Setelah 3 tahun mengambil sabbatical leaves, saya mbatin di awal tahun 2020; apa yang bisa saya lakukan buat negara ini? I felt like I could do something better in my field. So I got back to work dengan impian ingin berkontribusi lebih untuk Indonesia di keahlian yang saya punya. Klise, tapi saya pikir, jika ingin mengubah sesuatu maka mulai dengan mengubah sistem and that means I need to be inside the system. So I did. And here I am.
Saya mengawali masuk kerja dengan berada di tim evaluasi. Memberi masukan apa yang suatu organisasi perlu lakukan untuk perbaikan kinerja pegawai dan organisasi. Selain itu, sesekali saya diminta me-review atau memberikan masukan jika ada pedoman atau aturan yang akan dikeluarkan terkait bidang yang saya tekuni. Tidak terlalu berat karena tanggung jawab nggak sepenuhnya ada di pundak saya. Role begini udah bikin saya puas coz I know I am doing something for my country. Dan mbatin saya di 2020 itu menurut saya udah terlaksana…. but not
Kalo kemarin saya ceritakan pesan-pesan random yang saya dapat dari orang asing, kali ini saya tuliskan pesan-pesan dari orang-orang yang dekat di hati sebagai bentuk apresiasi. Dari pasangan, sahabat, teman, kolega atau atasan saya sendiri. Dikirimkan karena mereka mengetahui kebiasaan saya. Membacanya ulang membuat hati saya hangat karena saya tahu bahwa saya ada di hati mereka juga.
Acapkali, saya menerima pesan dari orang asing secara random: di kafe, di restoran atau di mall. Dalam seminggu ini setidaknya saya menerima 2 pesan yang out of nowhere.
Pesan kopi di suatu restoran yang tidak terkenal dan ketika saya angkat cangkirnya, saya terkejut mendapati pesan manis begini.
Saya mulai mengenal Miley Cyrus sekitar tahun 2006 saat ia berperan di Hannah Montana. Cute teenager yang dielu-elukan banyak orang karena bersuara emas dan juga punya kepribadian yang menyenangkan. Namun, saya juga menyaksikan momen ia memasuki masa dewasa: “untamed” “nakal”, “bandel”, “berontak”, twerking, “breakdown” lewat lagu Wrecking Ball hingga her messy divorce dan sekarang kembali dengan suara yang lebih enak didengar dan lagu-lagunya pun ngehits karena relatable. In short, I’ve seen her changes.
Anw, saya pernah membaca bahwa Miley Cyrus dibesarkan dengan didikan Kristiani ketika kecil. Ia bahkan mengenakan purity ring saat memasuki masa remaja. This actually reminds me of myself, I have a very protective father yang punya mata elang mencermati siapa yang dekat dengan anak-anaknya thus hidup saya lurus banget. Nggak ada yang berani ngajakin nakal karena udah jiper duluan liat bapak saya Dengan didikan model begitu, Bagusnya sih… ya nggak macem-macem. Gak neko-neko but at some point ada juga keinginan berontak dan ngerasain nakal tuh kayak apa. Saya ingat, sahabat saya bahkan pernah komen, “You’re so pure. So clean.” Karena saya tidak menyentuh rokok, jarang alcohol (kalopun iya, pasti ada yang ngawasin), dan tidak bertato. I took my buddy’s comment as a compliment but still.. sempat penasaran sih nakal tuh kek apa 😅
Tahun 2023 lalu saya berhasil membaca 12 buku dalam setahun! Yeay.That means 1 book/month. Glad I’m back on the right track. 😊 Membaca itu membuka ruang ruang-ruang pengetahuan baru. Memperlembut jiwa dan kita jadi bisa belajar dari pengalaman orang lain tanpa harus terperosok mengalaminya sendiri. Dan terkhusus pencapaian bisa memenuhi GRC ini memompa rasa bahagia tersendiri di hati saya. I feel like return back to the world where I have known before. Karena somehow saya sempat hiatus dari Goodreads selama 3 tahun, embuh rasanya males aja update buku di sana hahaha.
Khusus untuk tahun 2023 ini sepertinya saya berhutang budi pada Kimi yang bukan hanya selalu menyemangati saya membaca, namun juga ngajakin book date, bahkan kadang mengusulkan untuk membaca buku barengan (thanks, Yellow Face ternyata seru!). Nggak bisa dipungkiri, reading buddy dengan selera yang mirip atau mendekati itu ternyata ngaruh juga ya buat keep me on track. Pelecut semangat. Hehehe.
Hibah
Ohya, di akhir tahun 2023 lalu saya juga mendapatkan hibah 4 buah buku seri kenangan karya mendiang Nh. Dini dari sahabat saya Ailtje. Sebelumnya saya hanya pernah membaca 1 karyanya berjudul Pada Sebuah Kapal lalu setelah itu Nh. Dini hilang dari khasanah buku yang saya baca. Nah, sekarang saat saya mulai membaca karya-karyanya lagi, duh rasanya senang tak terkira! Memang Nh. Dini adalah pengarang angkatan 50 sehingga buku-bukunya pun sarat berkisah tentang masa lalu dan juga kondisi berpuluh-puluh tahun lalu, but it’s okay. Jadi bisa dapat gambaran suasana zaman dulu tuh kayak apa.
