Gulana dalam Cawan Waktu

Resah ini tak menentu

Aku tak hendak bertemu, namun mengapa bayangmu hadir dalam mimpi slalu?

Ada jutaan alasan untuk membencimu

Dan ya! Aku benci kamu

Wine? Grail?

Benci tingkahmu dulu, benci caramu merampas malam indah milikku

Apa yang kau cari? Apa yang kau mau? Tak jelaskah pesanku?

Kurang tajamkah penaku menyampaikan aksara?

Atau haruskah kuseret seribu setan dari neraka agar kau mengerti?

Cawan ini kan lalu, persis seperti pudar bayangmu

Menunggu masa itu datang menghampiri waktu.

About a Dream

Nightmare

3 nightmares in 1 nite
That is unusual
The demon crawls out from the dark n it hell scares me out

So this is how it is
I am haunted by the past as well as the present
The fact of imagination keeps warning me
I cannot behold your name without guilt or fear

3 nightmares in 1 nite
Crying for the sad melody played in my dream
What is the choice then?
This conscious killing my fantasy bit by bit

3 nightmares in 1 nite
Under-pressure
Restless mind dump me to the ground
You hug me tight till dawn n that’s enough to calm me down

Oh, how I like your tender arms, my perfect hiding place. Wake me up and hug me more…

Surat Tanpa Perangko

Kepada Lelaki yang tak akan pernah kumiliki.

Kamu tahu? Aku kangen kamu. Kangen derai tawa yang kita bagi setiap waktu. Kangen suara beratmu menyapa diujung telepon dengan kawalan jutaan rindu. Menanyakan kabar, menggoda dengan rayuan gombal yang selalu sukses membuatku gemas dan tersipu malu. Ah, aku tersenyum sendiri, teringat akan leluconmu yang diselingi tiupan-tiupan halus ditelinga itu. Sikapmu yang acuh, gayamu yang angkuh; menggugah sebal sekaligus rindu. Kamu memang nakal, tapi aku mau :oops:

Kamu tahu? Dengan bilang “kangen kamu” sesungguhnya aku sedang menenggelamkan nurani kedalam dinginnya air di bak mandi. Biar beku saja ini hati. Karena sesungguhnya jalan kita berseberangan, tak boleh bersama walau genta sayang itu nyata.

Kamu tahu? Sengaja ku tulis semua gundah disini, di halaman kertas maya ini. Karena aku takut. Sungguh aku sangat takut. Aku ingin kamu, tapi harus menjangkaumu dulu. Padahal sepertinya kamu enggan untuk dijangkau, buktinya tiada inisiatif kontak darimu setelah bibir ini melontarkan kata putus. Kamu kejam, membiarkanku pergi dan berkalang rindu sendiri. Aku ingin kamu, tapi harus kompromi (untuk rela jadi istri simpanan). Aku ingin kamu, tapi harus membunuh nurani. Aku ingin kamu, tapi ada halangan setinggi gunung yang merintangi. Bah! Terlalu banyak “tapi” yang membuatku benci.

Kamu tahu? Aku linglung, tak tahu mesti bagaimana lagi ketika jiwa ini dibelenggu pesona sayangmu padaku. Cintamu tidak lagi seperti anggur yang memabukkan, tapi bagai kokain yang membuatku mencandu. Sakau tanpa kamu. Kamu tahu? Sekarang aku bising tak tentu.

Sialan! Kenapa selalu ada kamu dalam otakku?!

*Surat cinta terlarang seorang gadis yang gak punya duit untuk beli perangko.

Tentang Rasa

Jika saja aku bisa bersamamu malam ini. Aku akan memberimu ketenangan batin
Rebahkanlah kepalamu di pangkuanku, benamkanlah wajahmu dalam pelukku
Biar… Biar hangat seluruh jiwamu itu!

Maaf.., Maafkan aku mengganggu lelapmu. Tapi aku sungguh tak tahu, rasa apa ini yang membelenggu. Rasakan dengan kalbu, rasakan rasaku padamu
Entah mengapa rasanya aku mau gila, karena aku tak jua paham tentang rasa!

Zou Chuan

Picture by Zou Chuan

Cerita Lalu

Masih ingatkah kau padaku? Pada seragam putih biru yang kita kenakan dulu?  Kita diam saling melempar senyum, tak ada rasa. Namun diam – diam, ku akui kau telah mulai mencuri perhatian.

Masih ingatkah kau padaku? Pada debat panjang dalam bahasa asing yang tidak dimengerti murid lain? Tak peduli bagaimana semua mata memandang, kita hanyut dalam adu pendapat. Alot, panas, keras, sekeras kepalaku, tak ada yang mengalah. Kala itu semua orang juga tahu kita tidak sekedar berargumen, kita bertukar senyawa. Mantra cinta dilepaskan.

Masih ingatkah kau padaku ? Pada lapangan basket yang menjadi saksi bisu, kala bibirmu menyentuh dekik pipiku. Hanya sekejab, namun getarnya sangatlah hebat. Waktu itu, entah mengapa aku takut. Takut pada dosa, takut ketahuan mama, takut kau menganggapku apa. Tapi tak pelak, yang sekejab itu membuat malamku penuh dengan bunga.

Masih ingatkah kau padaku? Pada jerawat kecil di dahi yang sering kau goda? Pada rona merah di pipi tiap kali kita bertukar sapa? Pada PR yang pura – pura tak bisa agar kau bertandang menawarkan asa? Pada dering telepon di senja hari sekadar bertukar kata?

Masih ingatkah kau padaku?