Selasa, 31 Oktober 2023
Rintik-rintik hujan turun membasahi kepala, kian lama kian deras. Saya, Aling dan Ailtje bergegas lari menuju Tennis Indoor Senayan agar terhindar dari basah yang makin bikin lepek saja.
โAyo, Ka. Buruan,โ teriak Ailtje (pronounced: /Ailsa/ ) yang ada di depan saya.
โIya, Sa. Iya,โ jawab saya sambil menudungi kepala dengan kedua tangan. Usaha yang sia-sia, kepala saya tetep aja basah dikit ๐
Sepatu keds saya menapak menginjak sedikit genangan air, kecipaknya membawa saya pada kenangan 10 tahun lalu (OMG SEPULUH TAHUN LALU) saat saya, Aling dan Ailtje juga lari-lari masuk ke venue untuk menonton konser yang sama: Konser KLA PROJECT. Bedanya soal waktu, kali ini sudah 1 dekade berlalu. Wow, tak terasa.
Kami duduk di Right Wing Gold, Aling yang koordinir beli tiketnya kali ini. Dapat duduk, dapat goodie bag. Sambil menunggu, saya melihat orang-orang yang merangsek masuk di area festival. Begitu beringas, begitu penuh semangat.
โSa, dulu kita begitu ya,โ kata saya menunjuk pada kerumunan orang di bawah sana.
โIya, nyanyi berdiri berjam-jam nggak pake capek,โ ucap Ailtje menimpali saya.
โSekarang nggak kuat lagi, ini kita nonton konser sambil duduk. Kita tua ya?โ Lirik saya ke Ailtje yang dibalas dengan cengiran pasrah.
โIya,โ jawab Ailje lalu nggak pake lama, kami pun tergelak bersama menyadari hal itu. Hahaha. Kami menua.

Dulu, kami kuat banget nonton konser di Festival. Berdiri, bernyanyi teriak-teriak, dorong-dorongan demi dapat spot paling dekat sama panggung, biar bisa lihat idola sedekat mungkin, biar hati rasa puas dan bahagia. Berjam-jam lamanya tapi nggak berasa. Kenangan berbagai macam konser yang pernah kami tonton bersama terputar lagi. Terima kasih ya Aling dan Ailtje buat kenangan manis kita lebih dari 10 tahun ini menonton berbagai macam konser.
Baca juga konser-konser lain yang pernah kami tonton bersama yang sempat dituliskan:
- Konser Romantis Rio Febrian
- Konser Glenn Fredly
- Tanda Mata untuk Ruth Sahanaya
- Berburu Batik Sampai ke Madura
Sekarang kami duduk di tribun, bawa minyak kayu putih dan Tolak Angin ๐
isi tas udah beda ๐คฃ๐คฃ badan mulai jompo meski semangat sih rasa-rasanya masih sama kayak 10 tahun lalu. Hahaha.
โKa, iPad lu mana?โ Aling bertanya.
โNggak bawa. Emang kenapa?โ
โKan lu paling gak apal lagu, biasanya lu nyanyi sambil baca lirik di iPad tuh!โ Timpal Aling penuh semangat.
Saya ngakak sambil geleng-geleng kepala ๐
ah 2 kawan saya ini paham betul kebiasaan saya dalam menonton konser.
โSekarang pake hape aja, iPad berat.โ Tukas saya sambil memijit pundak. Yeah, sekarang tuh bawa iPad bikin pundak pegel. Duh nyata ya beda fisik ini dalam kurun waktu 10 tahun. Hahaha.
Malam itu kami bernyanyi bersama menikmati Konser KLa Project yang ke-35. Banyak lagu mengingatkan pada gegap gempitanya masa muda, beberapa lagu mengingatkan pada mantan. Katon mulai sering ambil jeda setiap beberapa lagu, fasad wajahnya juga mulai menurun, tidak lagi sekencang dulu (tapi masih tetep ganteng kok). Lilo masih urun suara dengan nada melengkingnya, meski beberapa kali meleset nada atau malah nggak nyampe namun saya tetap menikmati gaya flamboyannya itu. Lalu Adi masih kalem aja.
2,5 jam kami bernyanyi bersama. Lagu-lagu kesayangan saya seperti Sekayuh Berdua, Tak Bisa ke Lain Hati dan tentu saja Yogyakarta dimainkan. Saya pulang dengan hati lapang dan senang. Meski saya tak pernah merasa tua namun konser kemarin itu menyadarkan saya bahwa memang fisik ini sudah berbeda. 10 tahun bukan waktu yang singkat, ada banyak memori baru mengisi dekade itu. Puji Tuhan senang.
Sampai kita bertemu lagi Aling dan Ailtje. Terima kasih untuk serunya malam itu. Peluk erat.


Thank you for the companionship. I had a blast! ๐