Tak Ada yang Abadi

Kemarin sore saya chat dengan Tante Yayat, mamanya Rosita, sahabat karib saya dari zaman awal kuliah dulu. Saking karibnya, bahkan setelah lulus kuliah pun kami memutuskan bekerja di kantor yang sama agar tetap bisa terus akrab bersahabat. Nggak tanggung-tanggung, hingga 2 kantor banyaknya. Saat saya pindah ke kantor kedua, Rosita juga ikut pindah. Untung ada lowongan saat itu.

Kami bersahabat lama, belasan tahun, seharusnya puluhan tahun jika Tuhan mengizinkan. Sayangnya Tuhan lebih sayang Rosita, ia dipanggil pulang duluan di tahun 2015 saat persahabatan kami menginjak tahun ke-17. Beruntung, saya sempat menemaninya di masa-masa kemoterapi beberapa waktu lamanya. Saat Rosita meninggal, saya sedih. Hidup seolah mengambang untuk beberapa waktu. Pahit banget rasanya. Saya menangis sampe air mata kering, saya memanjatkan doa berkali-kali untuknya, saya menuliskan perasaan kehilangan saya di laman blog ini banyak sekali: menyesali waktu kami yang telah habis dipaksa takdir.

Bicara soal waktu yang habis, kemarin juga saya stumble sama twitnya Mbak Denald yang ini:

Ndilalah pas. Namun kali ini bukan karena takdir, tapi karena keputusan saya sendiri mengakhiri pertemanan yang telah lama terjalin. Alasannya sederhana tapi kompleks namun benang merahnya: Saya ingin bebas mengekspresikan diri tanpa harus ditekan ini gak boleh, itu gak boleh dan dipaksa mempertimbangkan perasaan orang lain terus-menerus. Lha perasaan gue gimana? I really wanna be free.

Baca lebih lanjut

You Suppose to Turn 42 Today

My heart aches when I opened our college album and recalling all the memories that comes within.

It hurts badly that I cried.

It hurts knowing that our friendship didn’t have a chance to have further rollercoaster joyful-sadness-exciting-fearfully life experience memories.

It hurts so much that we cannot exchange calls after long tiring days in the office.

It hurts painfully we cannot watch our kids grow bigger together. Basti and Vino will be great buddies just like we are (I am sorry, I still cannot write in past tense. I feel like you are still here with me by soul)

It hurts deeply reminiscing what we have gone through together and thinking what we might could’ve done.

Your mom just texted me this pic of us. The day when we graduated together. A bit blurry but I wanna post it here. I still keep in touch with your mom, Ros. I still keep in touch with your fam.

You are more like a sister to me than a friend, Ros. May you Rest In Peace in heaven. I love you always.

Written accompanied by Run of Collective Soul, one of your fave bad. I miss you badly, Ros.