Things That New Parents Should Know

Artikel ini adalah notes yang saya baca di Facebook. Ditulis oleh kawan blogger di Ngerumpi dulu, Larasshita Sania alias dek yayas. Karena menurut saya artikel ini berguna dan sangat membantu orang tua baru maka saya share di sini. Buat saya pribadi, supaya dapat dibaca kembali di lain waktu dan buat khalayak semoga dapat dibaca oleh lebih banyak orang lagi (tidak dibatasi pertemanan di Facebook saja). Take your time, this article really worth your time as a new parent ^_^

********************

Saya ucapkan selamat dulu kepada teman-teman yang baru dikaruniai buah hati, banyaknya foto anak kalian berseliweran di timeline membuat saya gemes dan pengen punya bayi lagi *eeehh
ga ding, bikin saya mengenang pengalaman awal-awal jadi ortu dan begitu banyak pelajaran baru dari prosesnya, izinkan kali ini saya rangkumkan dan semoga bermanfaat untuk pengasuhan bayi-bayi anda ke depan.

1. RUM (Rational Use Medicine)
adalah penggunaan obat maupun sarana pengobatan dengan rasional, tidak berlebihan dan tepat sasaran. Sebagai orang tua kita harus jeli memilih dokter anak dan fasilitas kesehatan tempat kita memeriksakan anak kita. Sebab mereka belum lancar berbahasa atau mendeskripsikan apa yang dirasa di tubuhnya, salah diagnosa merunut pada salah penanganan dan bisa berakibat fatal.
Dan sayangnya di Indonesia tidak semua dokter RUM, pernah mendapati kan kayaknya diagnosa sakitnya sederhana obatnya berjibun dan mahal juga selalu dikasih antibiotik? Jangan hanya karena pengen cepat sembuh dan berpedoman yang mahal itu pasti bagus main iyain aja. Harus sering kroschek dan banyak browsing/baca tentang kasus yang serupa.

Bagaimana tipsnya memilih dokter RUM?

  • Dokternya melayani konsultasi dengan teliti. Menanyakan kapan dimulai gejala sakit, ketidakwajaran yang menyertai, serta tidak langsung memvonis suatu penyakit tanpa menyertakan hasil lab atau memerinci kemungkinan sakit yang sejenis/hampir mirip.
  • Tidak meresepkan antibiotik untuk sakit yang disebabkan oleh patogen selain bakteri. Kalo anak anda pilek ga perlu antibiotik, anak anda kena roseola infantum, tidak perlu antibiotik. Antibiotik berakibat resistensi terhadap suatu patogen apabila aturan pakai penggunaannya tidak sesuai (harus dihabiskan meski sudah baikan & dosis pas dengan kondisi tubuh pasien). Resistensi ini sifatnya berbahaya, bisa menjadi penyebab alergi terhadap jenis antibiotik tertentu.
  • Jarang meresepkan obat atau vitamin apalagi sufor untuk bayi. Mengutamakan tindakan fisiologis untuk mengurangi gejala sakit dan menenangkan orang tua.
  • Mintalah copy-an resep yang diterima. Gunanya untuk apa? kita search nama obatnya lalu pelajari indikasi & kontranya, dosisnya, rekomendasi atau reviewnya. copy-an resep ini juga berguna sebagai pembanding untuk dibawa apabila kita butuh second opinion dari dokter lain.

