Tak Sengaja Menyapih

Breastfeeding is an unsentimental metaphor for how love works, in a way. You don’t decide how much and how deeply to love – you respond to the beloved, and give with joy exactly as much as they want.Marni Jackson.

Saya tidak pernah menyangka bahwa proses menyapih anak saya datang secepat ini. Usianya baru 17 bulan tapi ia sudah tidak mau lagi menyusu langsung pada saya. Saya kira… (Huuuffft ambil napas panjang) Saya kira saya masih punya waktu yang cukup lama untuk menyusui baby boy, paling tidak sampai usianya 24 bulan. Itu rencana awal saya.

Eka & SebastianTapi rencana, tinggal rencana. Beberapa waktu lalu saya sempat diopname cukup lama dan pada masa itu saya dilarang keras untuk menyusui atau memompa ASI sebab kadar antibiotik dalam tubuh saya sangat tinggi. Saya sudah meminta… (ah, tidak, kata meminta terlalu halus) Saya sudah mengemis kepada dokter yang merawat saya agar memberikan antibiotik dan obat-obatan yang ramah untuk busui, namun sayang, untuk penyakit yang saya derita pada saat itu tidak ada pilihan obat atau antibiotik yang memungkinkan untuk itu. Strike One.

Ya sudah, walau patah hati karena saya tidak boleh menyusui atau memompa tapi saya masih menyimpan harapan bahwa setelah sehat nanti saya akan menyusui baby boy lagi. Namun, ternyata setelah selesai masa pemulihan… Baby boy sudah lupa sama payudara saya :(. Strike two. Di pukulan kedua ini, hati saya remuk. Sedih banget. Nggak ikhlas, nggak rela. Lho kok baby boy nggak mau menyusu lagi? Tapi saya nggak hilang akal, saya berkonsultasi mengenai maslaah saya dengan Mbak Desty –salah satu penggiat AIMI di Bogor- dan ia menyarankan untuk saya mencoba relaktasi (proses menyusui kembali yang dilakukan setelah beberapa hari, beberapa minggu, bahkan beberapa tahun setelah berhenti menyusui).

Usaha Pantang Menyerah

Baiklah. Usaha untuk relaktasi pun saya lakukan. Hal pertama yang saya lakukan adalah saya mencoba skin to skin dengan baby B. Saya sudah semangat banget. Skin to skin ini kan kayak waktu anak saya masih bayi banget. Tapi kesenangan saya layu sebelum berkembang. Baby boy tidak suka. Cuma 10 menit skin to skin, ia mengambil baju dan minta agar bajunya dipakaikan lalu main ke luar. OK, skin to skin gagal.

Saya coba taktik lain. Saya berusaha menghabiskan banyak waktu dengannya. Main, bobok, mandi bareng sampe semuanya deh. Saya selalu menawarinya untuk menyusu langsung pada saya. Tapi… DITOLAK. Bahkan tangan mungil bayi saya itu mengatupkan baju daster saya agar dada saya yang terbuka tertutup :(.

Sedih? Iya. Sakit hati? Ho-oh. Tertolak? Banget. Huhuhu. Entah berapa kali saya menangis diam-diam. Serius deh, saya masih belum rela menyapih anak saya. Rasanya masih pengen kruntelan dengan baby boy menyusu pada dada saya dan mata kami saling berpandangan mesra. Duh, momen-momen menyusui itu buat saya adalah momen indah yang kudus! Momen sakral antara ibu dan bayinya.

Menghadapi kenyataan baru ini, saya lumayan jadi pendiam untuk beberapa hari. Tapi saya pikir-pikir lagi, kalau memang sudah jalannya seperti itu mau gimana lagi ya? Saya toh sudah berusaha relaktasi tapi si bocah memang nggak mau. Ibu-ibu lain mungkin bingung bagaimana menghadapi anaknya yang nggak mau disapih. Saya? Saya bingung menghadapi kegalauan diri sendiri karena anaknya yang minta disapih.

