Goodreads Reading Challenge

Tahun 2023 lalu saya berhasil membaca 12 buku dalam setahun! Yeay. That means 1 book/month. Glad I’m back on the right track. 😊 Membaca itu membuka ruang ruang-ruang pengetahuan baru. Memperlembut jiwa dan kita jadi bisa belajar dari pengalaman orang lain tanpa harus terperosok mengalaminya sendiri. Dan terkhusus pencapaian bisa memenuhi GRC ini memompa rasa bahagia tersendiri di hati saya. I feel like return back to the world where I have known before. Karena somehow saya sempat hiatus dari Goodreads selama 3 tahun, embuh rasanya males aja update buku di sana hahaha.

Khusus untuk tahun 2023 ini sepertinya saya berhutang budi pada Kimi yang bukan hanya selalu menyemangati saya membaca, namun juga ngajakin book date, bahkan kadang mengusulkan untuk membaca buku barengan (thanks, Yellow Face ternyata seru!). Nggak bisa dipungkiri, reading buddy dengan selera yang mirip atau mendekati itu ternyata ngaruh juga ya buat keep me on track. Pelecut semangat. Hehehe.

Hibah

Ohya, di akhir tahun 2023 lalu saya juga mendapatkan hibah 4 buah buku seri kenangan karya mendiang Nh. Dini dari sahabat saya Ailtje. Sebelumnya saya hanya pernah membaca 1 karyanya berjudul Pada Sebuah Kapal lalu setelah itu Nh. Dini hilang dari khasanah buku yang saya baca. Nah, sekarang saat saya mulai membaca karya-karyanya lagi, duh rasanya senang tak terkira! Memang Nh. Dini adalah pengarang angkatan 50 sehingga buku-bukunya pun sarat berkisah tentang masa lalu dan juga kondisi berpuluh-puluh tahun lalu, but it’s okay. Jadi bisa dapat gambaran suasana zaman dulu tuh kayak apa.

Baca buku seri kenangan dari Nh. Dini pas liburan ke Kota Apel. Funny thing is, ini buku dibawa Ailtje dari Malang lalu diberikan ke saya di Jakarta. Kemudian saya bawa liburan dan dibaca di… Malang 😀 Malangception banget ini ya. Hahaha

Goodreads Challenge 2024

Anw, untuk tahun 2024 ini, saya merencanakan membaca 12 buku juga, sama seperti 2023. Bukan nggak mau improvement, tapi sadar diri nggak mau nargetin sesuatu yang sulit dicapai, biar nggak sedih gitu. Jujur, kadang down sih kalau ngeliat orang-orang nge-set target GRC itu 60-100 buku. Kayak Mbak Desti, Puty , Nike atau ya Kimi. Like, wooow keren banget! Tapi melihat beban pekerjaan dan rencana-rencana traveling yang sudah dibeli tiketnya, saya tetap firmed berencana baca 12 buku aja. Nggak mau pasang target muluk-muluk hahaha. I have my own pace. Bisa baca aja udah Syukur. Hihihi. Kalian sendiri gimana, berencana baca berapa buku?

Selesaikan baca buku ini dulu sebelum beli baru ya, Kaaaa. Yaaaaa :mrgreen: old habits die hard, beli buku terus, entah kapan bacanya. Hahaha.

Yang Sudah Tuhan Takar, Tidak Akan Tertukar

Rejeki tuh nggak akan salah alamat, apa yang jadi milik akan jadi milik meski berliku atau tunggu waktu.

Jadi dari 2 tahun lalu saya ada ngincer suatu barang di kantor. Asli pengen banget jadi milik supaya punya environment data enak, nyaman dan supporting dengan Macbook yang saya miliki. Tapi ya ada kendala gitu deh. Ya udah, saya ikhlaskan. Nggak pake itu barang, saya tetap hidup kok. Gitu pikir saya.

Baca lebih lanjut

Tak Ada yang Abadi

Kemarin sore saya chat dengan Tante Yayat, mamanya Rosita, sahabat karib saya dari zaman awal kuliah dulu. Saking karibnya, bahkan setelah lulus kuliah pun kami memutuskan bekerja di kantor yang sama agar tetap bisa terus akrab bersahabat. Nggak tanggung-tanggung, hingga 2 kantor banyaknya. Saat saya pindah ke kantor kedua, Rosita juga ikut pindah. Untung ada lowongan saat itu.