Contoh kasus RUM

  • Anak saya yang pertama, nja. Ketika 3 hari lahir BBnya menyusut drastis dengan kulit cenderung kuning. Setelah cek darah, kadar billirubinnya 10.9 tetap diperbolehkan pulang dengan notifikasi harus dijemur & banyak disusui. Cek berikutnya H+5. BBnya masih turun, harusnya naik. Cek darah lagi billirubin 13,1 sementara ambang batas tertinggi kadar billirubin newborn baby adalah 12. Kondisi ini disebut jaundice. DSA kami tidak menyarankan rawat inap, tetap susui hingga BB ada kenaikan, jemur matahari pagi (maksimum sd jam 8) dan tangiskan. Iya tangiskan. Cek lagi H+7 sekalian imunisasi. Kadar billirubinnya turun 8.9 dengan kenaikan BB 200gr.  Sementara saya pernah membaca di sebuah forum sharing seorang ibu yang bayinya ditahan pihak RS seminggu untuk diinkubator hanya karena billirubinnya 9.6…
  • Anak saya yang kedua, bam. Saat usia 11 minggu sesak pernafasannya, keluar bunyi grok-grok saat menghirup/menghembuskan udara dari hidung. Dokter langganan sedang cuti jadi ke sebelahnya. Baru sebentar sekali diraba pakai stetoskop langsung bilang opname! saat ini juga! Bronkupneumonia diagnosisnya. Saya tahu anak ini butuh tindakan/pengobatan untuk kondisinya tapi prediksi saya tidak sampai opname. Saya kejar berbagai macam pertanyaan sebab suhu badannya normal, nafsu makan banyak serta tidur relatif tenang, dokternya hanya bilang masuk kamar dulu bu nanti ada pemeriksaan lebih lanjut, sembari menulis 2 atau 3 resep. Saya paksa bawa pulang, lalu RS bersangkutan meminta surat pernyataan dari saya apabila sewaktu-waktu kondisi anaknya membahayakan, dokter dan RS tidak bertanggungjawab karena saya yang tidak mengindahkan saran opname.

    Seketika saya bablas ke RS lain, setelah saya ceritakan kronologisnya. DSA senior yang saya temui ini dengan arif berkata, tidak salah dokter sebelumnya sebab jalan nafasnya mengkhawatirkan tapi ibu juga tidak salah sebab tanda vitalnya masih bagus. Lalu beliau berikan terapi fisologis berupa penguapan & pemijatan dan obat pengencer dahak. Dengan catatan saya tidak dibolehkan makan coklat sedikitpun, apapun bentuknya. 2 Hari berikutnya kontrol. H+2 masih grok-grok tapi lendir sudah berkurang, indikasinya bukan bronkupneumonia sebab tidak disertai demam sebagai tanda infeksi namun alergi! Iya alergi makanan… dan dimulailah sejak hari itu saya putus hubungan sama coklat sampai adek disapih. Bukan hanya coklat ternyata seafod juga pemicunya, ini saya tahu pas imunisasiin kakaknya seminggu kemudian ke dokter lain lagi, si adek udah sembuh koq balik lagi grok-groknya padahal sudah dikondisikan stabil lingkungan. Beliau cerita anaknya yang sama persis. Dan walaaaa… baru diingat kemarennya saya enak-enakan makan kepiting+kerang.

    2. ASIX (Air susu ibu eksklusif)
    Kecuali ibu sedang menjalani pengobatan penyakit berat atau sedang mengidap virus hepatitis atau AIDS misalnya, ibu wajib memberikan ASI kepada bayinya. Ini diatur di UU Kesehatan kita lho, dan khusus yang beragama muslim di surah Al-Baqarah ayat 233 juga diwajibkan bayi disusui sampai 2 tahun. Bukan tanpa maksud, tapi manfaatnya besar. Bayi yang mendapat ASI secara khusus terus menerus selama minimal 6 bulan antibodinya jauh lebih bagus. Bahkan di kemasan sufor-pun ada keterangan : ASI yang terbaik.
    Jangan bilang repot karena bekerja, pompa ASI udah banyak banget sekarang. Tutorial manajemen ASIP juga udah banyak. Bila kesulitan datangi konselor laktasi atau kontak ke AIMI, ayah juga berperan. Sebab lancarnya ASI itu karena pengaruh hormon, hormon yang sama kayak yang dihasilkan ketika orgasme. Jadi ibunya dibikin seneng biar ASI tetep lancar.

    Ndak perlu jamu atau ramuan khusus pelancar ASI, makan sehat seimbang & jangan setress udah lancar koq. Agar optimal perlekatan mulut bayi ke puting ibu harus sempurna menempel. Cara nempelnya bisa dibrowse lebih lanjut dengan keyword perlekatan mulut bayi & puting. Saya pernah terkendala saat anak pertama, newmom yang ngurus sendiri semuanya. Perlekatan ga sempurna ASI ga lancar keluar hingga tersumbat salurannya dan mengalami mastitis (peradangan payudara), demam sampai 40 derajat selsius. Beeeuuuh ajib deh sakitnya. Solusinya? disusuin banyak-banyak ke anaknya dengan perlekatan yang diperbaiki.

