Tips dan Aktivitas untuk Melatih Kesabaran Balita

Gimana kalau pas di toko dan anak merengek-rengek minta mainan?

Sekitar 2,5 tahun lalu kira-kira pertengahan 2015 saat Basti masih bayi saya mengalami kejadian yang cukup membekas di hati tentang melatih kesabaran pada anak balita. Saat itu saya sedang sibuk memilih mainan di Toko Early Learning Centre ketika sebuah keluarga dengan dua anak kecil masuk ke dalam toko. Saya taksir si kakak perempuan berusia sekitar 6 tahun dan si adik lelaki berusia sekitar 4 tahun. Awalnya mereka begitu bersemangat dan gembira melihat-lihat mainan yang ada sampai si ibu bilang bahwa mereka hanya boleh membawa satu mainan saja ke kasir. Si kakak sepertinya sudah cukup besar dan mengerti sehingga tanpa banyak bicara ia mengambil satu bonena. Namun si adik nampaknya kesulitan memutuskan apakah mau kereta api atau bola kaki.

Yak, di sini drama pun dimulai.Si adik tantrum, menangis hingga guling-guling dan berteriak marah meminta agar dibelikan 2 mainan keinginannya. Beberapa ortu mulai memandangi si adik, sementara saya sih memilih melihat ke arah lain karena saya nggak mau membuat si ibu merasa nggak nyaman kalau dia diliatin. Saya paham banget gimana rasanya kalau anak sedang tantrum di muka umum jadi sebisa mungkin saya berusaha tidak memperburuk keadaan.  Anw, akhirnya si adik diam setelah si ibu menuruti keinginannya. Dua mainan pun dibayar si ibu.

Sounds familiar dengan kejadian begini? Nampaknya itu adalah hal yang umum terjadi ya di toko mainan atau toko apa gitu yang melibatkan anak-anak. Saking seringnya melihat hal ini sampai-sampai kejadian anak tantrum dan keinginannya mesti dituruti pun jadi hal yang lumrah.

——

Tidak berapa lama, keluarga lain masuk ke dalam toko. Kali ini anaknya ada 3 dan cowok semua. Kebayang ributnya ya? Hehehe. Seperti anak-anak sebelumnya, mereka pun semangat dan ceria banget melihat-lihat mainan dan ibunya dengan tegas bilang di awal bahwa mereka cuma boleh beli satu mainan saja. Anak nomer satu dan dua yang sudah agak besar (saya perkirakan berusia 9 dan 5 tahun) menurut tapi si bungsu yang umurnya sekitar 4-5 tahun tidak. Ia membawa banyak banget mainan di tangannya dan berusaha menyerahkannya pada ibunya.

“Mom, I want them all,” kata si bocah bule itu.

“You need to choose one that you like,” jawab ibunya tegas.

“I want them all, mom!” Jawab si bocah ngeyel.

“Is this Christmas? Is this your birthday?” Tanya si ibu yang dijawab dengan gelengan kepala si bungsu. “If this is not your birthday or Christmas, you can take only one toy.” Kata si ibu tegas lalu balik badan menuju kasir.

Saya kaget melihat percakapan tersebut, lebih kaget lagi saat saya lihat si bocah bungsu itu menuruti kata-kata ibunya, mengembalikan mainan-mainan yang ia sukai dan hanya mengambil satu saja untuk dibawa ke kasir. Walau dengan bersungut-sungut sebel tapi ia menurut. Duh, mukanya jadi keliatan lucu kalau begitu 😀

Nggak takut ngajak Basti jalan-jalan dan merengek minta mainan. Udah tau tipsnya 😀

Hmmmm, dua kejadian di depan mata yang hampir mirip namun memiliki ending yang berbeda. I was a young mom and lack of experience at that time, clueless bangetlah pokoknya tapi pada saat itu saya berpikir bahwa sejatinya kita bisa mengarahkan anak kita untuk belajar sabar dan bertingkah laku sesuai harapan kita. Hasil baca dari berbagai macam parenting site, saya sarikan dan bagikan di sini beberapa tips dan aktivitas agar anak belajar sabar alias ngajari anak sabar. Tentunya tips dan aktivitas yang sudah saya lakukan juga dong.

Tips dan aktivitas untuk melatih kesabaran pada anak balita:

  1. Ajari antri, mulai dari hal-hal kecil seperti antri main perosotan atau ayunan saat di
  2. Ajarkan sabar sedikit demi sedikit. Mulai dari delay pas ngasih susu atau nyiapin makanannya. Nggak perlu langsung lari dan memenuhi permintaan anak saat ia minta sesuatu, kasih jeda sedikit. Contohnya nih, pas Basti bilang baterai kereta api si Thomas-nya habis dan minta diganti, saya bilang supaya ia tunggu bapaknya pulang kantor karena saya nggak bisa (walaupun sebenarnya sih bisa). Ya, paling enggak dia belajar sabar ½ hari hehehe. Kemudian kalau sudah agak lamaan bisa diminta sabar untuk Christmas dan lainnya.
  3. Tepati janji jika ia bisa sabar menunggu. Anak perlu tahu bahwa ia akan betul-betul mendapatkan apa yang ia inginkan saat ia sudah belajar sabar menunggu. Jadi pas malam-malam bapaknya Basti pulang kantor ya baterai kereta apinya beneran diganti.
  4. Lakukan permainan yang melatih kesabaran, seperti main puzzle, taruh ember saat hujan dan tunggu sampe penuh, atau melihat siput berjalan. Kelihatannya sepele ya? Tapi beneran meatih buat sabar sih hehehe. Soal siput itu Basti senang banget walau lambat tapi buatnya itu sesuatu yang baru dan menyenangkan
  5. Puji jika ia bisa bersabar.
  6. Ajarkan self-control, jadi kalau Basti pengen sesuatu sambil nangis-nangis, saya tidak akan meresponnya. Saya tunggu sampai dia selesai menangis dan bilang, “I don’t understand what you are saying because you are crying. Talk nicely.” Untuk sesaat ia berusaha mengontrol emosinya, dan ia paham kalau ia nangis-nangis nggak akan saya ladeni. Dan itu berlaku di mana pun, baik di rumah maupun di area publik.

