Bali Zoo: Bukan Sekedar Main ke Bonbin tapi juga Wisata Edukasi dan Konservasi

“Look mom, it’s a biiig cat!” Seru anak saya saat melihat harimau di televisi.

“No, son. That’s a tiger. They are still brothers with cat, though,” kata saya mengoreksi.

“No, mom. That’s a cat. CAT. CAAAAT,” kata anak saya ngotot.

Hahaha. Saya menghela napas panjang. Nampaknya sudah waktunya buat Basti diperkenalkan ke hewan-hewan untuk menambah khasanah pemikirannya. To be honest,  I am not a big fan of a zoo, tapi daripada anak saya beneran nggak ngerti binatang maka sudah waktunya buat Basti jalan-jalan ke bonbin :D. Dan kebetulan pas kami di Bali maka kami mampir ke Bali Zoo yang ada di Gianyar.

Wisata Keluarga di Bali Zoo, Gianyar

Hari sudah agak siang saat kami sekeluarga sampai di Bali Zoo. Setelah memarkir mobil dan membeli tiket maka kami pun segera berkeliling ke bonbin seluas 10 hektar ini. Untung saya sudah pakai flats jadi udah siap jalan kaki jauh. Yeay!

Seperti tujuan awal maka binatang pertama yang kami lihat jelas adalah harimau. Dengan penuh semangat saya jelaskan kepada Basti perbedaan harimau dan kucing itu apa. Ia mengangguk-angguk, apalagi begitu melihat perbedaan ukuran antara kucing dan harimau seperti apa. Setelah melihat langsung harimau maka Basti udah nggak protes lagi, dia sepakat sama saya mana harimau mana kucing 😛 hihihi. Namanya anak kecil ya, lihat harimau di TV yang kecil ya bisa aja dikiranya itu adalah kucing. Saat melihat harimau ini, kami ditawari untuk feeding the tiger. Tarif untuk aktivitas feeding ini adalah IDR 60.000,-. Saya penasaran kayak apa, deg-degan juga sih. Tapi dicoba aja. Hihihi. Dan ternyata seru. Auman harimaunya lumayan bikin jantung ketar-ketir. Saya sempat melirik anak saya namun ternyata ia nyaman aja, nggak takut malah terpesona. Perdana lihat harimau sedekat ini keknya. Hihihi.

Setelah melihat harimau, kami pun mencoba naik safari bus double decker. Wow! Keren banget. Anak saya semangat buat naik ke atas bus dua tingkat ini. Saat menunggu busnya datang, Basti dengan riang melihat-lihat sangkar ular yang ada di dekat terminal bus. Desain kebun binatangnya tepat fungsi ya, biar nggak bosen nunggu busnya datang maka pengunjung bisa sambil melihat satwa lain juga.

Ohya, jelas kami memilih duduk di atas dong biar mata bisa lepas bebas memandang pepohonan.  Rasanya seru banget bergoyang-goyang di bagian atas bus sementara wajah diterpa semilir angin, dan mata menjelajah hijau dedaunan serta pepohonan dari ketinggian. Suara riuh burung-burung, gemerisik daun, gemericik air dan sesekali auman singa membuat suasana terasa makin gembira. Sungguh, melihat sesuatu dari angle yang berbeda itu menimbulkan sensasi tersendiri. Menyenangkan. Membuat saya sering tersenyum lebar, makin sering lagi saat melihat anak saya juga ketawa riang. Benar pepatah londo yang bilang, “your happiness is my happiness too.”