    Selama 6 bulan jangan kasih bayi minuman apapun selain ASI, apalagi makanan. Aturan WHO dulu cukup sampai 4 bulan, setelah melalui research diperbarui hingga 6 bulan baru MPASI. Lanjutkan hingga 2 tahun. Soal ASI ini saya boleh sedikit berbangga, selain saya suka nyusuin anak saya juga suka banget sama ASI. Saya patahkan banyak mitos yang bilang ASI kadaluarsa, ASI jadi darah. Saya tetap menyusui selama hamil anak kedua (Nursing While Pregnant) dan setelah si adek lahir, kakaknya juga tetep nyusu (tandem nursing). jadi kayak kucing tengkrunthel -hahaha. In shaa Allah 2 bulan lagi genap 24 bulan kakaknya & boleh disapih. Pertama kali kakak sakit waktu usianya udah 14 bulan, saya rasa sih berkat tameng ASI juga.

    Oiya, salah satu sukses story ngasih ASI adalah proses IMD (inisiasi menyusui dini) yang sempurna. Begitu bayi lahir taruh di perut ibunya untuk nyari puting & ngisep kolostrum (ASI pertama berupa cairan kekuningan, bagus untuk melapisi organ pencernaannya). IMD yang baik tidak dibatasi waktu, ditunggu sampai bayi meraih puting sendiri dengan mulutnya. Kalau bisa tidak perlu dibersihkan/dimandiin dulu sebab air ketuban yang menempel pada kulit bayi itu diketahui sebagai pemandu ke arah puting ibunya yang punya aroma sama. Sebisa mungkin cari faskes yang memperbolehkan rawat gabung antara ibu & bayinya. Susuin kapanpun bayi mau. Jangan minder payudaranya kecil, ga ngaruh sama produktivitas ASI. Ada hukum supply & demand, makin banyak disedot makin banyak kelenjar mamae produksi ASI. Menurut teori bayi lahir sehat cukup bulan dapat bertahan hingga 72 jam sejak kelahirannya tanpa makan atau minum. Jadi kalau ASInya belum keluar jangan main hajar pakai sufor ya, cobain aja disesepin putingnya 🙂

    3. KPSP (kuesioner pra skrining perkembangan)
    Tumbuh kembang anak ada 2 tolok ukurnya. Tumbuh yang berkaitan dengan badan, ada skalanya dalam bentuk kurva berat badan, tinggi badan & lingkar kepala. Kembang berkaitan dengan kemampuan bayi dalam hal motorik halus & gerak kasar, emosi, sosialisasi, kemandirian, juga kemampuan bicara/komunikasi. Masing-masing dicek di usia 3,6,9 bulan dst keliapatan 3. Tiap fasenya ada 10 indikator. Bila banyak nilainya tidak 10 bulat kebisaan bayi kita di usianya maka disarankan untuk dilakukan stimulasi yang tepat sesuai usia dan kekurangannya. Bila setelah dilakukan stimulasi dan usia sudah beranjak namun tidak juga memenuhi bapak ibu musti waspada, minimal konsultasi sama Dokter spesialis anaknya atau kunjungi klinik tumbuh kembang.

    Tiap bayi kan beda-beda perkembangannya. Nja tidak bisa merangkak sama sekali sampai usia 9 bulan malah langsung berdiri dan belajar jalan usia 10 bulan. Ternyata merangkak bukan indikator mutlak perkembangan, tapi menuju barang yang disukai. Nah bisa ngesot atau berguling. Bam lebih parah, bikin setres sampai usia 7 bulan cuma telentang aja. tapi kalau didorong dia bisa menelungkupkan badan, dalam posisi telentang ditarik tangannya ke atas, kepalanya bisa betegak mengikuti. Akhirnya disimpulkan sama dokternya dia cuma males – haha. Dan keajaiban muncul abis lebaran kemaren entah kenapa dalam seminggu dia lincah tengkurap, duduk dan merangkak sekaligus. Sekarang 8 bulan sudah berdiri, sebulan lebih cepat dari kakaknya.

