Ibu

Ibu mengapa engkau membenciku?

Mengapa kata pedas dan makian tajam selalu terlontar atas tindakku?

Mengapa sebuah piring lebih mendapat kasihmu dibandingkan aku?

Maafkan aku ibu, licin sekali piring itu

.

Ibu mengapa matamu nanar tiap kali aku ingin mendekatimu?

Mengapa tanganmu terjulur selalu untuk menjewer bukan memelukku?

Hingga ku percaya keberadaanku adalah bayang semu

.

Ibu mengapa tanganmu terkibas kasar kala aku ingin menggapai hangat cintamu?

Katamu aku merampas masa SMA-mu

Membuatmu berkubang malu

.

Ibu mengapa engkau membenciku?

Mengapa api kemarahan terpancar jelas tiap kali engkau memandangku?

Salahku kah jika era mudamu terhempas nafsu?

Hingga aku hadir dalam rahim tanpa kau mau?

.

Ibu aku hanya rindu setitik belai kasihmu

Ku mohon jangan benci aku

Bagaimanapun engkau ibuku

Ibu….

Dengar pintaku

Laila Gadis Kecil Berkuncir Dua

Laila gadis kecil berkuncir dua, pergi ke sekolah selalu diantar ibunda. Duduk di kelas tiga, Laila bersekolah dengan rajinnya.

Laila gadis kecil berkuncir dua, hari ini diantar paman ke sekolah karena bunda harus bekerja. Dalam dunianya hanya ada tawa, Laila bermain riang dengan teman sebaya.

Laila gadis kecil berkuncir dua, terpatri dalam kebingungan tatkala pamanlittle girl menyelipkan tangan ke dalam roknya. Berkata bahwa itu tanda sayang orang dewasa. Laila diam dalam kepolosannya.

Laila gadis kecil berkuncir dua, tiada lagi senyum di wajah gembilnya. Tak suka ketika paman menindih tubuhnya. Laila diancam tak boleh bicara.

Laila gadis kecil berkuncir dua, sekarang hanya diam seribu bahasa. Tak ada lagi ceria, apalagi tawa. Semua terenggut dengan paksa sebelum ia mengerti itu apa.

SELAMATKAN GADIS KECIL KITA

Waspada terhadap siapa saja

Dunia semakin gila

M A A F

asiancentral1

Saat akal sehat seolah lari menjauh,
Saat suara meninggi padahal raga ini hanya berjarak centi,
Saat pahit berkumpul dalam rongga dada dan tangis mulai menyeruak,
Saat kata meluncur cepat tanpa sempat dicerna,
Saat pikiran tak lagi sepaham,
dan kemudian sesal timbul tenggelam,
Saat itu kata maaf seperti oase dingin penyejuk jiwa