Learning How to Say No

I’m still learning the first line, comfortably. Garis bawahi kata comfortably alias nyaman. Dididik sama orang tua untuk harus selalu patuh dan kena omel abis-abisan kalo enggak nurut, bikin saya nggak nyaman buat menolak.

Saya terbiasa untuk speak up apa maunya saya dan nggak ada masalah dengan itu. Namun begitu ada orang yang minta tolong, ambyar semua. Saya nggak nyaman menolak. Sering merasa bersalah atau nggak enakan gitu kalo ada yang minta tolong. Say No itu tingkat kesulitannya (buat saya) sama kaya kalau saya lagi bikin itinerary liburan keluarga ke Korea atau itinerary jalan-jalan ke Kamboja :D. Ribet.

Biasanya saya jawab rada muter-muter dengan harapan orangnya paham dan mundur sendiri. But most of the time, it’s just didn’t work that way. People tend to manipulate others to achieve what they want without thinking other people’s convinience.

Akibatnya saya jadi sering kepayahan sendiri karena susah menolak. Sering overwhelmed sama pekerjaan, sering kehabisan waktu karena ada banyak hal mesti diselesaikan. Capek.

It’s Not Selfish, It’s Self Love

Namun beberapa tahun terakhir saya belajar bilang “enggak”. Enggak ya enggak. Tanpa alasan, tanpa harus menjelaskan kenapa saya mengatakan itu. Dan terus terang, ini menyelamatkan saya dari berbagai macam kerepotan. Hidup jadi lebih enteng, nggak memikul beban orang lain di pundak sendiri 🙂

Belum lulus sih, belum smooth bener karena masih belum nyaman banget untuk menolak.  Namun paling enggak udah ada kemajuan. Udah nggak ”Yes, mam,” all the time. Sesekali udah bisa nolak dengan baik.

Baca juga artikel lain tentang cara saya menyayangi diri sendiri:

1. Waxing Time

2. Waktunya Spa dan Pijat-pijat Manja

3. Dengerin Musik tahun 90an

 

Break the Cycle

Ohya berhubung saya nggak pengen anak saya jadi people pleaser kayak saya, maka saya juga belajar menerima penolakan. Kalo saya minta Basti melakukan sesuatu dan dia nggak mau, saya tarik napas panjang dan mengingatkan diri sendiri kalau ia adalah individu mandiri yang berhak bilang tidak, bebas mengutarakan maunya apa.

Nggak gampang tapi bisa terus dilatih.

Benerlah pepatah lama yang bilang kalo punya anak itu pembelajaran seumur hidup buat orangtuanya. Yah, saya malah jadi banyak belajar dari parenting anak saya.

 

Love,

Eka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s