Kami bersahabat lama, belasan tahun, seharusnya puluhan tahun jika Tuhan mengizinkan. Sayangnya Tuhan lebih sayang Rosita, ia dipanggil pulang duluan di tahun 2015 saat persahabatan kami menginjak tahun ke-17. Beruntung, saya sempat menemaninya di masa-masa kemoterapi beberapa waktu lamanya. Saat Rosita meninggal, saya sedih. Hidup seolah mengambang untuk beberapa waktu. Pahit banget rasanya. Saya menangis sampe air mata kering, saya memanjatkan doa berkali-kali untuknya, saya menuliskan perasaan kehilangan saya di laman blog ini banyak sekali: menyesali waktu kami yang telah habis dipaksa takdir.

Bicara soal waktu yang habis, kemarin juga saya stumble sama twitnya Mbak Denald yang ini:

Ndilalah pas. Namun kali ini bukan karena takdir, tapi karena keputusan saya sendiri mengakhiri pertemanan yang telah lama terjalin. Alasannya sederhana tapi kompleks namun benang merahnya: Saya ingin bebas mengekspresikan diri tanpa harus ditekan ini gak boleh, itu gak boleh dan dipaksa mempertimbangkan perasaan orang lain terus-menerus. Lha perasaan gue gimana? I really wanna be free.

Baca lebih lanjut

Karena Hidup itu Bukan Cuma Soal Bekerja

Ada banyak hal yang bisa kita capai dalam hidup selain kerja dan kerja saja (lalu tak terasa jadi tua dan dilupakan).

Anak sehat, suami bahagia, diri sendiri juga bahagia itu adalah pencapaian yang disusun dari hal-hal kecil seperti memasak makanan kesukaan keluarga di hari Sabtu, menyiapkan bekal mereka, berolahraga bareng atau ya sekedar pergi ke coffee shop lalu duduk dan bercengkerama. Itu semua butuh waktu, yang mostly banyak dikerjakan di hari Sabtu (karena kalo Minggu adalah hari ibadah).

Tiap orang punya values yang berbeda dan saya sudah tidak lagi berada di fase harus membuktikan diri di dalam pekerjaan. I have past that behind, I have left that in the back. My goal now is just being happy with the small little things in life. Like seeing my son smiles coz I spent the weekend with him or chitchatting with my husband about concert or something.

Ini, tidak berarti jadi sekedarnya dalam bekerja… Tetap, bertanggung jawab untuk pekerjaan yang ditugaskan adalah salah satu nilai diri yang dipegang tapi bukan berarti kerja jadi mendominasi hidup.

Semua ada porsinya. Semua ada waktunya. Buat saya, pekerjaan adalah sepotong fragmen kecil saja dari banyak kepingan puzzle lainnya dalam hidup.

P.S. This is my value, if it isn’t yours, that’s fine. Not forcing anything, not trying to change something. You do you, live with your own values and I live with mine.

Oh Begini Rasanya Menua

Selasa, 31 Oktober 2023
Rintik-rintik hujan turun membasahi kepala, kian lama kian deras. Saya, Aling dan Ailtje bergegas lari menuju Tennis Indoor Senayan agar terhindar dari basah yang makin bikin lepek saja.
“Ayo, Ka. Buruan,” teriak Ailtje (pronounced: /Ailsa/ ) yang ada di depan saya.
“Iya, Sa. Iya,” jawab saya sambil menudungi kepala dengan kedua tangan. Usaha yang sia-sia, kepala saya tetep aja basah dikit 😅
Sepatu keds saya menapak menginjak sedikit genangan air, kecipaknya membawa saya pada kenangan 10 tahun lalu (OMG SEPULUH TAHUN LALU) saat saya, Aling dan Ailtje juga lari-lari masuk ke venue untuk menonton konser yang sama: Konser KLA PROJECT. Bedanya soal waktu, kali ini sudah 1 dekade berlalu. Wow, tak terasa.

Baca lebih lanjut

It’s Okay

Menjadi biasa-biasa saja. Tidak melulu harus juara. It’s okay untuk tidak punya ambisi karena lebih ingin menikmati apa yang ada di depan mata yang disodorkan hari.

Namun, meskipun biasa-biasa saja… Semoga saya masuk dalam golongan orang biasa yang mampu menemukan nikmatnya kesederhanaan. Mampu menemukan nikmat dari membaca buku, mampu bersyukur dari mendengar suara burung kenari bernyanyi atau sesederhana bangun melihat matahari pagi.

Semoga saya masuk dalam golongan yang bisa bahagia hanya dari keadaan biasa-biasa saja. Tidak harus bahagia ketika ada hal spektakuler terjadi. Semoga.

Dan semoga kamu yang baca juga bisa bahagia dari hal-hal kecil yang bertaburan di sekitar kita.

Selamat Hari Minggu. Tuhan memberkati