    Ini link lengkap tentang KPSP : http://tumbuhkembang.net/alat/kuesioner-pra-skrining-perkembangan-kpsp/

    contoh kasus kenapa KPSP sangat penting bisa dibaca di sini : http://mommiesdaily.com/2012/12/10/anakku-terinfeksi-rubella/

    4. MPASI (makanan pendamping air susu ibu)
    Namanya pendamping berarti tetap yang utama ASInya. Diberikan setelah bayi berusia 6 bulan. Ada banyak aliran, ada yang berfaham diberikan pengenalan karbo saja dulu, atau buah-buahan, atau sayur-sayuran. Ada yang dikasih berbentuk puree atau bubur lembut lalu meningkat teksturnya sesuai usia & kemampuan menelan bayi. Ada yang kebalikannya pakai BLW (baby led weaning), saya pakai yang ini.

    Masing-masing metode bagus asalkan prinsip dasarnya dipenuhi :
    1) utamakan homemade/non instan. makanan isntan meski dibilang mengandung 41 mineral & vitamin tetap saja mengandung pengawet yang notabene tidak baik bagi tubuh bayi. Jadi jangan keseringan.
    2) No gulgar; tidak diperlukan gula garam tambahan, sebab akan membebani kerja ginjal pada bayi. Bayi di bawah usia 1 tahun kebutuhan garamnya hanya 1gr/hari dan sudah terpenuhi dari ASI, bilapun ditakutkan hambar ibu dapat menyiasati dengan mengkombinasikan bahan makanan dengan jeruk baby atau bit atau buah-buah lain yang rasanya kuat.
    3) Menggunakan sarana makan yang higienis. Kalaupun menggunakan yang berbahan plastik usahakan yang sudah BPA free.
    4) 3 days rule :  ada beberapa anak yang rentan alergi makanan. Jadi berikan bahan makanan yang sama tiga hari berturut-turut apabila tidak berbecak merah, tidak menimbukan batuk & feses normal maka bahan makanan tersebut aman buat dikonsumsi. Nja ga bisa makan keju, jadi mencret. Makan wortel jadi sembelit. Kalau si bam ga bisa coklat, seafood, telur & ayam potong. Grok-grok langsung nafasnya.

    Ga usah pusing soal MPASI, mau contek resepnya bisa masuk grup FB homemade healthy baby food. Berjubel kreasinya, selain itu banyak juga dokumen seputaran makan pada bayi yang sudah disunting ibu adminnya. Tapi saya disini suka nyuri resep aja sebab metode yang saya pilih BLW, jadi kalau diskusi tentang cara makannya agak beda.

    5. BLW (Baby Led Weaning)
    Adalah kasih makan bayi yang sekarep-karepnya dia. Bayi didudukkan kasih makanan lalu dia dibiarkan secara alami belajar mengambil/menjumput dan memasukkan ke dalam mulutnya sendiri. Belajar ngunyah sendiri dulu baru belajar nelan. Kebalikan dari yang metode puree yang teksturnya lembut langsung telan baru naik ke agak kasar biar bisa ngunyah.

    Filosofi BLW ini sangat bagus, namun kurang familiar apalagi di Indonesia. Penerapannya juga agak-agak ngeri kalau mamanya ga tegaan. Akan ada fase chocking atau keselak sampai anak melotot-lotot lalu terbatuk untuk ngeluarin makanannya sendiri. Untuk meminimalisasi ketakutan, prinsip dasarnya harus terpenuhi, seperti : Bayi sudah harus bisa duduk betegak, Bayi dalam kondisi fun & siap makan ( tidak terpaksa),  Bayi sendiri yang memulung & memasukkan makanannya, Jangan panik sampai pukul-pukul punggung, Jangan buru-buru kasih air.

    BLW membiarkan bayi untuk mengenali apa yang akan masuk ke mulutnya. Dia akan bisa mengukur jarak makanan sampai mulut, seberapa besar yang mampu dimasukkan mulut, bagaimana ngunyahnya, sudah bisa diterima kerongkongan atau belum. Chocking adalah upaya bayi untuk mengeluarkan makanan yang terlalu besar dari kerongkongannya.

    Dengan BLW bayi akan dibiasakan mengunyah. Lah tapi ga punya gigi?
    Gusi bayi beda sama gusi manusia dewasa, meski ga ada giginya tapi dia cukup kuat untuk mengunyah (begitu yang saya baca di referensinya). Ini sesuai dengan prinsip dasar pencernaan makanan : di dalam mulut ada fase pencacahan/mekanis pelembutan makanan dengan cara mengunyah, setiap kunyahan akan merangsang keluarnya liur yang mengandung enzin ptialin untuk mengoptimalkan pencernaan makanan dari segi kimiawi. Sehingga tidak memberatkan kerja lambung dan usus.

    pupnyanya gimana ga sembelit? kalau makan toge ya keluarnya toge, kalo makan buncis ya potongan buncis. Ga bahaya tu? saya baca emang gitu. Kalau bayi-bayi yang MPASinya pake puree pupnya lancar & halus karena awal yang diasup juga udah halus diblend.