Akhirnya saya harus sepakat dengan kata-kata dari teman saya Iru yang bilang bahwa menyapih itu seyogya terjadi saat baik ibu dan anak siap agar tidak ada yang tersakiti. (((((TSAAAH)))) Emang anak ABG aja yang bisa kena drama tersakit? Emak-emak juga bisa banget tersakiti tau! *tunjuk-tunjuk belahan dada* :mrgreen: . Ah anakku, walaupun engkau tidak menyusu langsung dari mamimu lagi, tapi tumbuh besarlah dengan bahagia ya. I always love you no matter what.

Bagaimana kisah menyapih yang ibu-ibu alami? Lebih drama anaknya atau emaknya?

Advertisements

18 thoughts on “Tak Sengaja Menyapih

  1. devieriana says:

    Nah, aku belum sampai di masa menyapih, tapi ipar aku udah di tahap itu pas baby-nya jalan 18 bulan. Bulan ini Alea 18 bulan, dan dia masih semangat menyusu, walaupun cuma di saat-saat dia mau bobo atau nonton TV kalau pagi menjelang aku ngantor. Cuman, pertanyaan tentang ‘sapih menyapih’ itu udah ada beberapa bulan yang lalu. Akankah aku yang akan menyapih Alea, ataukah Alea yang akan meminta disapih dengan sendirinya.

    Setuju sama kamu, menyusui adalah saat paling mesra antara ibu dan bayi/balitanya. Tapi sebenernya kita masih bisa mesra sama mereka dalam berbagai cara kok, in many ways…

    Semoga anak-anak kita tumbuh dengan bahagia ya 🙂

  2. littlethingsonmymind says:

    Ditolak anakku gak mau nyusu 1 hari aja aku bisa bermuram durja kak, sedih sampe mata berkaca-kaca, curhat sama suami persis orang lagi patah hati….apalagi disapih sama anak sendiri, huaaaaahhhh, pedihhh bgt!

    *pukpuk kak Eka…. tapi kl sampe anak dan ibu sama2 gak ikhlas disapih dan menyapih lebih repot lagi ya kak, bawa tuh nenen sampe TK wkwkwkwk *pengalaman tetangga sebelah dl hahaha

  3. wiektyas says:

    Saya nyapih toddler boy 4 bulan lalu mba.. karena sudah lewat masa kontrak 2 tahun (tepatnya 2,5 tahun menyusui) hehe.. yg drama bapaknya dia bilang masih seneng lihat sy nyusuin toddler boy kami.. Cukup mudah si mba nyapihnya, kasih kopi hitam si anak udah gk mau hehehe… tp sy sempat kasian namun di tega tega in.. 🙂

  4. dhee says:

    aku pun terpaksa menyapih di 17 bulan…
    karena riwayat kontraksi dini waktu hamil kemarin, jadi hamil yang sekarang nggak boleh menyusui, takut kontraksi lagi…

    sediiiiih…
    si bayi ampe demam tinggi 😦

  5. Bieb says:

    Walaupun sedih…tapi hebat euy abang Bastian bisa menyusu sampai 17 bulan. Aku sapih Raya karena aku hamil Sophia. Pantesan waktu itu asiku makin lama makin sedikit. Tapi itupun baru berhasil sapih pas sophia ud umur 5 bulan di kandungan. Pelan2 bilangin Raya tiap malem pas dia nenen.
    Sedih sih ga bs nyusuin Raya sampai 1 tahun.
    Tp memang benar bahwa kemesraan dengan anak bisa tercipta walau tanpa nenen. 🙂

  6. ipied says:

    wah beruntungnya kamuu…proses menyapihnya gampang, dan emang mestakung.
    Aga sudah 2 tahun 2 bulan dan masih nenen, jelang bobo, pas 2 tahun udah coba bobo terpisah kamar, jadi dia bobo sm bapaknya, eh gak berhasil. Anaknya jadi nangis drama dan sempat seminggu membenci saya dan bapaknya.

    Ya sudah lah, semua gak bisa dipaksakan, kl masih mau nenen ya saya kasih, kalo enggak ya enggak. Nanti pasti ada waktunya kalo dia gak mau. Hihi jadi saya gak mau memaksa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s