Slow Afternoon

There’s one thing I’ve learned along the way, though, is how much it helps to have someone who stands with you. My husband has been that for me. He has been that quiet strength for me. On days when mood swings and anxiety (due to my health) quietly take over the rhythm of life, it takes a special kind of person to meet you with patience and kindness. Someone who listens without rushing to fix things, who laughs in tears with you over back and forth reels that we sent to each other, or who gently pets the cat – even after she has scratched another part of our sofas.

My inner circle friends have been that for me as well. Those whom I can poke at any time just to rearrange my heart, suddenly coffee or hours of gibberish just to clear the fog in our heads.

I’m so thankful to have hubby and close friends by my side, and I sincerely hope you have people like that too.

Baca lebih lanjut

Thankful

Menjelang akhir tahun ini, saya sering bertanya ke diri sendiri: apa yang paling saya syukuri dari tahun ini?
Jawabannya sederhana: support. Dari banyak arah, dalam banyak bentuk.

Di pekerjaan, saya belajar lagi bahwa tim bukan sekadar orang-orang yang bekerja bersama, tapi orang-orang yang memilih untuk saling menopang. Saya bersyukur memiliki tim yang solid. Pernah, suatu kali tim kami ketiban kerjaan tim lain dan itu adalah project Rorojongrang. Terbiasa membuat timeline dan distribusi pekerjaan (tanpa pushing, karena itu bukan gaya saya), saya sampaikan ke tim risiko jika tugas ini tidak selesai dan saya prep tim jika karena ini maka kami semua kena getahnya. Saya kira mereka akan nggrundel (siapa coba yang seneng ketiban kerjaan tim lain?), ngedumel atau mundur, namun jawaban mereka mengagetkan saya.

Baca lebih lanjut