    BLW tidak disarankan untuk bayi-bayi yang kurva tumbuhnya di bawah normal seperti berat badan kurang. Sebab banyakan main-main & buang-buangnya di awal-awal masa makan. Emaknya juga kudu sabar ngebersihin. Anak-anak saya satu sampai 2 minggu pertaman makan nyaris ga banyak yang tertelan soalnya dia masih mengenali dan belajar ngunyah.
    Dulu sempet ga dibolehin tapi kerasa bener lho manfaatnya, antara lain : ga rempong kalo mau pergi-pergi. Tinggal bawa potongan buah atau rebusan sayur cukup. Terus anaknya juga fun kalau makan, ga stress dan ga ada cerita GTM (gerakan tutup mulut).
    Motoriknya cepet banget terlatih, dari segi koordinasi selama proses ambil-jumput-arahkan-kunyah.

    BLW yang tidak populer ini bakalan disinisi sama lingkungan sekitar lho, jadi ya tutup kuping aja. Dulu pernah sedikit ribut sama DSA di jogja, kebetulan lagi mudik & nja jadwal imunisasi campak. Ditanya kebisaannya, saya bilang udah lancar jumput makan sendiri. Beliau ga percaya, nanya makannya apa. Saya jawab yang lagi dia seneng telur rebus sama buncis rebus. Beliau bilangin ibu ngawur ya baru 9 bulan udah dikasih begitu. *eeeng ing eeeng, keluarlah kultum soal BLW. Kalau DSA langganannya cuma berpesan, agar dikombinasikan juga dengan disuap supaya jatuhnya tidak permisif. Kebetulan kakak nja ga suka banget disuap jadi full BLW, kalau adek bam nafsu makannya yang sangat besar suka bikin dia emosi kalo makanannya licin ga nyampe-nyampe mulut jadi ya saya kombinasikan suapan. Ini bocah-bocah 7 bulan makannya udah nasi lhoo :))

    Referensi : buku karangan Gill Rapleys, Baby Led Weaning.

6. IMUNISASI
Imunisasi adalah proses pembentukan antibodi atau sistem imun anak terhadap beberapa patogen penyakit yang banyak menyerang balita. Ada yang bilang Imun Is ASI, betul itu pembentukan imun pertama adalah dari ASI seperti yang saya jelaskan di atas. Tapi berikutnya perlu ditindaklanjuti dengan proses vaksinasi.

Apa itu vaksinasi? Dimasukkannya vaksin baik per oral atau per suntikan sesuai dengan usia bayi anda dengan jadwal yang tepat.
Vaksin itu apa? Vaksin itu isinya penyakit! Patogen yang udah dilemahkan.
Misal vaksinasi BCG untuk mencegah TBC, bayinya disuntikkan bakteri TB yang sudah dilemahkan. Dengan begitu tubuh akan merespon dengan membentuk antibodi untuk menamengi dari serangannya. Karena bakterinya sudah dilemahkan, maka diharapkan tidak akan terjadi komplikasi/kena TBC benerannya. Oleh karenanya sering ada kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) seperti demam sebagai reaksi dari pembentukan antibodi oleh tubuh. Tapi anak saya jarang, dari sekian banyak suntikan cuma 2 kali demam.

Kenapa harus tepat jadwal? sebab masing-masing vaksin didesain peruntukannya dengan penyesuaian perkiraan kapan bayi akan rentan terkena penyakit A atau B.
Misal, jadwal BCG adalah saat usia bayi kurang dari 3 bulan. Kalau sampai usia 3 bulan lebih bayi belum mendapat BCG, maka bayi diwajibkan untuk test tuberkulin dengan test mantoux. Bila hasil tuberkulinnya negatif maka bisa divaksinasi, bila positif berarti bayi sudah terinfeksi maka dilakukan pengobatan dan tidak perlu vaksinasi sebab udah sia-sia. Bakteri TB ini sering menginfeksi bayi-bayi di bawah usia 3 bulan.

