagi yang miskin seperti dilarang sakit. Jadi ya memang lebih baik menuruti semboyan lebih baik mencegah daripada mengobati. Yang dicegah aja kadang harus diobati. Tapi kan kadang 😀
    Terimakasih infonya.

  4. ayanapunya says:

    Saya dulu sempat galau juga soal vaksin ini. Tapi setelah baca tulisan-tulisan dari dokter akhirnya yakin buat pro-vaksin. Selain itu saya juga takuta banget kalau anak saya kena polio atau penyakit lain makanya setuju sama vaksin

  5. ratusya says:

    Akuuu provak. Pokoknya pastilah pemerintah ud mikir mateng2 masak2 tentang kerugian kesehatan lbh diminimalisir KALO imunisasi lengkap. Ya ikutin aja. Masih sayang anak kalo ngerasa diri antivak?
    Lagian jg imunisasi dasar gratis kok, tinggal dtg ke posyandu atau puskesmas paling bayar goceng buat pendaftaran yg bukan warga setempat tp dpt banyakkk manfaat. Gitu aja kok repot ya?

    Anak2 antivak harus ditandain tuh supaya ortunya jera kalo anak2nya dijauhin. Lahhh mereka bikin kejadian KLB, emang ortunya mau tanggungjawab sama anak2 lain yg ud vaksin trus terjangkit??? Mereka harus dikasi sanksi karena menyebabkan KLB ini.

    Sumpah mbak, aku kzlllll

  6. Agung Rangga says:

    Duh, saya juga suka gemas mbak sama orang-orang yang anti-vaksin. Kadang udah dikasih tahu kalau vaksin itu penting, masih aja ngeyel! 😦
    Giliran anaknya kena penyakit berbahaya gara-gara gak divaksin, baru deh panik sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s