Baru-baru ini orang tua sahabat saya sakit. Tiap hari sahabat saya itu merawat mamanya dengan sabar. Sesekali mengeluh capek atau tertekan dan kadang kusut pikirannya. Manusiawi. Merawat orang sakit itu tidak mudah. Butuh mental kuat dan pasokan energi lahir dan batin untuk melakukan itu. Despite of that, ia tetap semangat 45 telaten merawat mamanya. Doa saya semoga mamanya lekas sehat lagi.
Anw, saya dan sahabat saya itu dekat sekali. Sering banget saya curhat macem-macem. Segala apa juga saya ceritain. Sambat, ngeluh, ngomel, semua saya tumpahkan ke dia. Namun dalam situasi ortunya sakit begini, saya menahan diri. Ia sudah punya banyak hal dalam kehidupannya yang perlu dipikirkan, nggak perlu lagi ditambahi beban hidup saya. Yang ada, justru ia yang butuh dikuatkan untuk saat ini.
Melihat kekusutannya, beban hatinya, ini membuat ingatan saya kembali ke awal 2021 lalu saat anak saya terkena covid. Saya stress banget waktu itu, betul-betul energi terkuras habis apalagi belum ada vaksin. Saya harus memastikan anak saya menelan sesuatu padahal lagi nggak pengen alias nggak ada nafsu makannya. Nemenin dia berjemur, juga mengibur-hibur hatinya saat lagi isolasi di rumah. Hati saya remuk melihatnya hari demi hari makin kurus. Intinya merawat orang sakit itu tidak mudah.
Di saat begitu, ada satu bedes nggak tahu diri yang mengirimi saya pesan panjang-panjang dan dari tone suaranya menuntut jawaban. Setelah dijawab pun, nggak berhenti di situ. Emang dasar orangnya high conflict, ia pun ngajak berargumen. Jawaban apa aja yang udah berusaha saya sajikan netral, merendah, tetep dibalikkin dengan nada menekan dan memojokkan. Dan itu dilakukan PADA SAAT ANAK SAYA LAGI SAKIT. Dia tau tapi nggak peduli. Intinya ngajak ribut nggak liat sikon. Emang dasar manusia nggak punya hati!
Sampe saat ini, udah 2 tahun lebih berlalu dan saya masih sakit hati kalo ingat itu. Terbukti ortu sahabat saya yang nggak sehat jadi trigger emosi masa lalu itu. Rasanya seperti baru kemarin padahal udah 2 tahun lalu. Maybe because that happened on my lowest and weakest point sehingga lukanya dalam sekali. Manusia nggak punya empati itu nggak bisa menunggu sampe anak saya sehat untuk berdiskusi.
Saya masih sakit hati dan untuk meredakannya, saya melepaskan, mengirim balik energi kemarahan ini padanya. Saya doakan suatu ketika saat ia sakit atau merawat orang sakit: di waktu bersamaan ditekan orang lain. Dikirimi kerjaan atau teks panjang-panjang yang harus mikir buat jawab. Wahai orang yang nggak punya empati, saya harap suatu saat ketika ia sakit atau merawat orang sakit, ia dipojokkan sampe kesulitan, sampe sakit kepala tapi masih harus berusaha survive karena ada yang harus dirawat. Darn you!