We have that favourite aunt who showers us with lotta love and amuses with her life. I have one from my mother sides, I called her Tante De. She lives out of town but recently we met on one of family occasion. As usual she shares stories about what’s goin on with her lately.
Tante Pur
“Kowe kelingan Mbak Pur ra, Ka? Iku konco SMAku mbiyen iku lho.” Tanya Tante De dengan logat Jawanya yang medok. (terjemahan: Kamu ingat Mbak Pur, gak? Teman SMA-ku dulu)
“Yang tinggi gede itu tah?” (Dulu Tante De waktu SMA tinggal sama kami jadi yeah, saya tau teman-temannya juga)
“Ho-oh. Bar pindah agama.”
“Iya tah? Sekarang piye?”
“Mbalik Katulik.”
“Lho malah apik toh, Tan. Lagian pilihan pribadi. Ya gpp toh?
“Nek pindah agama mergo dikasih hidayah ki yo ra popo, lha iki agama mung nggo dolanan wae.” Jawabnya rada gusar. (terjemahan: kalo pindah agama karena panggilan hati ya gpp, lha ini agama dijadiin mainan).
Lalu ia bercerita bahwa Tante Pur yang awalnya beragama Katolik, pas kuliah memilih pindah jadi Muslim karena mau menikah sama pacarnya. Sekarang setelah cerai, dekat lagi sama seseorang yang agamanya Katolik jadi akhirnya balik lagi memeluk agama awal.
“Dulu aja pas ama suami pertamanya, tiap hari dengerin sholawatan, sekarang pas lagi pendekatan sama yang Katulik ini langsung puter-puter lagu Kidung Jemaat sama Madah Bakti. Keliatan bener pengen ngambil ati. Mbuh, tenanan opo ra iku.” Imbuh Tante De berapi-api.
Saya manggut-manggut mendengar ceritanya soal Tante Pur yang sedikit mengingatkan saya sama Emilia Contessa. Agak amaze tapi yah saya merasa bukan tempat saya berkomentar apapun karena buat saya agama adalah betul-betul ranah pribadi.
Tante De
Tante De sendiri seorang Katolik yang taat, sering saya melihatnya berdoa Rosario dan tak pernah absen ke gereja. Ia menikah dengan cinta pertamanya yang berbeda iman namun mereka tetap beribadah dengan keyakinan masing-masing. Apa itu ya sebabnya ia gusar melihat karibnya begitu? Entahlah.
Tante De melanjutkan ceritanya bagaimana ia yang tinggal di salah satu kota kecil di Jawa Tengah dengan pengalaman yang mumpuni sudah dianggap siap menduduki jabatan penting. Ia bahkan sudah ditawari, dijajaki untuk bisa naik ke posisi tsb namun dengan syarat mau pindah agama mengikuti suaminya.
“Ibu kan sudah lama di sini, kenapa ibu gak pindah agama saja mengikuti suami, jabatan ini sudah siap buat ibu,” Tante De menirukan perkataan atasannya.
“Terus tante jawab apa?” Tanya saya penasaran.
“Tak geguyu wae, lha bojo wae ra tak ikuti agamane apalagi iki mung nggo jabatan, mung donyo kok aku dikon pindah agama. Wegah!” (Terjemahan: aku ketawain aja, agama suami aja aku gak ikuti apalagi ini cuma buat jabatan, cuma buat dunia aja kok aku disuruh pindah agama. Nggak mau!)
“Tante De punya prinsip.”
“Iyalah, udah nikah 25 tahun sama oommu, gak pernah aku kepikir pindah agama melu dia. Gusti Yesus neng atiku. Aku dudu Mbak Pur sing iso gonta-ganti agama nggo lanang, nggo dunyo. Dudu.” Katanya lagi dengan bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia yang campur-campur.
Saya tersenyum mendengarnya. Kalo soal Tante Pur, ya udahlah, itu urusannya masing-masinglah ya, saya pikir Tante De cuma lagi butuh outlet cerita aja ke saya. Saya lebih senang mengapresiasi tante De, beliau perempuan Jawa yang punya prinsip, saya kagum padanya. Dengan jabatan yang ditawarkan, kehidupannya bisa meningkat drastis begitu juga dengan prestisnya. Tapi ia tak bergeming. Imannya lebih penting.
Anw, selamat menghayati Jumat Agung dan menyambut Paskah teman-teman.
Apapun keyakinan yang kita jalani semoga betul-betul merupakan panggilan hati.
Jadi inget Sinnead O’Connor yang pindah-pindah karena belum nemu yang sreg. Tapi orang sini mah van peduli soal pindah-pindah, di Indonesia masih big thing banget ya ini.
Masiiiih 😅 anw Sinead O’Connor terakhirnya jadi apa? Watta life experience she had, may she rest in peace
She died as a moslem woman. Changed her name to Shuhada as well.