Elegi untuk Glenn Fredly

Lagu-lagu Glenn Fredly itu terasa sangat personal buat saya. Albumnya yang berjudul Selamat Pagi Dunia seolah menyuarakan jeritan suara hati sedalam-dalamnya. Bukan cuma satu atau dua lagu tapi satu album tuh rasanya soundtrack hidup GUE BANGET!

Saya jarang sekali menyukai penyanyi atau sebuah band sampai tergila-gila seperti seekor semut menyenangi gula. Alasannya sederhana saja; nggak mau kecewa. Nggak pengen pas lagi ngefans-ngefans-nya eh tahunya idolanya melakukan sesuatu yang bikin BT. Jadi cukup lumrah untuk saya memisahkan antara sebuah karya dan artis yang membuatnya.

Bisa lho, saya senang banget sama suatu lagu tapi nggak suka sama penyanyinya. Sangat menikmati karyanya tapi ngerasa meh sama orang di balik layarnya. Nothing personal, cuma ngerasa “enggak” aja. Yah namanya perasaan, kadang emang sukar diatur ya. 😀 Hahaha. Buat contoh gampangnya Dee Lestari. Buku-bukunya saya suka, menurut saya karyanya luar biasa. Bahkan dari 13 buku yang ia tulis, saya punya 10 diantaranya. Tapi secara personal ke orangnya, saya biasa aja. Nggak ngefans meski cinta banget sama karangannya.

Namun pengecualian dengan Glenn Fredly. Saya tidak bisa tidak menyukai karya dan orangnya. Lagu-lagu Nyong Ambon ini terasa sangat personal. Menyuarakan keseharian banget dan variatif. Ada yang sedih, happy, putus asa, penuh harapan atau sekedar bertanya-tanya tentang kehidupan secara umum. Sangat manusiawi, sangat membumi. So relatable, so me.

Glenn Fredly tuh sangat ramah, meski kadang-kadang canggung sendiri. Kadang di atas panggung dia keceplos bilang “gue”, lalu dia ralat dengan mengeluh sambil garuk-garuk kepala bilang, “Eh nggak boleh ngomong gue ya?”. Atau saat off air kadang canggung untuk ngomong permisi ke fans-nya. Benar-benar kayak tetangga sebelah aja, bukan artis kenamaan. Yaolo sekelas artis aja bisa canggung. Hahaha.

Berfoto bersama Glenn Fredly saat menonton Konser KLa Project di TIM. Glenn dikenal sebagai musisi yang selalu mendukung karya musisi Indonesia lainnya.

Suara ngebas-nya bisa bikin meleleh meski dia cuma ngomong sepatah kata aja. Dan orangnya pun sama memesonanya baik di panggung atau pun di belakang panggung. Sama lucunya, sama bikin klepek-klepeknya. Kenapa saya bilang gini? Karena saya pernah ketemu penyanyi lain yang kalo di panggung tuh menghibur banget, eh pas jumpa di acara meet and greet: ZONK. Nggak se-wow saat di panggung tapi Glenn Fredly nggak begitu. He stays true. Makanya hanya dengan Glenn Fredly saya saya tidak bisa memisahkan ia dari karyanya, saya suka keduanya.

Album Selamat Pagi Dunia itu Soundtrack Hidup Gue

Awal perkenalan saya dengan Glenn Fredly dimulai dari lagu Cukup Sudah yang meledak di tahun 1998. Masih inget banget video klipnya yang tersenyum malu-malu dengan gigi gingsul nembak cewek gebetannya yang cantik banget di mobil. Masih cungkring, masih kurus banget, masih terlihat polos tapi lagunya keren dan enak banget! Yaelah kayaknya hampir semua anak sekolah waktu itu ngerasa senasib sama Glenn deh. Hahaha.

Kemudian saya lupa sama Glenn Fredly. Telinga saya beralih mendengarkan Padi dan Sheila on 7 sampai…..

Sampai di tahun 2004 saya patah hati. Hancur sehancur-hancurnya dan album berjudul Selamat Pagi Dunia seolah mewakili derita saya. Menyuarakan jeritan suara hati sedalam-dalamnya. Bukan cuma satu atau dua lagu tapi satu album tuh rasanya GUE BANGET! Mungkin karena album ini juga diciptakan Glenn saat patah hati. Putus sama Nola B3 jadi relateable banget. Kata orang kan yang udah pernah ngalamin bisa lebih tau rasanya, bukan?

