About Deleting Twitter App
Sudah 2 bulan ini saya menghapus aplikasi Twitter dari ponsel saya dan ternyata hidup rasanya jauh lebih tenang. Bukan tanpa sebab saya menghapus aplikasi itu, ada beberapa alasan yang bisa saya ceritakan. Ready to read it?
Salah satunya, kadar toleransi saya akan suatu kabar buruk itu tipis banget setipis tissue dibelah tujuh (halah :P). Energi dan emosi jadi sering terkuras saat (nggak sengaja) baca thread Twitter. Oh jelas lini masa sudah saya kurasi, sudah di-mute atau malah unfollow akun-akun yang triggering tapi ya kadang tetep aja ada thread-thread dari akun base masih bisa sliweran dan bikin energi saya habis. Teman saya bilang kalo saya hidup dalam bubble jadi baca yang begitu jadi auto nggak nyaman. Well, entahlah.
Baca lebih lanjutBook Date
Beberapa waktu lalu saya janjian dengan Kimi untuk book date. Hah? Book date?! Apa tuh? Hihihi, ya as nge-date pada umumnya, book date adalah janji temu but instead of ngobrol-ngobrol aja, kami baca buku bersama. Emang bisa? Ya bisalah. Saya excited sekali buat janji temu ini karena pada dasarnya saya senang membaca dan karena akhir-akhir ini kesibukan meningkat, rasa-rasanya butuh mengalokasikan waktu khusus untuk itu.
Siang yang panas itu kami bertemu di Taman Literasi Martha Christina Tiahahu. Matahari lagi terik-teriknya waktu itu, saya datang sedikit terlambat tapi untung Kimi sabar menanti. Taman Literasi ini selain menyediakan satu ruang baca yang adem full AC dan comfy, juga dikelilingi oleh jajaran café dan restoran yang juga sering penuh dengan orang yang duduk membaca. Awalnya kami berencana untuk berdiam di Ruang Baca namun karena penuh akhirnya malah jadi duduk manis di salah satu kedai kopi yang ada. Tentu saja dengan buku kesayangan kami masing-masing ada di tangan. Saya bawa hard copy, Kimi bawa e-book. Jelas udah keliatan ketimpangan generasi di antara kami dari jenis bukunya. Hahaha.
Baca lebih lanjutDarn You
Baru-baru ini orang tua sahabat saya sakit. Tiap hari sahabat saya itu merawat mamanya dengan sabar. Sesekali mengeluh capek atau tertekan dan kadang kusut pikirannya. Manusiawi. Merawat orang sakit itu tidak mudah. Butuh mental kuat dan pasokan energi lahir dan batin untuk melakukan itu. Despite of that, ia tetap semangat 45 telaten merawat mamanya. Doa saya semoga mamanya lekas sehat lagi.
Anw, saya dan sahabat saya itu dekat sekali. Sering banget saya curhat macem-macem. Segala apa juga saya ceritain. Sambat, ngeluh, ngomel, semua saya tumpahkan ke dia. Namun dalam situasi ortunya sakit begini, saya menahan diri. Ia sudah punya banyak hal dalam kehidupannya yang perlu dipikirkan, nggak perlu lagi ditambahi beban hidup saya. Yang ada, justru ia yang butuh dikuatkan untuk saat ini.
Baca lebih lanjutDemi Nostalgia
Minggu lalu saya ada rapat di salah satu hotel di Bogor. Tak dinyana, hotelnya dekat sekali dengan warung bakso langganan saya saat hamil dan tinggal di Sentul dulu. Perasaan saya tak karuan saat mobil yang saya kendarai melewati jalanan teduh dengan pepohonan rindang di sisi kiri dan kanan jalan. “Ah, suasana ini rasanya familiar,” gumam saya.
Pelan tapi pasti memori dulu saat perut saya besar berputar kembali. Biasanya saat ngidam bakso, diantar Adrian, kami akan berkendara dari Sentul menuju ke Bogor Selatan ini. Cuma berjarak satu pintu tol saja lalu melewati Kebun Raya Bogor dan lurus terus hingga agak ke bagian ujung Kota Hujan ini. Pengalaman masa lalu itu merayapi ingatan kembali, membawa serta perasaan bahagia, kebersamaan dan juga momen penuh canda tawa di kala itu. Saya raba jantung saya, degubnya kencang penuh rasa manis dan jiwa saya lembut terisi seluruh kenangan manis itu. Senang dan tentram.
Akhirnya setelah rapat, yang sedianya saya berencana langsung pulang, saya arahkan mobil ke warung bakso pinggir jalan itu. Saya mau makan bakso lagi di sana. Demi nostalgia. Saya sudah hampir lupa posisi tepatnya, apalagi letaknya bukan di jalan utama tapi sedikit masuk gang. Dari hotel tempat rapat, saya meraba-raba di mana ia berada. Daaan, akhirnya, setelah kesasar 2x, untung saja saya bisa melihat plang-nya. Ah, lokasinya geser sedikit, sekarang masuk ke ruko dan jelas interior dan eksteriornya renovasi besar-besaran. Tapi suasana nostalgia itu tetap ada. Dan saya makan dengan khidmat penuh rasa syukur.
“Enjoying the mystical cloud of joy that nostalgia brings.”
Jayapura Squad
Tiga tahun terakhir saya sering sekali ke Papua, tepatnya ke Kota Jayapura, Sorong dan Manokwari. Bolak-balik tiga kota itu aja ganti-gantian. Setahun bisa 2-4 kali ke suatu kota di ujung timur Indonesia itu. Capek, apalagi penerbangannya pasti dini hari dari Jakarta dan terbang antara 5-7 jam tergantung maskapainya, tapi ya mau gimana lagi. Wong, namanya tugas toh? Meski capek, sisi positifnya, GFF saya udah platinum. Bisa bawa bagasi barang belanjaan sampe 60kg, Cyiin! Hihihi.
Anw, tiap kali ke Jayapura, ada rombongan teman yang selalu menyempatkan ketemuan. Sungguhlah hati saya senang, lelah dalam business trip dihibur oleh orang-orang ini: Jensen, Zippy dan Athoe. Mereka bertiga tak pernah absen menemui saya. Entah sambil makan mie, ketemu di lobby hotel tempat saya menginap atau ya seringnya ngopi bareng.
Baca lebih lanjutDiproteksi: You’ve Been Taking Good Care of Me
What Song Describes You Most
When I was in college Rosita sent me this and said, “This is so you!” She even called me Maria Eka sometimes whatta bonkers. LOL
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.