Rejeki tuh nggak akan salah alamat, apa yang jadi milik akan jadi milik meski berliku atau tunggu waktu.
Jadi dari 2 tahun lalu saya ada ngincer suatu barang di kantor. Asli pengen banget jadi milik supaya punya environment data enak, nyaman dan supporting dengan Macbook yang saya miliki. Tapi ya ada kendala gitu deh. Ya udah, saya ikhlaskan. Nggak pake itu barang, saya tetap hidup kok. Gitu pikir saya.
Sejatinya hidup itu adalah kumpulan rejeki. Rejeki sehat, rejeki bertemu orang-orang baik yang sangat ramah yang mengesampingkan sekat-sekat jabatan.
Rejeki diberikan perspektif baru untuk beberapa hal yang sebelumnya mengganjal pikiran sehingga hati terasa lebih lapang.
Rejeki dikirimkan sahabat (baru dan lama) yang selalu siap sedia bertukar pikiran.
Rejeki anak dan suami yang pengertian ketika satu-satunya perempuan di rumah (yang biasa melayani mereka) untuk sementara waktu mesti fokus pada pekerjaan. Meminjam komentar salah satu teman, “Saat ini hidup lo dari satu pesawat ke pesawat lain, Ka.”
Rejeki bisa menjalankan tugas dengan baik bahkan ikut berkontribusi menggerakkan roda ekonomi lokal seraya menikmati budaya dan keindahan alam Indonesia.
Rejeki menikmati hidup dan kemampuan bersyukur atas segala hal (baik-buruk, susah-senang).
Rejeki tinggal tenang di dalam Tuhan.
Iya, hidup itu adalah kumpulan rejeki, tinggal gimana kita memaknainya.
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.