Manis Gurihnya Membesarkan Anak dengan Perawatan Khusus

Sudah setahun lebih saya nggak ngantor demi anak saya, melepaskan karir yang sedang manis-manisnya untuk menjadi ibu rumah tangga. Banyak yang kaget dengan keputusan tersebut, tidak sedikit yang menentangnya dan menganggap saya gila, walau ada juga yang menyelamati. Tapi pada dasarnya tidak banyak yang tahu cerita lengkapnya bukan? Well, kecuali keluarga dan sahabat dekat mungkin nggak banyak yang tau bahwa Basti memiliki tingkat sensitivitas yang tinggi sehingga mudah alergi. Buat anak lain, makan roti tawar, ikan tongkol, telur atau es krim itu hal yang biasa tapi tidak dengan Basti.

Makan satu keping kecil coklat saja alerginya bisa kumat. Awalnya pilek lalu batuk kemudian sesak napas dan bahkan asma. Jangan dikira batuk pilek biasa saja, jika keadaan sedang sangat buruk, maka paru-parunya bisa penuh slem. Napasnya tersengal-sengal semalaman dan saya akan begadang untuk memeluk dan menggendong Basti supaya ia bisa bernapas sedikit lega. Kemudian memangkunya karena jika ia berbaring maka dadanya sesak dan napasnya pun pendek-pendek. Iya, jika sedang sesak napas maka Basti hanya bisa tidur dalam posisi duduk di pangkuan saya, tidak bisa berbaring. Semalaman.

Dengan kedaan seperti itu, dalam satu hari Basti bisa diinhalasi hingga 6x menggunakan Ventolin (yang asma tentu tahu dosis tinggi obat ini). Lama inhalasi antara 10-15 menit satu kalinya. Anak kecil mesti duduk diam inhalasi dengan dada yang sesak beberapa kali dalam sehari, ada masanya manis, ada masanya ia berontak menolak pengobatan dan mesti ditenangkan. Silakan dibayangkan seperti apa situasinya. Hanya Tuhan yang tahu air mata yang saya teteskan di malam-malam saya berdoa sesaat setelah Basti bisa tertidur di pangkuan saya. Memohon kesembuhannya atau sekedar meminta kekuatan agar kami mampu melalui ini.

Dari mana lagi seorang anak mendapat kekuatan jika bukan dari orang tuanya?

Bahkan mama saya sempat panik saat melihat Basti kesulitan bernapas, ia mengira Basti akan meninggal  😒 Separah itu. Seringkali sudut mata saya basah karena nggak tega melihat Basti menjalani ini semua. Namun saya harus kuat, karena saya ibunya. Dari mana lagi seorang anak mendapat kekuatan jika bukan dari orang tuanya?

Dengan kondisi demikian, tidak banyak asisten rumah tangga yang bisa telaten menangani kondisi Basti, belum lagi beberapa jenis obat yang mesti diminum dan diet makanannya yang cukup ketat. Saya mesti membuat jadwal makanan yang cukup terperinci setiap minggunya.

Mengatur menu dalam masa pertumbuhannya agar Basti cukup gizi namun jangan sampai alerginya kambuh. Pun selain itu saya punya PR untuk melatih imunitas Basti dengan memberikan makanan pencetus alergannya sedikit demi sedikit. Karena kalau terus dihindari maka bisa selamanya alergi tapi kalau dilatih, (semoga) reaksinya bisa normal seperti orang lain.

Contohnya, setiap minggu makanan yang bikin alergi ditakar lalu dilihat efeknya. Jika minggu ini diberikan 100gr Salmon dan gatal-gatal maka minggu depan dikurangi sedikit takarannya. Tapi kalau baik-baik saja maka minggu depan bisa dinaikkan sedikit dosisnya. Demikian seterusnya untuk semua makanan pencetus alerginya yang buanyak banget. Hahaha. Note: jika dalam proses ini alerginya kambuh maka itu artinya saya harus siap dengan siklus asma- inhalasi – sesak napas – menyikapi nangis-nangisnya Basti – begadang semalaman, dst.

Capek? Iya.

Lelah? Jangan ditanya.

But I am not complaining karena saya percaya semua ada masanya. Semua sudah diatur Tuhan. Ya, saat ini masanya buat saya dan Adrian seperti ini. Puji Tuhan diberikan kepercayaan oleh Tuhan mengurus anak yang spesial seperti Basti, yang butuh perawatan khusus, anak yang ada di dalam perut saya 42 minggu 5 hari lamanya itu. Dan Puji Tuhan lagi saya didukung penuh oleh suami dan keluarga yang bahu-membahu ikut mengurus Basti.

semua ada masanya

Nggak terasa bulan ini Basti menginjak usia 4 tahun. Semakin besar, semakin lincah dan makin banyak pintarnya. Jika dulu kadang ia menunduk sedih kalau lihat temannya makan es krim, maka sekarang ia sudah nggak sedih lagi. Ia sudah mampu beradaptasi dengan keadaan. Pernah ia berkata, β€œLater when I grow up, I wanna eat ice cream. Okay Mami?” Saya mengangguk mengiyakan lalu ia menambahkan lagi, β€œChocolate ice cream ya Mami, also pizza. Big pizza and cheese cake. Strawberry cheesecake please! Katanya sambil berseri-seri dengan senyum lebar yang memecahkan hati saya, membuat saya meneteskan air mata dalam diam.

