Sebuah Simfoni

Pernikahan ini bagaikan Simfoni.

Ada seni tersendiri sehingga irama dua hati bisa membentuk sinergi.

Adakalanya denting indah terdengar,

namun ada masa fals yang tersiar.

Bahkan tak jarang nada itu meleset.

Namun, bukankah kidung terdengar lebih indah ketika banyak nada bersatu membentuk irama?

Terima kasih untuk semua nada yang telah kau berikan suamiku,

Bersamamu aku memaknai cinta

Mari terus kita alunkan simfoni ini

Perjalanan kita masih panjang….

Merindu

Celotehku teredam kilat dan guntur di luar sana, seperti hiasan di lepas samudera. Sedikit malas aku melamun dekat daun jendela, ditemani rinai hujan bercengkerama. Mengapa kamu melamun begitu, ia membuka percakapan. Aku dikoyak kangen jawabku pendek.

“Ah engkau sedang merindu. Pada siapa?” tanya sang rintik hujan lagi.

Belum sempat aku menjawabnya rinai hujan tak terdengar lagi kicaunya, tergantikan pelangi. Namun aku sedang tak ingin mengagumi. Aku terbelenggu rindu. Rasa itu muncul tiba – tiba, menyergap jiwa yang gulana. Menawan hati, membangkitkan emosi. Mengalirkan gejolak aneh kedalam otot – otot jantung hingga berdetak lebih cepat. Aku berdebar – debar. Aku merindu. Aku ingin bersenda gurau dengan kicau burung dan terjalnya tebing. Aku ingin kamu.

Legam Terbakar Mentari

Jamal berlari kecil mengejar mentari

Dipundaknya tergantung karung dengan dua tali

Tak hirau jalanan panas berdebu disusuri

Mengais – ngais demi sesuap nasi

.

Jamal berlari kecil mengejar mentari

Rasa aneh menyelinap di relung hati

Melihat sebaya berseragam merah putih dengan topi dan dasi

Mungkinkah ini yang disebut iri ?

.

.

Jamal berlari kecil mengejar mentari

Senyum riang lebar terpatri

Hajatan menyisakan banyak botol kemasan hari ini

Terbayang bisa membeli hati

Mengganjal perut selama beberapa hari

.

Jamal berlari kecil mengejar mentari

Langkahnya terhadang dua pria besar nan tinggi

Meminta jerih payah yang ia sebut rizki

Uang hasil penukaran yang ia usahakan untuk diri

.

Jamal berjalan gontai menghabiskan sore hari

Hilang sudah impian menimbun nasi

Jamal pilu teringat perut lapar adik sedari pagi

Apa yang mesti dikatakannya nanti

Jamal terduduk lemas meraung menatap senja mentari.

Eforia Tubuh


1410808513_76f1656b74_oAku ingin mendesah di telingamu waktu kau menciumi inchi demi inchi leherku 
Aku ingin memagut bibirmu kasar ketika kau lumat bibirku dalam panas ciumanmu
Aku ingin menikmati detik demi detik sensasi liar yang mengalir kedalam darahku tatkala tanganmu menjelajahi seluruh lekuk tubuhku, siluet pinggangku, lentur dadaku
Pegang ini sayang, payudaraku kenyal
Kerling mataku, senyum tipisku, elok tubuhku, menjatuhkan benteng nafsumu,
Mari, hampiri aku. Buai aku dalam manisnya cinta. Aku milikmu.
Aku ingin tubuhmu menghimpit tubuhku, menekannya ketika kau berusaha membawaku terbang ke surga dunia.
Dadaku berdetak kencang,
Tubuhmu bergerak cepat,
Eranganku,
Lenguhanmu,
Desahanku dan rintihanku,
Semua berkejaran dalam kenikmatan nafsu
Bersatu seirama nafasmu yang memburu.
Aaaaach, peluhku menyatu dengan peluhmu
Jiwa kita melebur dalam panas kenikmatan !!
Cinta ini manis sayang,
Aku mereguknya,
Engkau merenggutnya,
dan aku suka.
Berikan aku sensasi yang lain.
Aku ingin bercinta !

Ibu

Ibu mengapa engkau membenciku?

Mengapa kata pedas dan makian tajam selalu terlontar atas tindakku?

Mengapa sebuah piring lebih mendapat kasihmu dibandingkan aku?

Maafkan aku ibu, licin sekali piring itu

.

Ibu mengapa matamu nanar tiap kali aku ingin mendekatimu?

Mengapa tanganmu terjulur selalu untuk menjewer bukan memelukku?

Hingga ku percaya keberadaanku adalah bayang semu

.

Ibu mengapa tanganmu terkibas kasar kala aku ingin menggapai hangat cintamu?

Katamu aku merampas masa SMA-mu

Membuatmu berkubang malu

.

Ibu mengapa engkau membenciku?

Mengapa api kemarahan terpancar jelas tiap kali engkau memandangku?

Salahku kah jika era mudamu terhempas nafsu?

Hingga aku hadir dalam rahim tanpa kau mau?

.

Ibu aku hanya rindu setitik belai kasihmu

Ku mohon jangan benci aku

Bagaimanapun engkau ibuku

Ibu….

Dengar pintaku

Laila Gadis Kecil Berkuncir Dua

Laila gadis kecil berkuncir dua, pergi ke sekolah selalu diantar ibunda. Duduk di kelas tiga, Laila bersekolah dengan rajinnya.

Laila gadis kecil berkuncir dua, hari ini diantar paman ke sekolah karena bunda harus bekerja. Dalam dunianya hanya ada tawa, Laila bermain riang dengan teman sebaya.

Laila gadis kecil berkuncir dua, terpatri dalam kebingungan tatkala pamanlittle girl menyelipkan tangan ke dalam roknya. Berkata bahwa itu tanda sayang orang dewasa. Laila diam dalam kepolosannya.

Laila gadis kecil berkuncir dua, tiada lagi senyum di wajah gembilnya. Tak suka ketika paman menindih tubuhnya. Laila diancam tak boleh bicara.

Laila gadis kecil berkuncir dua, sekarang hanya diam seribu bahasa. Tak ada lagi ceria, apalagi tawa. Semua terenggut dengan paksa sebelum ia mengerti itu apa.

SELAMATKAN GADIS KECIL KITA

Waspada terhadap siapa saja

Dunia semakin gila