Mulai dari lagu Terpesona yang dinyanyikan duet dengan Audi Item yang bikin saya mengingat gimana merasa terpesona sama (mantan) pacar waktu itu.

Januari, lagu patah hati banget. Rasanya perjuangan banget buat ikhlas bilang, Kasihku, sampai di sini kisah kita, jangan tangisi keadaannya. Dem! Saya ingat gimana air mata jatuh berlinangan tanpa henti waktu itu. Apalagi pas coda bilang teriak…. Uwohooo.. Hohooo… Ikut nyanyi dan teriak juga dong. Katarsis! Alias pelampiasan rasa di hati.

Belum Saatnya (Berpisah). Lagu denial, no need to say let the words speak karena realita banget. Yang pacaran putus nyambung pasti paham banget liriknya. Sulit untuk kuucapkan selama tinggal lagi sebab mungkin aku kan kembali meski benci…. Di dalam hatiku, ku rasa ada ragu pada dirimu. Di dalam jenuhku, masih ada dalam hati, kasihku padamu. Cinta emang serumit itu, biar kesel tapi ya tetep sayang dan Glenn Fredly menyuarakannya dengan baik banget, Ya Allaaaah.

Saya masih menyimpan kaset Album Selamat Pagi Dunia, meski nggak tau bisa diputar di mana karena radio tape lawas saya entah di mana. Hahaha.

Selama Kau Mau. Buat saya ini lagu relapse yang putus asa banget. Putus asa dengan sangat manis. Udah tau hubungannya nggak bisa jalan lagi, entah karena toxic atau nggak dapat restu atau hal lain tapi tetep pengen dilanjutin dan rela mengkompromikan semua hal biar bisa tetap bareng. Segitu putus asanya pengen balikan padahal hal-hal yang rela dikompromikan itu yang bikin hancur hubungannya.

Lagu ini sangat membekas di hati karena saya merasakan keputusasaan yang sama. Saya ingat menyetir di Jalan Pramuka sekitar jam 10 malam waktu itu dengan lagu ini menjadi latarnya. Saking putus asanya, saya terpaksa menepi karena nggak kuat dan membiarkan diri saya menangis tersedu-sedu cukup lama di pinggir jalan. Karena girl… rasanya pahit banget. Segitunya lu pengen suatu hubungan bisa jalan lagi sampe rela kompromiin hal-hal prinsipil padahal itu nyakitin. Sampe rela bilang, udah deh jadian aja nggak perlu ada kepastian kapan nikah gpp, kamu brengsek pun gpp, yang penting kita bareng-bareng selama kamu mau ya. Kedengerannya bodoh but that’s true. Bucin deh! Benar-benar cinta tanpa logika (yang untungnya perasaan itu hanya bertengger 3 bulan saja).

Sekali ini Saja. Permintaan dan harapan pengen bareng lagi sampe melas-melas mohon sama Tuhan sambil berusaha ikhlas melepas. Hayo ada yang sama kayak gini juga? Ngacung!

Selamat Pagi, Dunia. Saya suka lagunya karena optimis. Lagu ini bikin saya bisa bangun pagi dengan perasaan sedikit enak dan semangat buat memulai hari itu. Serius, lagu ini penyelamat saya.

Pada Suatu Cinta. Lagu permintaan buat dikasih kesempatan menyayangi pacar sekali lagi. Tebar janji-janji, bilang kalau mau bareng lagi nanti hal-hal yang sering dikeluhkan pacar bakal diubah deh. Disisipi kekuatiran apa mantan udah punya orang baru atau belum. Sounds familiar? Yes to me.

Hatiku Terganggu, lagu minta putus. Terganggu karena merasa dibohongi.

Tetes Embun, lagu pengakuan alias apresiasi. Saya mikirnya meski udah putus nyambung, sakit hati dibohongi, diselingkuhi atau dapat janji-janji palsu, sebrengsek-brengseknya mantan tuh tetap ada sisi baik yang berkontribusi sama pengembangan kepribadian.

Masih ada lagu Ku Masih di Sini, Sedih Tak Berujung, Akhir Kisah Cinta dan Habis yang ada di album ini. Semuanya benar-benar mewakili isi jiwa. Seolah menyuarakan jeritan hati terdalam yang seringnya sungkan diungkapkan.