Gimana nggak pecah? Anak sekecil itu, ia menerima keadaannya, tidak mengeluh, tidak protes kenapa ia berbeda dari teman-temannya. Ia hanya berusaha keras beradaptasi dengan keadaan fisiknya, dan di atas semua itu hatinya penuh akan harapan kesembuhan. Well, sabar ya, anakku. Kita pasti bisa melalui ini semua, pasti Basti sembuh dan nanti bisa bebas makan kayak anak-anak lain. Sabar ya sayangku.

Selamat ulang tahun anakku, Basti. Mami sayang Basti selamanya. Semoga Basti sehat terus ya. :*

———–

Nah, di tengah kelelahan dan juga keribetan begini, saya pengennya melihat dan berbagi yang indah-indah, yang senang-senang aja. Kayak lagi jalan-jalan atau staycation di hotel mana gitu. Yang ribet dan sedih macam alerginya Basti kumat, lagi kesulitan bernapas, atau sebulan bisa berkali-kali ke dokter, itu semua dilakoni, dijalani dan disimpan buat saya dan keluarga. Sesekali di-share kalo rasanya sudah overload sekedar buat katarsis kecil aja.

Karena kalo dibagi di sosmed, kadang saya kehabisan energi membaca komentar-komentarnya. Ada yang tiba-tiba sok tau banget bahkan rasanya lebih pinter daripada dokter, ada yang memaksakan sarannya agar diikuti, ada yang malah menganggap enteng dan bilang lebay. Ada yang judging, β€œkok jalan-jalan terus?” Ya Lord, nggak tau aja kan kehidupan saya kayak apa? Sesekali jalan travelling ya bolehlah, saya juga butuh break supaya pas balik ngurus anak lagi maka saya punya kekuatan baru dan vibra positif yang banyak. β€œHappy mommy raises happy kid”, I hold on that quote tight.

Intinya sih belum tentu semua komentar yang masuk positif, bisa menguatkan atau membangun hati, banyak juga yang malah bikin down. Salah satu contohnya, pernah lho saya dikomentari, “Anak yang sering sakit itu tanda kalau orang tuanya korupsi (waktu).” Gimana perasaanmu coba? Seperti komen atasan langsung saya dulu saat saya ijin-ijin untuk kontrol Basti ke rumah sakit. Waktu itu saya menolak konfrontasi, hemat energi ajalah. Emoh. Β Wis. Saya langsung masukkan surat resign dan simpen sendiri semua manis gurihnya mengurus anak dengan perawatan khusus seperti Basti. (Walau kemudian kantor memberikan kebijakan dengan memberikan cuti selama 3 tahun agar saya dapat mengurus Basti. Nanti jika tiba masanya baru akan dibicarakan lagi status pegawai saya).

Seize every moment.

Senang dibagi-bagi, biar yang liat ikut senang sementara sedih nggak perlu diumbar-umbar setiap saat. Sesekali boleh, jika sudah tak tertahankan. Untuk saat ini, mohon doanya biar imunitas Basti menguat sehingga gak alergian lagi sama banyak makanan. πŸ™

Selamat hari Senin yang seru, doa saya agar semua yang baca sehat-sehat dan gembira Β Pssst, apa pun keadaannya, jangan lupa bahagia!

P.S.

Judul blog ini terinspirasi dari salah satu artikel seorang mom blogger yang saya baca beberapa tahun lalu, yang membesarkan anak dengan kebutuhan khusus. Cuma saya lupa siapa, kalau ada yang tau, lemmi know biar saya kasih kredit. Thank you.

Iklan

49 respons untuk β€˜Manis Gurihnya Membesarkan Anak dengan Perawatan Khusus’

  1. Ajeng Lembayung berkata:

    Semangaaaaat ekaaaa!
    This too shall pass.
    Kisskiss

    Bastian alergi pisang ndak? Aku kadang suka bikin esgrim dari pisang utk pengganti esgrim dari susu. Ini lumayan memuaskan lidah kalo lagi gak pengen ato gak bisa ketemu susu.

  2. Mimi Pipi berkata:

    mengingat timeline embak yg keliatannya jalan2 mulu, engga nyangka emang ada yg nggandoli di rumah. basti will be a great man someday, emaknya uda nunjukin jiwa besar pengorbanan seperti ini.
    semangat ya mbak!

  3. ratripurwani berkata:

    Happy birthday to Basti dan stay strong kak Ekaaa! Keep raising him with positivity dan happiness yaaaa!

