Invisible Love  

Akhir-akhir ini bersliweran thread yang agak berbeda di home feed saya. Yang paling bikin saya mikir adalah tentang seseorang yang landing hampir tengah malam di bandara lalu menimbang-nimbang mau pulang ke Depok dengan ongkos taksi yang melambung atau menginap di Soetta lalu pulang besok paginya menunggu hari terang karena bus DAMRI yang lebih terjangkau baru beroperasi mulai pagi. Saya diam cukup lama. Buat saya, bisa pulang (naik taxi/dijemput) jam berapapun malemnya pas landing setelah pulang bepergian tuh standar. Udah selayaknya dapat perlakuan gitu. Ternyata privilege. Dan itu karena suami saya rela ikhlas dengan sukacita jemput saya.

Selama ini karena saya sibuk menjalankan kehidupan, banyak hal yang terasa normal. Suami jemput. Suami support. Anak peluk dan cium. Keluarga ada -sangat guyub malah. Teman-teman sayang sama saya. Saya tak pernah kekurangan orang-orang yang selalu membantu. Dan karena semua itu hadir berulang kali, otak saya memindainya sebagai: HAL NORMAL. Padahal hal itu bisa menjadi normal dalam kehidupan saya tanpa menjadi sesuatu yang otomatis adalah hak di alam semesta. Ini dua hal berbeda.

Hal yang selama ini saya anggap sebagai standar ternyata adalah bentuk kasih sayang seseorang kepada saya. Setelah minggu lalu saya menyadari kalau saya banyak melakukan invisible labour, minggu ini saya baru menyadari ternyata selama ini saya menerima banyak invisible love.

Baca lebih lanjut →

Who Needs Who?

Seminggu lalu saya dirawat di rumah sakit, diopname karena suatu hal. Adakalanya saya down banget dan kesel setengah hidup. Selain mesti menanggung sakit yang nggak ampun-ampunan, saya juga mesti menjalani banyak pemeriksaan. Dari satu pemeriksaan ke pemeriksaan lainnya. Capek. Melelahkan. Dan di saat-saat seperti itu kadang saya jadi ngelantur.

“Kalo aku mati gimana?” Tanya saya ke suami yang sedang duduk istirahat di sofa di sebelah ranjang saya.

Sontak wajah Adrian berubah saat saya menanyakan hal tersebut. “Don’t, please don’t.” Jawabnya singkat sambil berdeham.

“Kenapa?”

Adrian berdiri dan berjalan menghampiri saya. “I don’t think I can live without you.” Suaranya tercekat. Ia diam sambil mengenggam tangan saya kemudian berkata lagi, “Aku… Umm… Aku pernah membayangkan gimana kalau kamu nggak ada lagi di dalam hidupku… Dan aku tahu aku nggak sanggup. Aku nggak bisa.”

—

It was a short conversation, but it arouses a question to my mind. Who needs who? Selama ini saya selalu berpikir kalau saya yang nggak bisa hidup tanpa suami saya. Saya yang manja ini, yang super duper ceriwis dengan segudang kisah dan selalu senang saat melihat raut wajahnya ketika mendengarkan saya bercerita. Saya yang sering banget minta ini itu. Saya yang gede ngambeknya. Saya pikir…. Saya yang nggak bisa hidup tanpanya. Tapi Adrian? Suami saya itu begitu mandiri, tidak banyak menuntut, saya pikir tanpa saya pun ia akan dengan tenang melanjutkan hidup. (Tentu berduka sebentar, tapi ya abis itu lalu bisa melanjutkan hidup lagi). Tapi ternyata enggak gitu juga… 🙂 Hmmm hidup nikah itu memang begitu ya… Seiring waktu, sejalan dengan banyak momen yang dilalui bersama maka kami menjadi semakin tidak terpisahkan. Menjadi semakin melebur sehingga memang akan terasa lain tanpa kehadiran belahan jiwa. We need each other.

P.S. I love you, suamiku.