Mengkalkulasi Risiko

Seorang teman, eh bukan satu orang ding, tapi beberapa teman juga atasan dan kolega saya bertanya apa saya tidak ingin mengambil S3? Oh boy, I almost applied the scholarship last year. Bahkan saya mengikuti kursus demi menyukseskan keinginan saya tersebut. iBT? Passed the score to take Ph.D abroad. Proposal disertasi? Udah mulai cicil buat dan udah konsul ke profesor di negeri kangguru sana. Tapi di tengah jalan saya menghentikan itu semua. I stopped it without any hesitation.

Rurukan Manado

Kenapa? Karena saya sadar saya nggak mampu. Bukan nggak sanggup menjalani kuliahnya tapi nggak mampu melakukan sekian banyak hal dalam sekali waktu: being a student, a mom, a wife and happily being me. Ada begitu banyak peran yang harus saya mainkan dalam sekali waktu yang semuanya menuntut perhatian serta totalitas. Hitungan saya di atas kertas, saya nggak mampu menghadapi collateral damage yang mungkin terjadi jika salah satu dari peran yang saya miliki itu gagal.

Melanjutkan sekolah lagi itu butuh usaha, waktu dan pengorbanan. Jika melakukan itu membuat jadwal saya (yang sudah padat ini) jadi lebih padat lagi dan membuat saya berkorban tanpa batas, maka saya harus berpikir ulang. Saya tidak ingin mengorbankan keluarga demi ambisi saya, saya tidak ingin mempertaruhkan kesehatan saya demi sekolah lagi. Saya tidak ingin kehilangan diri saya (yang happy, easy going dan menikmati hidup) yang mungkin saja bisa berubah jadi pemurung karena selalu kelelahan dikejar target nilai. Bila ada hal yang membuat saya harus mengobankan itu, saya tahu batasnya. Saya harus berhenti. Ini bukan soal Adrian tidak mengijinkan atau keberatan. Ini murni soal saya, saya tahu kapasitas saya.

Ah, kamu paranoid aja, Eka. Banyak yang bisa kok S3 dan keluarganya baik-baik saja.

Iya, banyak yang sukses and those have my respect. Tapi saya bukan mereka. Buat saya, keluarga itu perlu dipelihara, nurtured. Dan untuk saat ini saya sadar saya nggak mampu melakukan banyak hal tersebut di satu waktu secara bersamaan dengan standar yang sudah saya tetapkan sendiri. Bisa sih dijalani tapi kalo nggak maksimal buat apa? Saya mengenal diri saya sendiri dengan baik sehingga saya tahu untuk tidak berjalan ke arah sana.

Jadi kapan akan meneruskan kuliah lagi?

Mungkin nanti, saat saya sudah bisa lebih mahir membagi waktu dan peran yang saya punya. Mungkin nanti, saat saya mengkalkulasi situasi dan risiko dan prosentase hasilnya meyakinkan saya bahwa ini sudah waktunya untuk dijalani.  Indeed I follow my heart but… I also take my brain along 😉 .

Advertisements

12 thoughts on “Mengkalkulasi Risiko

  1. Ria Rochma says:

    Lulus S1 dulu, saya awalnya mau lgsg kuliah lagi. Trus, ada ini, ada itu, jadi ini, jadi itu. Daaannn.. Ngga jadi sambil sampai sekarang. Menyesal? Ngga. Karena menurut saya, belom waktunya aja

  2. ina says:

    Wow….amazing, we are the same, suami mendorong n mendukungku, tp aku ngga bisa konsen klo rumah ngga keurus, langsung stress mikirin anak2, mungkin nanti saat anak2 udah dewasa tp aku ingin sekolah design baju, ngga mau yg banyak mikir, yg passionku yg aku pengen banget sedari dulu spt nulis novel

  3. Natalia says:

    Aku salut dengan keputusanmu Eka 🙂 Aku tuh pengen sekolah lagi, tapi baru ‘pengen’, belum lanjut ke langkah kalkulasi dan action *haha, malu

    Thank you untuk sharingnya, jadi mengingatkan kalau satu hari nanti aku berambisi mengejar cita-cita sekolah lagi, jangan sampai lupa bahagia, dan kalkulasi yang baik 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s