Kamu, ya kamu.
Datang dengan segala sikap angkuhmu.
Diam mengintai untuk aku jatuh dalam pelukmu.
Tak pernah ku menyangka ku kan terlena.
Dan sekarang sakitlah yang menjadu kawan….
SALAH
Aku salah.
Terlena dalam lingkar rayu penuh dusta
Menggoreskan luka.
Aku marah; padaku.
Bukan salahmu, tapi aku yang naif.
Aku pergi….
Terjal
Sejumput rindu
Menelusup dalam kalbu
Menggelegakkan nafsu
Sangat menganggu !
Ketika rasa itu menyesak di dada
Kepada siapa utarakan tanya
Lampiaskan dengan prosa
Cumbui melalui mata
Haramkah bercumbu denganmu walau hanya di otakku ?
Tenggelam ditelan ombak yang menderu
Dua
Dan aku terdiam di ujung malam, dengan sayu wajah sepucat rembulan.
Berkilat ditempa temaram cahaya bayang.
Inikah rindu?
Astaga ia ternyata kuat seperti maut…
Tak dapat dicegah, tak mampu dilawan.
Dan aku ada di persimpangan….
Tenang
Belaimu menghangatkan aku
Menenangkan kacau hati
Resapi jiwaku sayang
Aku cinta kamu
Bawa aku dalam nirwanamu
Bebaskan dari belenggu
Agar lepas tawa kita
Kangen #3
Sekelibat romanmu melewati benak ini,
dan aliran darahku terpompa sedikit lebih cepat.
Dadaku berdesir rindu…
untukmu…
Kangen #2
Bulan bersinar menyapu beranda.
Kamu,
Tak tahu rimbanya.
Mungkinkah kita terpapar sinar bulan yang sama?
Walau kau nun jauh disana?
Ingin kutitipkan rindu pada purnama
Agar kau tahu
Ini bukan sekedar rasa
Tapi bunga rindu ini telah menjajah jiwa
Korban
Semudah mengklik tombol unfollow,
tapi enggan kau lakukan.
Dan hubungan kita jadi korban.
Selamat datang sepi.
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.