Animal Encounters

Bus safari membawa kami ke area bagian belakang di mana kami bisa melihat banyak satwa lainnya. Karena hari sudah agak siang maka kami pun istirahat makan dulu di Restoran Wantilan yang terletak di atas bukit. Sambil makan siang, maka ada aktivitas bernama animal encounter di mana kita bisa berfoto dengan binatang. Errr, begitu tau kalau kita bisa berfoto dengan para binatang, saya terkesiap. Anuh, saya takut sekali kalau saya melukai binatangnya. Namun Bali Zoo mempunyai peraturan cukup ketat soal berfoto dengan binatang ini. Diantaranya adalah kita harus cuci tangan dengan sabun antiseptic, lalu diarahkan memegang bagian yang mana oleh petugasnya, tidak berfoto menggunakan flash dan petugasnya berulang kali bilang bahwa jika binatangnya tidak nyaman maka tidak bisa memaksa. Yeay! Saya suka yang begini, nggak seharusnya binatang dipaksa berfoto tapi kalau memang mereka mau, ya gpp dong. Hehehe.

Anak saya kaget saat memegang buaya di Bali Zoo. It’s cold, mom,” begitu serunya. Hahaha. Saya sih santai aja megangnya. Tentu saya sudah cuci tangan dan tidak mencekik buayanya ya…

Taking a pic with Siamang Gibbon at Bali Zoo.

Saat berfoto dengan binatang, ingat ya. Mereka artisnya, bukan kita. Maka kita yang menuruti mereka. Kalau mereka nggak mood, jangan dipaksa.

Setelah itu, masih di area yang sama, kami menyaksikan bird show. Berbagai macam burung terbang dan memeragakan cara menangkan makanan. Anw, kuku atau cakar dari burung yang ada di Bali Zoo ini nggak dipotong lho, makanya para petugasnya mengenakan sarung tangan kulit yang tebal gitu. Bravo Bali Zoo!

Saat akan berfoto dengan gajah, saya sedikit takut. Bukan takut karena gajahnya gede tapi takut kalau gajahnya diperlakukan tidak baik supaya mau menuruti pawangnya. Karena penasaran maka saya pun bertanya kepada Mbak Henny, pemandu kami.

“Mbak, gajahnya diiket nggak?” Tanya saya penuh selidik.

“Nggak, Mbak. Di sini nggak diiket.”

“Terus biar mau nurut, apa tengkuk lehernya dipukul-pukul pake linggis?”

“Hah?” Jawab Mbak Heny terkejut. Saya lihat bola matanya agak membesar.

“Enggak, Mbak. Kami nggak melakukan itu. Tapi ada tindakan preventif yang akan kami lakukan kalau gajahnya kurang nyaman atau membahayakan pengunjung, tapi hal itu belum pernah terjadi,” jawab Mbak Heny lagi.

Ah, saya pun lega setelah mendengar jawaban Mbak Henny dan akhirnya mau coba memberi makan gajah-gajah di sini. Saya coba sodorkan wortel kepadanya, langsung ditarik masuk ke dalam mulutnya gajah. Belalainya terasa dingin basah gitu, saya sampai menjerit kaget karena terpesona. Hihihi. Memberi makan gajah adalah pengalaman yang seru banget buat saya.

Hari sudah agak sore dan kami pun memutuskan untuk pulang. Pas balik ke area shuttle ternyata ada kereta api mini gitu dan anak saya pun minta naik. Hahaha, saya turuti aja biar makin happy. Cukup dengan membayar 20 ribu maka sudah bisa muter 2x. yeay.

Mini Train di Bali Zoo. Bayar 20 ribu bisa keliling 2x, anak say asnenag banget!