Kalo ga sempet atau berhalangan gimana? saya juga pernah telat, lalu kata dokternya diusahakan tidak melebihi 7 hari dari jadwal yang sudah ditentukan. Asal tidak sedang demam, batuk pilek atau meler-meler dikit gitu gapapa divaksinasikan.

Pengelompokannya ada dua imunisasi ini kalau di Indonesia :
1.) Imunisasi dasar PPI (program pemerintah)
Tidak berbayar karena vaksinnya disubsidi pemerintah, bisa didapat di posyandu atau puskesmas. Ada BCG, DPT, polio, Hepatitis B, Campak dan yang baru HiB.

2.) Non PPI.
Vaksinnya berbayar, ada PCV untuk pneumonia, Rotavirus untuk diare, Varicella untuk chicken pox/cacar air, MMR (mumps, morbili, rubella), typhoidA, Vaxigrip untuk influenza (bukan flu biasa atau common cold ya)
nah vaksin yang non PPI juga ada yang berbayar, seperti DPT varian pertusisnya diubah untuk meminimalisasi demamnya jadi DPaT. Ini bukannya tidak penting ya, tapi karena ga disubsidi jadi bayar mandiri jatuhnya mahal lalu ga familiar. Rerata sih penyakit yang dibuat vaksinnya adalah penyakit yang punya riwayat epidemi besar, berefek buruk berkepanjangan dan sebarannya cepat.

Pemberian vaksin bisa simultan kalau semisal jadwalnya barengan. Bisa juga diselang-seling, beberapa kali anak saya juga disuntik paha kanan-kiri. Sekarang sudah banyak vaksin pentavalen bahkan hexavalen. Digabungin jadi sekali suntik dapat DPT, Polio & HiB (kalo di DSA merk dagangnya pediacel, ada juga infanrix). Yang Hexavalen (6 varian) diisi hepatitis B juga sekali suntik. Kalo di posyandu pentabio kalo ga salah namanya.
Kebetulan kemaren dua anak semuanya dari awal ke DSA jadi agak tinggi investasinya, padahal harusnya kalau mau menghemat yang imunisasi PPI bisa ke Posyandu. Tapi harus agak jeli ngatur jadwalnya, sebab nanti kan ada dua tempat imunisasi. Vaksin yang paling mahal PCV strain 13 dengan merek dagang prefenar 13, termurah seharga 750 ribu saya temui di rumahvaksinasi, Harga eceran tertinggi di kemasannya tertulis 850 ribu belum termasuk ongkos dokter.

Banyak juga sih pro kontra vaksin, saya udah mulai browse dari sebelum nikah. Sampe sempet lho teracuni ga mau memvaksinasi, akhirnya tercerahkan dan saya anggap itu sebagai bentuk asuransi. Lebih baik mencegah daripada mengobati kan ya… Tokh riset tentang vaksin ini berjalan dan berkembang terus menerus berbanding lurus dengan kemajuan teknologi. Dan dengan pengawasan ketat dari banyak lembaga kesehatan dunia.
Halal – haramnya yang masih debatable saya kembalikan kepada persepsi masing-masing.

Kalau saya malulah, rela nabung buat gadget terbaru, travelling sana-sini, baju tas branded tapi anaknya ndak divaksinasi yang mencukupi. Saya pribadi nganggap karena saya yang pengen punya anak, saya yang mau dia lahir ke dunia ya udah saya harus konsekuen dengan bertanggungjawab memberikan yang terbaik buat anak-anak saya.

Nah bapak dan ibu baru saya sarankan gabung di grup FB : GESAMUN (Gerakan sadar imunisasi)
Sedikit yang saya jabarkan tentang imunisasi di atas ada lagi perinciannya di starter kit dokumen di grup tersebut. Bisa dibaca dengan teliti sampai detil untuk menambah pengetahuan. Saya juga tahunya baru-baru ini, biasanya browse/konsultansi sama dokternya anak-anak aja.

Terakhir, kalau taggingnya annoying bisa dicopot sendiri ya teman-teman. Niatnya cuma mau share sedikit pengetahuan berdasar pengalaman aja, maka yang saya tag yang saya kenal lagi atau baru mau jadi Ortu – hehe
Semoga bermanfaat.

Advertisements

2 thoughts on “Things That New Parents Should Know

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s