Saya sampai beli 2 kaset waktu itu. Iya, dua. Satu saya taruh di mobil dan saya putar pagi dan sore setiap mau pergi kuliah, satu lagi saya taruh di rumah dan saya putar setiap malam menjelang saya tidur. Adik perempuan saya saksi hidup soal ini karena setiap pagi saat mengantarkannya ke sekolah ia terpaksa ikut mendengarkan seluruh lagu di kaset ini. Semua. Bolak-balik, side A dan side B. :mrgreen:

Bokek demi Glenn Fredly

Di tahun 2004 ini juga saya seringkali rela bokek demi bisa menonton pertunjukkan Glenn di Barbados, Kemang waktu itu :mrgreen: . Ya gimana ya, namanya orang patah hati rasanya nyaman kalau ada orang yang bisa ngertiin perasaan melow-nya tanpa banyak kata-kata. Cukup berada di sana ditemani dan dimengerti rasa pedihnya. Dan itu yang dilakukan Glenn Fredly di setiap pertunjukkannya. Lagu-lagunya menjadi outlet emosi yang saya rasakan. Setiap pulang dari melihat aksi panggungnya rasanya puas jiwa dan raga. Lelah (karena biasanya sampe jelang tengah malam) tapi senang. Makanya saya ngefans banget!

Kalimat-kalimatnya yang paling membekas di telinga saat ia menyanyi adalah… “Gue tahu nih cowok-cowok yang hadir di sini, bukan karena mau nonton gue tapi nemenin cewek lu dong kan?”

Pertanyaan yang langsung dijawab dengan tawa oleh para penonton bahkan oleh suami saya sendiri waktu saya ajak nonton Konser Glenn Fredly Cinta Beta di tahun 2012.

Nonton Konser Cinta Beta sama Adrian, yah dia sih separuh jalannnya konser ngantuk-ngantuk tapi gpp lah yang penting masih ditemenin.

Saya terus menyukai Glenn Fredly meski sudah nggak patah hati lagi. Sudah ketemu pacar baru dan sudah menikah pun saya tetap suka. Namun bukan lagi karena rasa hati ingin dimengerti tapi karena memang nada dan liriknya seindah itu di telinga. Saya bela-belain nonton konsernya di mana-mana. Di Senayan, di The Pallas, di Balai Sarbini, di mana aja yang waktunya pas dan cocok, saya pasti nonton.

Kenangan menonton konser Rio Febrian dengan bintang Tamu Glenn Fredly. Waktu itu nonton bareng Aling, Ailtje dan Eno (yang ngambil fotonya). Agustus 2015.

Nonton Konser Tanda Mata Glenn Fredly untuk Mama Uthe (Ruth Sahanaya) di Balai Sarbini, Agustus 2016.

Penyesalan Selalu Datang Belakangan

Namun segitunya saya ngefans sama Glen Fredly selama bertahun-tahun, saya pernah kepentok kejadian nggak enak juga. Waktu itu 26 April 2018 mau nonton konsernya di The Pallas, SCBD dengan acara meet and greet di jam 3 sore. Saya udah sampai di sana tepat waktu, eh lalu acara meet and greet diundur ke jam 5, karena katanya masih butuh latihan. Ditungguin ke jam 5, katanya mau balik ke apartemen dulu dan diundur ke jam 7. Eh jam 7 pun nggak jadi. Lalu jam 8.30, panitia ngabarin kalau akhirnya Glenn udah siap ketemu buat meet and greet. Tapi mood saya sudah hilang. Jadi saya memilih pass. Dan Glenn muncul di panggung jam 9 malam.

Total 6 jam saya menunggunya dan itu bikin saya kesal  sekali. Pulang dari situ saya hapus-hapusin foto konsernya (tapi untung masih selamat dari arsip di blog dan sosial media lainnya) dan memutuskan nggak mau dengar lagu dan nonton konser Glenn Fredly lagi. Sebenarnya ini nih yang saya hindari dari mengidolakan penyanyi, males ngerasain kecewa kalau artisnya lagi kenapa-kenapa. Btw, apa yang saya alami ini rasa-rasanya persis yang dirasakan Sheldon Cooper ke Wil Wheaton di sitkom TBBT deh. Bener gak? Dari suka jadi benci. Hehehe.

Nonton konser Glenn Fredly 2018

Setahun lebih saya nggak mendengarkan lagu-lagu Glen Fredly. Hingga November 2019 lalu tanpa sengaja saya melihatnya hadir dan menyanyi di suatu acara. Mendengar lagi suara ngebasnya yang renyah membuat saya sadar, sungguh saya masih menyukai lagu-lagunya. Saya sudah bisa mendengarkan lagunya di Spotify namun hal itu nggak cukup membuat saya ingin menonton pertunjukkannya. Saya memilih melewatkan jadwal-jadwal manggungnya bahkan yang paling dekat dengan rumah saya sekali pun.