Baca buku seri kenangan dari Nh. Dini pas liburan ke Kota Apel. Funny thing is, ini buku dibawa Ailtje dari Malang lalu diberikan ke saya di Jakarta. Kemudian saya bawa liburan dan dibaca di… Malang 😀 Malangception banget ini ya. Hahaha
Goodreads Challenge 2024
Anw, untuk tahun 2024 ini, saya merencanakan membaca 12 buku juga, sama seperti 2023. Bukan nggak mau improvement, tapi sadar diri nggak mau nargetin sesuatu yang sulit dicapai, biar nggak sedih gitu. Jujur, kadang down sih kalau ngeliat orang-orang nge-set target GRC itu 60-100 buku. Kayak Mbak Desti, Puty , Nike atau ya Kimi. Like, wooow keren banget! Tapi melihat beban pekerjaan dan rencana-rencana traveling yang sudah dibeli tiketnya, saya tetap firmed berencana baca 12 buku aja. Nggak mau pasang target muluk-muluk hahaha. I have my own pace. Bisa baca aja udah Syukur. Hihihi. Kalian sendiri gimana, berencana baca berapa buku?
Selesaikan baca buku ini dulu sebelum beli baru ya, Kaaaa. Yaaaaa old habits die hard, beli buku terus, entah kapan bacanya. Hahaha.
Rejeki tuh nggak akan salah alamat, apa yang jadi milik akan jadi milik meski berliku atau tunggu waktu.
Jadi dari 2 tahun lalu saya ada ngincer suatu barang di kantor. Asli pengen banget jadi milik supaya punya environment data enak, nyaman dan supporting dengan Macbook yang saya miliki. Tapi ya ada kendala gitu deh. Ya udah, saya ikhlaskan. Nggak pake itu barang, saya tetap hidup kok. Gitu pikir saya.
Setiap akhir pekan, saya mengusahakan masak makanan yang agak berat buat Abang dan Basti. Biasanya bergantian antara menu Jawa Timur atau dari Medan sana. Kalo menu Jawa Timur, saya sering memasak Rawon dan Ayam Bumbu Rujak (sengaja nggak pake santan biar sehat namun sebagai gantinya saya pakai kemiri yang disangrai lalu diblender agar tetap ada sensasi kental dan gurih kek santan gitu).
Berhubung masih libur, tanpa menunggu wiken, hari ini saya memasak Rawon. Sengaja pergi ke pasar pagi-pagi biar nggak kehabisan daging has dalam. Rawon sebenarnya bisa pake daging apa aja tapi saya selalu pakai daging has dalam karena kelembutannya. Serat-serat dagingnya halus sehingga kalo dikunyah tuh nggak ngelawan balik 😅
Anw, apalah arti rawon kalo nggak ada lemaknya kan? Sementara daging has itu murni daging tok! Nggak berlemak, nggak kayak perut saya 😅 hahaha. Akhirnya saya akali dengan beli gajih 5-10 ribu saja huat ditambahkan ke dalam kuah sup rawon.
Kemarin sore saya chat dengan Tante Yayat, mamanya Rosita, sahabat karib saya dari zaman awal kuliah dulu. Saking karibnya, bahkan setelah lulus kuliah pun kami memutuskan bekerja di kantor yang sama agar tetap bisa terus akrab bersahabat. Nggak tanggung-tanggung, hingga 2 kantor banyaknya. Saat saya pindah ke kantor kedua, Rosita juga ikut pindah. Untung ada lowongan saat itu.
Kami bersahabat lama, belasan tahun, seharusnya puluhan tahun jika Tuhan mengizinkan. Sayangnya Tuhan lebih sayang Rosita, ia dipanggil pulang duluan di tahun 2015 saat persahabatan kami menginjak tahun ke-17. Beruntung, saya sempat menemaninya di masa-masa kemoterapi beberapa waktu lamanya. Saat Rosita meninggal, saya sedih. Hidup seolah mengambang untuk beberapa waktu. Pahit banget rasanya. Saya menangis sampe air mata kering, saya memanjatkan doa berkali-kali untuknya, saya menuliskan perasaan kehilangan saya di laman blog ini banyak sekali: menyesali waktu kami yang telah habis dipaksa takdir.
Bicara soal waktu yang habis, kemarin juga saya stumble sama twitnya Mbak Denald yang ini:
Ndilalah pas. Namun kali ini bukan karena takdir, tapi karena keputusan saya sendiri mengakhiri pertemanan yang telah lama terjalin. Alasannya sederhana tapi kompleks namun benang merahnya: Saya ingin bebas mengekspresikan diri tanpa harus ditekan ini gak boleh, itu gak boleh dan dipaksa mempertimbangkan perasaan orang lain terus-menerus. Lha perasaan gue gimana? I really wanna be free.
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.