Aktivitas sederhana untuk melatih balita belajar saabar: menepati janji pada Basti, boleh naik sepeda sesudah tidur siang. Terus sambil lihat-lihat siput yang jalannya lambat.

Saya dan Adrian berusaha konsisten menerapkan tips-tips di atas. Pelan-pelan mulai dari lihat siput jalan (ini lucu banget kalau diinget-inget dan masih kami lakukan sampe sekarang lho) sampai konsisten menepati janji kalau ia mau sabar. Yah, contohnya pas Basti pengen naik sepeda dan saya bilang ia boleh main sepeda setelah tidur siang. Sorenya saat ia bangun, beneran saya ijinkan Basti main sepeda dan bukannya dialihkan ke hal yang lain. Dari situ ia percaya bahwa ia akan mendapatkan apa yang ia mau, hanya saja mesti belajar menunggu alias sabar.

Dan, Ujian di tempat umum pun tiba…

Fast forward ke masa sekarang, baru-baru ini saya menghadapi ujian soal sabar ini. Sekitar bulan Oktober lalu saya dan Basti pergi berbelanja ke department store. Tiba-tiba Basti melihat sebuah mainan truk container dan ia mulai cranky pengen punya mainan itu. Wow, here it comes, my real test is coming! Langsung di muka umum dan saya mesti praktekkan tips-tips yang sudah saya lakukan di rumah sebelumnya.

“Mami, I want this container truck,” rengek Basti manja.

“No, Basti. You can’t. We don’t plan to buy a toy, we plan to buy some food remember?” Jawab saya mengingatkan tujuan kami berbelanja.

“But I want it, Mami. I WANT IT!” Jerit Basti dengan muka yang kesal. Saya perhatikan wajahnya mulai merah dan ia siap menangis. Tapi saya berusaha tetap tenang dan saya ajukan pertanyaan ini.

“Is it Christmas already? You can get the truck as your Christmas presentbut not now.” Kata saya tegas sambil deg-deg,an. Anuh, kalo si bocah masih ngeyel gimana? Di muka umum pula, kalo sampe nangis jerit-jerit piye? To my surprise, Basti balik bertanya.

“When is Christmas?”

“Couple months more,” jawab saya dan pelan-pelan Basti pun meletakkan si truk balik ke rak.

“Okay mami.”

Udah begitu doang 😀 hahaha. Saya udah ketakutan banget, ngebayangin yang enggak-enggak tapi ternyata percakapannya begitu aja.  Pheeew, lega! 😀 Lolos ujiannya hahaha. Abis itu di rumah, Basti sering nanya, “when is Christmas, Mami? Is it Christmas already?” Nggak sabar rupanya, tapi mesti belajar sabar. Hehehe.  :mrgreen: Semenjak itu apa-apa lebih gampang saat kami pergi berbelanja. Pas kemarin kami ke department store lagi dan Basti merengek minta belikan pesawat, dengan santai saya bilang, ”You can get the plane on your birthday.” Lalu Basti pun meletakkannya dan ngomong sendiri. “Plane for my birthday, mami. Plane, okay?

No drama. Puji Tuhan. Saya percaya kalau itu semua nggak terjadi begitu saja, perlu latihan terus-terusan pas di rumah. Rasa percayanya perlu dibangun sedikit-demi sedikit tapi jika konsisten maka bisa.

Dan sesuai janji kami, untuk Natal ini kami membelikannya truck container 😀 Basti tersenyum lebar banget saat membukanya. Kami juga. Anw Selamat Natal buat yang merayakannya ya and happy holidays buat semuanya.

Selamat hari Kamis, Moms. Semangat selalu mengasuh si kecil ya. Punya tips lain untuk mengajarkan sabar buat balita?

Advertisements

10 thoughts on “Tips dan Aktivitas untuk Melatih Kesabaran Balita

  1. novifauzie says:

    Hahahah iya mba, ini ujian sering bgt yah kaya gini, dan orang lain yg ga tau ngeliat kita kaya ortu kejam yg dgn pandangan dia bilang yaelah beliin aja sih drpd nangis hahahhaa tp sy sering cuekin sih yg ky gtu 🤣🤣🤣 tks sharingnya mba 😁

  2. Diyanika says:

    Basti usia berapa Mbak? Maaf sepertinya aku perdana ke sini. Anakku usia 27 bulan, Mbak, kalau ke toko mainan juga sudah rewel banget. Tapi sejauh ini malah yg dibeli itu2 mulu, ultraman mulu.

  3. istianasutanti says:

    Hai mbaakk.. Aku juga sama niih metodenya, hehe. Yang paling penting itu kita harus konsisten dan harus selalu menepati janji yaa.. Soalnya selain belajar kesabaran, anak juga belajar untuk menepati janji mereka nantinya, dan gk jadi pembohong ya. 😃

  4. miramiut says:

    anakku belum bisa sangat unpredictable mba. ampe aku mau minum paracetamol terus. hahaha. kata terapisnya sih memang harus dihadapkan sama hal yg buat dia gak nyaman. udah sering dilatih juga untuk kesabaean aku juga. pas nguamuk ammsyong lahh langsung gendong bawa kabur biarin nangis dulu sampai puas emaknya mamam eskrim biar bisa adem. hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s