Kemudian saat Rabu, 8 April 2020 mendengar kabar kepergiannya (adik saya yang pertama memberi tahu), saya sempat shock. Saya tahu Glenn sering mengalami masalah kesehatan bahkan di beberapa pertunjukannya pun ia kadang terlihat berbeda. Namun saya nggak menyangka ia pergi secepat itu di usianya yang ke-44 tahun.

Saya diam cukup lama sampai minta peluk ke suami. Sampai Adrian menyanyikan lagu-lagu Glenn Fredly dengan gitar dan bass-nya hampir semalaman hanya untuk menghibur saya. Tapi yah, nasi sudah jadi bubur. Saya nggak punya kesempatan lagi untuk melihat pertunjukkan langsungnya lagi. 😦 Sedih. Sedih banget tapi lahir, jodoh dan meninggal memang rahasia Ilahi dan yang bisa kita lakukan adalah ikhlas.

Aksi Panggung Glenn Fredly di The Pallas, April 2018.

Dear Bung Glenn Fredly, kepergianmu merupakan rasa sedih yang tak berujung seperti judul salah satu karyamu. Huhuhu. Terima kasih sudah menemani periode patah hati saya waktu itu. Lagu-lagumu yang menguatkan saya, yang membuat saya bisa bertahan meski pahit dan kemudian akhirnya move on. Rest in peace. Selalu, saya akan mengenangmu melalui karya-karyamu yang luar biasa indah di telinga. So long, Bung!

 

Ditulis masih dengan hati yang pecah.

 

Kalo kamu gimana? Apa lagu Glenn Fredly yang kamu suka?

9 respons untuk ‘Elegi untuk Glenn Fredly

  1. Daeng Ipul berkata:

    Saya bukan fans Glenn. Lagu-lagunya buat saya terlalu menye-menye 😀
    Saya malah lebih suka penampilan dia dengan bandnya The Bakucakar membawakan lagu-lagu jazz dan lagu Maluku. Kalau lagu galaunya, saya pass. Bukan penggemar lagu galau x))

    Tapi saya tahu Glenn itu orang baik. Seorang teman bloger pernah cerita bagaimana Glenn dengan status selebriti itu tidak keberatan tidur di kantor teman yang biasa saja nun jauh di Ambon sana. Dia tidak sok ngartis.

    Bahkan kemarin seorang teman yang lain cerita, waktu itu dia ke kafe Glenn di M Bloc. Waktu mau buka pintu dia agak kerepotan dan tanpa basa-basi, Glenn membukakan pintu kafe buat dia. Si teman sampai ternganga katanya. Tidak tiap hari kamu dibukain pintu sama artis kan? Hahaha.

    Jadi saya tidak heran ketika banyak orang yang merasa kehilangan seorang Glenn Fredly. Kebaikannya pasti menyisakan kesan mendalam buat banyak orang.

    Selamat jalan Kaka Bung! Ale pung jalan su tamat, tapi ale pung jejak akan selalu tatinggal di kitong pu hati. Sio kaka Bung, selamat jalan.

  2. didut berkata:

    Dan kita semakin dikuatkan bahwa umur manusia memang tidak pernah tertebak dan kita barus berbuat yang terbaik selama diberi nafas oleh yang Maha Kuasa. Amin.

  3. Zam berkata:

    kenangan saya engan Glenn Friedly, dulu pernah diajak jalan-jalan sama Almas dan teman-teman Ambon lewat depan rumahnya di Ambon sana.. “itu rumah Glenn Friedly!” 😆

    saat berita duka Glenn itu terdengar, saya juga melihat beberapa kawan-kawan Ambon terlihat sangat kaget dan terpukul. dan saya juga bisa merasakannya.

    selamat jalan, Glenn Friedly! semoga karya-karyamu tetap dikenang!

  4. Tjetje [binibule.com] berkata:

    Aku masih sedih banget Eka. Di mobil ada CD dia, kemaren ke supermarket nyetir lagu itu sama teriak kenceng-kenceng (secara di sini kan sepi ya). Semoga dia beristirahat dengan tenang.

    Aku juga sedih mikirin istri dan anaknya. Semoga mereka dikuatkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s