Merawat Orang Sakit

Sudah saya ceritakan sebelumnya kalau selain karib dengan Rosita, saya juga akrab dengan keluarganya hingga saat ini. Tante Yayat, mamanya Rosita sesekali menyapa saya via WA sekedar bertanya kabar, demikian juga sebaliknya.

Seperti sore ini, Tante Yayat cerita soal impian-impian Rosita yang tidak terpenuhi sebelum dipanggil Tuhan. Hati saya ngilu dan sedih. Rosita pengen umroh kalo udah kembali ke rumah katanya. Tapi memang waktu itu tidak ada yang bisa kami lakukan karena info dari dokter yang bilang kalo harapan hidupnya hanya 6 bulan saja kami sembunyikan dari Rosita. Sementara dalam 6 bulan itu kondisinya terus menerus makin memburuk.

Lalu memori saya berputar kembali ke tahun 2015 saat saya sesekali curi waktu ijin dari kantor untuk menemaninya kemo.

Tidak mudah melihat orang yang kita sayangi kesehatannya memudar. Senyumnya perlahan menghilang. Badannya mulai ringkih, kulitnya menguning karena fungsi hatinya berkurang. Nyeri. Nyeri sekali melihatnya. Meskipun semangat hidupnya tinggi namun jauh di lubuk hati kita tau bahwa waktunya sudah tak lama lagi.

Saya nggak pernah menyesal sering ijin kantor buat nemanin Rosita kemo atau kontrol. Duduk sampe ngantuk-ngantuk nungguin dokter di RS Siloam dulu. Menjelang akhir hidupnya, saat-saat itu Tante Yayat setia sekali mendampingi Rosita. Sebulan penuh menemani di Rumah Sakit, saya sendiri mengusahakan seminggu 1-2x membesuknya sekedar cerita-cerita aja.

I know how hard it is, so I wish you yang lagi mengurus orang tersayang yang sakit agar diberikan kekuatan, kesabaran dan juga bisa memanfaatkan waktu yang ada semaksimal mungkin.

Menciptakan kenangan terbaik buat mereka yang sakit sehingga nantinya dapat menghadap yang Maha Kuasa dengan tenang, lapang dan content. Dan kita yang ditinggalkan pun tidak lagi punya rasa penyesalan karena belum sempat lakukan ini-itu.