  4. Oelpha berkata:

    Semangat, Ekaaaaa… Salut atas pklihan berani yang kamu ambil. Semoga imunitas Basti segera menguat agar bisa leluasa bertuslang bareng orang tua tangguhnya ya.. big hugs

  5. Tjetje [binibule.com] berkata:

    Eka, semangat ya. Peluk cium dari Irlandia. Sebagai anak yang sering sakit-sakitan dan sekarang banyak banget pantangannya, I feel you and Basti. Di titik ini aku udah mati rasa sih, kalau ada orang makan ice cream udah gak pengen lagi, tapi kalau pas nemu ice cream non-dairy, pasti beli dan nyetok.

  6. okky23 berkata:

    Mbak, semangat dan sehat selalu ya.
    Semoga imunitas Basti segera menguat.
    Salam peluk buat Basti dari Kian & ibuk ya 😘

  7. tamasyaku.com berkata:

    Membaca postingan mba Eka, banyak tersenyum mengiyakan. Saya pun di fase yang sependapat dgn mb Eka, senang dibagi2 supaya harapannya yg liat ikut senang. Semoga Tuhan memudahkan urusan kita dan semesta membahagiakan kita ya mba. Selamat ulang tahun, Basti. Sehat terus, pintar dan membanggakan keluarga besarnya ya nak. Salam dari tante di Jogja.

  8. mubarika berkata:

    A Strong mommy will rise a strong Kid.. Toss kita ya Mom Basti.. Mirza sampai sekarang alergi dengan semua jeruk dan berbahan jeruk.. Dia langsung diare lebih dari 10x.. Bayangin aja obat2 di Indonesia pakai flavor jeruk.. Dikasih resep obat batuk flavor jeruk, batuknya sembuh, diarenya kumat… Sampai skrg masih kebayang “judging orang” pada umumnya, kalau anak2 gak dikasih jeruk bisa kekurangan vit. C… Sabar say.. All the best for Basti yaaaπŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜‹

  9. Arifah wulansari berkata:

    Mbak anakku dulu pas umur 1-5 taun juga alergian kayak Basti. Sekarang udah 8 taun alhamdulilah udah banyak berkurang, tinggal rhinitisnya yg kadang kambuh. Klo gatel2nya udah enggak. Semoga Basti makin kuat yaa..biar bisa makan es krim. Semangaaaat

  10. Monda Siregar berkata:

    Happy Birthday Basti, semoga dengan ketelatenan mama Eka alergi bisa berangsur berkurang ya…
    aku hampir sama dengan Basti, waktu bayi alergi segala jenis susu, cuma bisa minum air kacang ijo aja, sekarang alergi yg tinggal hanya seafood itupun sesekali

  11. ratusya berkata:

    Stay strong mbak Eka and get well soon Basti. Aku jg barutau ceritanya dari posting ini. Pasti bisa. Kisskiss

  12. Messa berkata:

    Hai kak Eka… terharu bacanya. Emang bener kak, anak mendapat kekuatan tentunya dari Tuhan melalui orangtua. Aku berdoa supaya kalian tetap kuat ya πŸ™ selamat empat tahun buat Bastian πŸ˜‰

  13. Renata berkata:

    I feel you kak… same here… alergi yg manifestasinya muncul di saluran pernafasan..
    slam yg pekat.. hiperaktif bronkus, bronko,
    asmatic… inhalasi ..xsehari dgn ventolin + pulmicort… nafas yg tersengal2.. apalagi plus demam.. owh my… (diperburuk riwayat step dr bapakke kami pernah tengah malam disuguhi step perdana Ben ketika demam yg dipicu bronko nya.. he’s blackout for seconds dan saat itu rasanya aq mau mati aja kalau baby Ben jg diambilNya… teriak2 minta tolong ke tetangga karena kami kira udh gak ada.. 😭😭)
    Ga kehitung berapa hari unpaid leave karena kehabisan cuti nemenin ke RS atau sakit..

    Ben alergi susu sapi juga turunannya dan coklat (belakangan ini aq merasa bukan coklat.. tp susu yg biasanya selalu melekat dgn coklat.. pernah kasih dark chocolate 90% dia aman).
    Karena makannya yg lumayan dibatasi (tdk ada biskuit2, minuman2 kemasan anak2 ) kalau disuguhi coklat atau cake coklat dgn penuh kesadaran dia menolak.. “nanti Ben batuk dan demam” katanya..hihi..

    Pelan2 mulai q bolehkan icip2 es krim (sambil ttp siap sedia ventolin + pulmicort atau Lasal πŸ˜‚)

    Ah.. berwarna sekali parenthood ini ya kak… Let’s enjoy and keep love them with our best..

    Pengalaman di Ben membuat “lebih rileks” di Liv yg jg sama tipe alerginya.. πŸ˜€πŸ˜€

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s