Akhir-akhir ini bersliweran thread yang agak berbeda di home feed saya. Yang paling bikin saya mikir adalah tentang seseorang yang landing hampir tengah malam di bandara lalu menimbang-nimbang mau pulang ke Depok dengan ongkos taksi yang melambung atau menginap di Soetta lalu pulang besok paginya menunggu hari terang karena bus DAMRI yang lebih terjangkau baru beroperasi mulai pagi. Saya diam cukup lama. Buat saya, bisa pulang (naik taxi/dijemput) jam berapapun malemnya pas landing setelah pulang bepergian tuh standar. Udah selayaknya dapat perlakuan gitu. Ternyata privilege. Dan itu karena suami saya rela ikhlas dengan sukacita jemput saya.
Selama ini karena saya sibuk menjalankan kehidupan, banyak hal yang terasa normal. Suami jemput. Suami support. Anak peluk dan cium. Keluarga ada -sangat guyub malah. Teman-teman sayang sama saya. Saya tak pernah kekurangan orang-orang yang selalu membantu. Dan karena semua itu hadir berulang kali, otak saya memindainya sebagai: HAL NORMAL. Padahal hal itu bisa menjadi normal dalam kehidupan saya tanpa menjadi sesuatu yang otomatis adalah hak di alam semesta. Ini dua hal berbeda.
Hal yang selama ini saya anggap sebagai standar ternyata adalah bentuk kasih sayang seseorang kepada saya. Setelah minggu lalu saya menyadari kalau saya banyak melakukan invisible labour, minggu ini saya baru menyadari ternyata selama ini saya menerima banyak invisible love.
Baca lebih lanjut