I Think About Death

a lot lately. Beberapa orang yang berkesan di hati dari masa kecil saya satu-persatu dipanggil Tuhan.

Salah satunya adalah tetangga 3 rumah dari tempat mama saya tinggal alias rumah masa kecil dulu. Saya biasa memanggilnya Namboru (Tante) Siahaan. Ia buka warung sehingga dulu saya sering mampir buat jajan atau beli garam/gula/telur disuruh mama saya. Nah, karena buka warung itu pula maka kami sering menitipkan kunci rumah di warungnya. Yeah, kami nggak taruh kunci di bawah keset, di pot bunga atau di atas kusen pintu tapi dititip. Rumahnya selalu terbuka, kami bebas datang kapan saja oleh karena itu intensitas komunikasi kami betul-betul sering.

I am extremely sad, she really is like an older aunty to me. She watched me growing up. Suatu kali, saya ingat saat lagi beli permen, Namboru Siahaan yang bertubuh subur tapi ramah itu memperhatikan tangan saya yang diplester. “Tanganmu kenapa?” Tanyanya lembut. “Kena pisau namboru, bantu mamak potong bawang merah,” jawab saya santai. Ia mengelus rambut saya dan bilang, “Lain kali hati-hati ya.” Btw, saya memang sudah senang memasak dari kecil, sering bantuin mamak di dapur dan bahkan sampai saat ini mamak dengan bangga selalu bilang bahwa dari semua anaknya kualitas masakan saya yang paling mendekati/mirip sama masakannya. Berujung adik dan ipar saya pun sering bertanya kitchen hacks resep turunan keluarga kami 😀 .

Respect

Kali lain, saat saya SMP, saya mulai kenal make up. Mulai pakai skincare dan belajar membingkai mata dengan eyeliner. Mama saya suka ngomel tapi yah remaja ya bok, saya tetep aja berkeksperimen ber-make up di rumah. Hahaha. Suatu kali, habis coba-coba dandan, mamak suruh saya pergi ke warung. Namboru melihat saya dengan alis yang dibentuk dan eyeliner mata, dari gerak tubuhnya I know she disapproved but she didn’t go frontal. Ia hanya bertanya muka saya kenapa :mrgreen: segitu respeknya ia sama orang lain sehingga tidak mau mencampuri sesuatu yang bukan urusannya. Dan banyak lagi interaksi-interaksi kecil lain yang membekas di hati.

Terima kasih ya Namboru Ian, sudah mewarnai masa kecil dan remaja saya. Sudah ikut menjaga dan mengawasi saya juga. Sedih sekali saya nggak bisa hadir saat pemakaman karena ada di luar kota, hanya mendengar cerita dari mamak yang juga merasa kehilangan. I am sobbing writing this. May you rest in peace, Namboru. Selamat kembali ke rumah Bapa di surga. Tuhan memberkati.