Pekan lalu resmi saya nobatkan sebagai pekan huru-hara bagi saya dan anak saya. The struggle is real. Kenapa? Karena di minggu itu, segala macam agenda numplek-plek jadi satu kayak katering kondangan. Coba cek list-nya:
- Ada turnamen futsal
- Ada ujian gitar klasik
- Persiapan kompetisi marching band di bulan Desember
- Persiapan recital gitar klasik di bulan November
- Persiapan try out TKA
Lha, itu kan yang sibuk anaknya? Kenapa ikutan bilang kalau kamu juga sibuk, Ka?
Hehehe. Sebagai seorang ibu, ada satu fenomena tak kasat mata yang namanya invisible labour. Iya benar, anak saya yang capek ngejalanin semua kegiatannya di garis depan, tapi di balik layar ada saya nih, emaknya yang begadang mikirin sistem pendukungnya. Mulai dari:
- Mastiin jadwal les nggak saling overlap
- Ngecek perlengkapan tempur lengkap nggak ada yang ketinggalan
- Ngatur ritme latihan biar anak nggak burnout
- Mastiin transportasi dan logistik jalan
- Ngingetin jadwal ujian biar nggak ada drama lupa
- Sampai mastiin resital masuk kalender keluarga dengan rapi…
Pun di sela-sela itu saya masih masak kudapan kesukaannya buat doping kalo abis les bejibun. I am literally the project manager behind all that. Dan percayalah, invisible labor itu exhausting banget secara mental. No, saya tidak sedang mengeluh, saya melakukan semua itu dengan happy dan penuh cinta. Tapi, rasa bahagia itu bukan berarti menisbikan fakta bahwa pekerjaan di balik layar ini memang menguras energi. Jadi, kalau sesekali saya bilang, “I am tired managing all his activities,” YA WAJAR TOH 😂
Saya bukan capek karena anak saya berprestasi—justru bangga banget—tapi tetap ada rasa lelah karena ada di posisi sebagai infrastructure behind that.
Secara sosiologis, apa yang kita alami ini bukan sekadar capek fisik biasa. Dalam studi pionir tentang pembagian kerja domestik, sosiolog Arlie Hochschild lewat konsepnya “The Second Shift” dan riset lanjutan oleh sosiolog Allison Daminger dari Harvard University mengenai cognitive labor, membagi kerja rumah tangga menjadi dua: eksekusi fisik dan kerja kognitif (mengantisipasi, memonitor, dan mengambil keputusan). Menariknya, beban cognitive labor ini mayoritas jatuh di pundak perempuan atau para ibu. Kita nggak cuma mengerjakan, tapi kita juga yang mikirin semuanya dari hulu ke hilir. Otak kita ibarat tab browser yang kebuka 50 tab sekaligus tanpa tombol refresh! Kebayang hectic-nya kan?


Saya termasuk salah satu yang beruntung. Ucapan terima kasih, pelukan hangat, ciuman manis, hingga sesekali buket bunga dari anak dan suami sering saya terima. I am blessed. Tapi, saya jadi merenung: berapa banyak ibu di luar sana yang melakukan hal serupa, tapi tidak pernah mendapatkan apresiasi yang layak dari keluarganya? Bagaimana dengan para ibu yang nggak seberuntung itu?
Well, listen to this: Rasa grateful dari orang lain adalah sesuatu di luar kendali kita. Jadi, kalau kamu kebetulan nggak dapet apresiasi itu di rumah, go appreciate yourself! Nggak usah nunggu orang lain buat muji kamu. Pesan segelas iced coffee favoritmu, pakai dress cantiknya, atau me-time sejenak di pojokan kamar.
You totally deserve that after all those invisible labors. Setuju, moms?