Kemarin sore saya chat dengan Tante Yayat, mamanya Rosita, sahabat karib saya dari zaman awal kuliah dulu. Saking karibnya, bahkan setelah lulus kuliah pun kami memutuskan bekerja di kantor yang sama agar tetap bisa terus akrab bersahabat. Nggak tanggung-tanggung, hingga 2 kantor banyaknya. Saat saya pindah ke kantor kedua, Rosita juga ikut pindah. Untung ada lowongan saat itu.
Kami bersahabat lama, belasan tahun, seharusnya puluhan tahun jika Tuhan mengizinkan. Sayangnya Tuhan lebih sayang Rosita, ia dipanggil pulang duluan di tahun 2015 saat persahabatan kami menginjak tahun ke-17. Beruntung, saya sempat menemaninya di masa-masa kemoterapi beberapa waktu lamanya. Saat Rosita meninggal, saya sedih. Hidup seolah mengambang untuk beberapa waktu. Pahit banget rasanya. Saya menangis sampe air mata kering, saya memanjatkan doa berkali-kali untuknya, saya menuliskan perasaan kehilangan saya di laman blog ini banyak sekali: menyesali waktu kami yang telah habis dipaksa takdir.
Bicara soal waktu yang habis, kemarin juga saya stumble sama twitnya Mbak Denald yang ini:

Ndilalah pas. Namun kali ini bukan karena takdir, tapi karena keputusan saya sendiri mengakhiri pertemanan yang telah lama terjalin. Alasannya sederhana tapi kompleks namun benang merahnya: Saya ingin bebas mengekspresikan diri tanpa harus ditekan ini gak boleh, itu gak boleh dan dipaksa mempertimbangkan perasaan orang lain terus-menerus. Lha perasaan gue gimana? I really wanna be free.
Baca lebih lanjut
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.