Jujur, awalnya saya agak kurang sreg dengan konsep kebun binatang, namun Bali Zoo ini beda. Sepanjang kunjungan saya dan keluarga, yang saya tangkap, Bali Zoo ini bukan kebun binatang biasa tapi lebih ke arah wisata edukatif buat keluarga. Ada Do’s and Don’ts yang jelas yang diberitahukan kepada pengunjung dan mereka memperlakukan binatang dengan baik. Bahkan ada nutrisionist khusus yang menangani menu makanan hewan. To recap my visit, here are things you should do when you visit Bali Zoo:

Things to do in Bali Zoo:

  • Naik bus safari double decker, dan rasakan pemandangan dari ketinggian yang seru.
  • Animal encounters, mengenal binatang lebih dekat dan silakan berfoto-foto bersama mereka. Jangan lupa taati peraturan Do’s and Don’ts dari pengelolanya ya. Peraturan tersebut dibuat untuk keselamatan kita dan para binatang.
  • Elephant Expedition, I wish to do it at that time but too bad there was not enough time.
  • Melihat bird show. Bakalan takjub deh.
  • Ngopi-ngopi cantik di Wana Restaurant sambil melihat Singa si Raja Hutan melalui jendela kaca. Ini must do banget deh! Mana musik dan suasana restorannya itu benar-benar keren! Berasa safari banget. Ini wajib dilakuin ya!
  • Feeding the animal, baik gajah, harimau atau binatang lainnya. Tentu dengan pengawasan pengelolanya ya karena setiap binatang diukur takaran makanannya biar nggak sakit.
  • Naik mini train, buat yang suka anak kecil. Hehehe.

Waktu mamam di Wana Restaurant.

Selain di atas, ada banyak hal lain lagi yang bisa dilakukan di Bali Zoo. Mereka punya banyak program menarik seperti Breakfast with Orang Utan, Night at the Zoo (iiih pasti seru lihat kerlap-kerlip mata hewan di malam hari), Elephant Expedition dan masih banyak lagi. Seharian di sini memang nggak cukup, keknya minimal butuh 2 hari buat eksplor semuanya deh. Melihat antusiasme anak saya, kayaknya saya dan keluarga akan balik lagi ke Bali Zoo, mungkin sambil nginap di Sanctoo Villa yang lokasinya terletak di tengah kebun binatang ini biar makin sedap experience-nya ^_^ Hehehe.

 

Anw, Moms… Kapan terakhir kali bawa anak ke kebun binatang?

.

.

.

Bali Zoo

Alamat : Jl. Raya Singapadu Banjar Seseh Sukawati Batuan Sukawati Gianyar Bali

Jam operasional : Buka Mulai pukul 09.00 – 17.00 (reservasi terakhir)

Untuk night at the zoo, buka mulai 17.30-20.30

Harga Tiket :

Domestik : Dewasa Rp. 110.000,-, Anak-anak Rp. 85.000,-

Mancanegara : Dewasa Rp. 321.300,-, Anak-anak Rp. 208.250,-

Advertisements

9 thoughts on “Bali Zoo: Bukan Sekedar Main ke Bonbin tapi juga Wisata Edukasi dan Konservasi

  1. Ria says:

    saya naksir sepatunya… salah fokus… Kl temen saya lain… Anaknya blm pernah liat kucing (mrk tinggal di US). Nah, pas ke Jakarta kan banyak kucing liar. Anaknya lgsg spontan berseru,”Wow! So many tigers here!” :))))))))

  2. coretandenina says:

    jadi kudu nurut sama artis ya say…hm.
    aku lagi mbayangin muka Basti saat ngotot bilang cat…. 😀

    konsep villa di tengah kebun binatang menarik. Ini cocok buat anak-anak seperti Basti yang mau belajar tentang binatang… tapi kudu melek jagain, ntar tiba-tiba aja ke luar tengah malam pengen main sama yang di luar… hahaha

    • Ceritaeka says:

      Huahahaa ampon kaaaak Basti emang seneng banget. Aku kemarin sempet mampir ke Villanya, yaampun lokasinya bener-bener secluded. Kerenlah. Sayang penuh terus. Sekarang aja sampe awal sept nggak bisa book hahaha. Banyak keluarga yang seneng ke sini

  3. Charis Fuadi says:

    ke kebun binatang itu sungguh ngangenin…kalau disini pingin naik bus dubble deknya eh..seru kayaknya diatas bareng keluarga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s