Akhir-akhir ini bersliweran thread yang agak berbeda di home feed saya. Yang paling bikin saya mikir adalah tentang seseorang yang landing hampir tengah malam di bandara lalu menimbang-nimbang mau pulang ke Depok dengan ongkos taksi yang melambung atau menginap di Soetta lalu pulang besok paginya menunggu hari terang karena bus DAMRI yang lebih terjangkau baru beroperasi mulai pagi. Saya diam cukup lama. Buat saya, bisa pulang (naik taxi/dijemput) jam berapapun malemnya pas landing setelah pulang bepergian tuh standar. Udah selayaknya dapat perlakuan gitu. Ternyata privilege. Dan itu karena suami saya rela ikhlas dengan sukacita jemput saya.
Selama ini karena saya sibuk menjalankan kehidupan, banyak hal yang terasa normal. Suami jemput. Suami support. Anak peluk dan cium. Keluarga ada -sangat guyub malah. Teman-teman sayang sama saya. Saya tak pernah kekurangan orang-orang yang selalu membantu. Dan karena semua itu hadir berulang kali, otak saya memindainya sebagai: HAL NORMAL. Padahal hal itu bisa menjadi normal dalam kehidupan saya tanpa menjadi sesuatu yang otomatis adalah hak di alam semesta. Ini dua hal berbeda.
Hal yang selama ini saya anggap sebagai standar ternyata adalah bentuk kasih sayang seseorang kepada saya. Setelah minggu lalu saya menyadari kalau saya banyak melakukan invisible labour, minggu ini saya baru menyadari ternyata selama ini saya menerima banyak invisible love.
Ada suami yang harus bangun, keluar rumah, nyetir malam-malam, nungguin saya di bandara, lalu pulang lagi. Dan selama ini Abang melakukan itu dengan sukacita. My privilege is I have someone yang bersedia menanggung inconvenience demi rasa aman dan nyaman saya. Dan kalau abang nggak bisa jemput? Ya saya dengan enteng pulang naik taksi tanpa harus melihat argonya. I have other options which is still comfortable for me.
This realization is humbling.
Secara psikologis, apa yang saya rasakan ini sejalan dengan temuan dalam psikologi hubungan. Profesor psikologi dari University of Rochester, Harry Reis, lewat risetnya mengenai Perceived Partner Responsiveness menjelaskan bahwa ketika pasangan secara konsisten menunjukkan kepedulian, perhatian, dan dukungan—bahkan melalui tindakan-tindakan kecil di balik layar—hal tersebut membangun rasa aman emosional (felt security) yang mendalam.
Ya, Abang rela menjemput means he chose to do that. Ikhlas artinya Abang tidak menganggapnya sebagai beban yang harus ditagih balik. Dengan sukacita means he is happy doing it for me. I think that is my relational privilege.
Puji Tuhan. Ternyata hidup saya selama ini banyak menerima kasih.
