Nostalgia Membaca Buku dan Perpustakaan

Dulu waktu saya  kecil, mamak saya sering membacakan cerita dari buku atau majalah. Bukunya ada  banyak banget jadi saya nggak ingat apa saja yang pernah dibacakan. Cuma kalau majalahnya sih ingat: Majalah Bobo! Majalah sejuta umat anak-anak kecil dulu. Hihihi.

Terbit setiap hari Kamis, saya selalu menanti-nantikan majalah Bobo. Selalu excited karena penasaran sama cerita-cerita yang ada di sana.

“Hmm kira-kira kali ini Bona dan Rongrong ngapain ya?”

“Nirmala dan Oki bakal berpetualang ke mana nih di edisi ini?”

Pemikiran model-model kayak gitulah.

Waktu itu, biasanya mamak membacakan buku sebelum saya dan Valen, adek saya, tidur siang. Saya senang sekali mendengar bunyi halaman demi halaman kertas majalah yang dibalik. Sreeet… Sreeet… Seolah menjadi lagu pengantar tidur siang dan biasanya saya pun bermimpi indah.

Menjadi Anggota Perpustakaan Sekolah

Saking senangnya dengan buku, setelah saya bisa membaca, saya menjadi anggota perpustakaan di sekolah saat kelas 3 SD. Ibu guru ketika itu mengenalkan konsep perpustakaan, dan beliau meng-encourage murid-muridnya untuk menjadi anggota. Saya penasaran banget dengan perpustakaan. Wow ternyata ada banyak banget buku yang bisa dipinjam, bagus-bagus pula koleksinya! Dan tanpa ragu, saya pun langsung mendaftar.

Buku pertama yang saya pinjam dari perpustakaan adalah kisah tentang Ikan Mas yang ternyata adalah putri yang dikutuk. Saya nggak inget lagi detil ceritanya tapi saya masih ingat sampul bukunya berwarna merah menyala dengan gambar putri duyung. Ah, senang sekali rasanya waktu itu sekaligus bangga bisa meminjam buku dari perpustakaan. Ternyata dari 30 siswa di kelas hanya 5 orang yang menjadi anggota perpustakaan mengikuti saran ibu guru. Yang 25 orang lagi nggak tau deh ke mana. Hihihi.

Semenjak itu, setiap kali naik jenjang sekolah, SMP, SMA dan kuliah, saya selalu senang ke perpustakaan. Memang ada momen saya benci banget sama buku-buku fiksi atau novel romansa yang menurut saya nggak masuk akal dan membuang waktu namun pada akhirnya kecintaan sama kisah-kisah yang membangkitkan imajinasi muncul lagi. And here I am sekarang jadi penggemar novel-novel Harlequin. Hahaha.

 

Kenalan sama British Council Library

Perjalanan kegemaran saya membaca makin kuat saat kuliah. Awalnya karena tuntutan tugas sih, ada mata kuliah Reading yang memang mengharuskan untuk membaca buku-buku literasi berbahasa Inggris yang saya nggak tau mesti cari di mana bukunya. Beruntung teman sekelas ada yang ngasih tahu untuk pergi ke British Council Library yang ada di Gedung S. Widjojo Center di Jalan Jenderal Sudirman. Salah satu perpustakaan terbaik yang pernah saya kunjungi karena koleksi bukunya dan perlengkapan penunjang lainnya.

Teman-teman kuliah zaman dulu. EDSA UNJ!

Anw, lalu pergilah kami berenteng-renteng sekelas ke sana. Pulang kuliah tengah hari bolong nungguin Bus Mayasari Nomor 57 jurusan Blok M. Berdiri di pinggir Jalan Rawamangun Muka, kena kentut bus-bus lain yang hitam pekat asapnya sampai muka kemringet kena hantam panas terik matahari. Hahaha. Tapi walau begitu nggak mengeluh, yang saya ingat malah hangat canda tawa dari teman sekelas seperti alm. Rosita, Dina, Arnilah, Evi Suryanvi (iya namanya bener kok belakangnya memang -vi hehehe), Eri, Uel, Khalif, Feta, Iqoh, Sri, Ivana, Isye, Shinta, Icha dan Yulita. Sepanjang perjalanan di dalam bus yang seringnya berdiri dulu dan baru dapat duduk begitu memasuki Cawang itu kami bercanda, ledek-ledekan sambil kipas-kipas. Well, bus zaman dulu nggak pake AC, bung! Dan begitu sampai di S. Widjojo Center rasanya kayak surga sebab sejuk poll. Hihihi.

Walaupun British Council Library sekarang sudah tutup, namun koleksi buku-buku dan perlengkapan audionya dihibahkan ke Kementerian Pendidikan. Jadi tetap bisa dinikmati banyak orang.

 

Menularkan Kegemaran Membaca

Nah, sekarang kebiasaan membaca buku ini saya lakukan bersama Basti. Saya membacakan buku dari Basti masih bayi, walaupun nggak ngerti tapi paling tidak ia mendengar nada-nada yang berbeda dari kalimat-kalimat yang saya bacakan.

Awalnya, kegiatan ini untuk quality time dan mempererat bonding, namun saya tak menyangka kalau lambat laun Basti juga menyukainya. Sekarang inisiatif membaca buku itu selalu muncul dari Basti, biasanya malam sebelum tidur. Sekitar jam 9, Basti sudah sibuk menjejerkan buku mana yang mau dibaca malam itu. Beberapa buku kesukaannya bisa dibaca hingga 4x seminggu. 😀 hahaha.

Basti and his books from BBWB. Look at his exciting face.

Jumlah buku yang dibaca sebelum tidur tergantung bagaimana ia berperilaku hari itu. Bagaimana ia bekerjasama merapikan mainan, membantu membereskan piring dan gelas makannya, berpakaian sendiri, taat dalam berdoa, dst. Yah, namanya juga mamak-mamak nggak mau rugi. Kegiatan baca buku juga dipakai buat reward atas kemandiriannya. Hihihi.

 

I’m so glad that I love reading and my son loves it too. How about you? How often do you read books?

Iklan

5 respons untuk ‘Nostalgia Membaca Buku dan Perpustakaan

  1. Hastira berkata:

    aku juga dari kecil dibiasakan membaca cerita, tp semenka menikah berhenti, mau mulai lagi masih maju mundur saja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s