Beberapa waktu lalu rame di WAG bahasan soal umur 25 tahun udah mesti punya apa aja dan ngapain aja. Errr… Garuk-garuk kepala. Tiap orang jalan hidupnya beda-beda, variabelnya banyak jadi gak bisa dipukul rata mesti gimana. Nggak ada standar/patokan di umur berapa mesti apa dan gimana.
Waktu itu gue skip aja nggak minat nimbrung bahas tapi minggu kemarin isu ini muncul lagi di temlen IG gue… Lalu gue jadi nginget-nginget pas umur 25 tahun tuh gue ngapain aja ya?
Berada di rumah sekian lama membuat saya jadi banyak berpikir betapa rapuhnya rencana yang dibuat manusia ketika harus berhadapan dengan takdir. Mau sedetil atau sebaik apapun rencana itu tapi kalau suratan takdir sudah mengetukkan palunya, kita bisa apa?
—
Mulai 3 Juli 2021 PPKM Darurat di Jawa dan Bali diberlakukan lagi.
Dan saya kangen hal-hal sederhana saja. Saya kangen memeluk dan mencium mamak dan bapak tanpa kuatir menularkan sesuatu kepada mereka. Usia mereka tak lagi muda, sudah di atas 60 tahun dengan masing-masing memiliki riwayat penyakit tertentu. Jadi, ya, saya sangat berhati-hati.
Saya kangen pergi ke Indomart dan Alfamart tanpa perasaan was-was.
Saya kangen duduk di kedai kopi, menyesap wangi kopi panas yang menguar dari cangkir beling yang cantik seraya menikmati mobil yang lalu lalang dari balik jendela kaca. Rasanya baru kemarin saya melakukan itu di bilangan Thamrin, Jakarta. Kala itu saya ditemani Kak Ria, duduk manja dengan bingkai jendela biru tua. Kami ngobrol riuh dan tertawa terbahak-bahak sambil bertukar pandang akan berbagai macam isu ibu kota.
Saya kangen pergi belanja ke supermarket dengan perasaan riang, berlama-lama di lorong sabun dan shampoo tanpa merasa takut sehingga harus buru-buru pergi. Menikmati waktu memilih wangi sabun cair mana yang enak dan lembut untuk jadi kawan mandi sore hari. Berjalan santai sambil mendorong troli dan membandingkan harga Kecap Bangau dan Kecap ABC yang kadang saling berlomba.
Saya menyesal menunda-nunda keinginan untuk waxing karena saya pikir masih bisa nanti-nanti. Sekarang saya meringis karena rasanya kurang nyaman di bawah sana.
Saya kangen nonton konser atau festival musik lagi. Menggila, bernyanyi bersama sambil teriak-teriak betapa nge-fans-nya sama penyanyi yang ada di atas panggung. Iya, kalo udah nonton konser jadi lupa umur. Hahaha.
Sungguh, rasanya seperti baru kemarin bisa begini bisa begitu dan bikin rencana ini itu. Namun semuanya terlibas pandemi dan menyisakan banyak kerinduan akan rutinitas yang dulunya saya anggap sepele. Something I take it for granted.
Semoga pandemi ini lekas berlalu. Yuk taat prokes yuk. Doa saya juga, semoga kita semua selalu sehat jiwa dan raga.
Went to Festival Musik 90an with Eno, my concert buddy (like in almost every concert or festivals. Lol). How many concerts we’ve been to, No? Countless! 😅
As a believer, I was taught to forgive your enemies. In Matthew 5:39, “But I say to you, Love your enemies and pray for those who persecute you.” To turn your right cheek if they slap your left’s and bla bla bla.
I will not fight the Scripture who aged more than 2000 years. Have no guts, not that crazy. LOL. Furthermore, there’s nothing good coming from holding grudges. In fact by forgiving, we benefial more. So, about 2 weeks ago I start the process, resting my soul in God’s hand and it feels just right. After a long journey, I finally can let go, release and be at peace. 😊☺️ It’s relieving. So serene.
I still keep a safe zone though.
Monday has just begun and I’m gonna recite this Lord’s Prayer to start the day. Hope you guys have a wonderful day and wish you great week ahead. God bless!
Menemukan beberapa foto lama saat tadi pagi main ke rumah Mamak. Saya bertanya kenapa masih dipajang aja padahal banyak foto baru yang lebih bagus dan jawaban mamak sederhana. “Mamak senang lihat gimana kalian bertumbuh. Ini kenangan mamak saat kalian masih kecil-kecil.”
Ah, mamak. Peluk sayang.
With my little sis and little bro on our vacation at Sheraton Jogja. Circa tahun 2002. Mom said I’ve been color coordinated since long ago. But wait, pink and blue? What was in my mind at that time? 🤦🏻♀️😅20kg lalu waktu masih remaja 😅 Rambut saya dulu setebal itu.Untrimmed eyebrows and baby fat on my cheeks 😅😅 gosh, long time ago.
Tidak seperti biasanya saya ada waktu luang kemarin malam. Ya iyalah, libur gitu lho. Hahaha. Akhirnya jadi ikut Kebaktian Wanita Tengah Minggu. Boleh dong ya sesekali menyegarkan diri dengan siraman rohani yang sejuk? Yang bikin hati adem, enteng dan bahagia? Syukur-syukur kadar keimanan jadi bertambah. Hehehe.
Sejak Februari, ini sudah beberapa kali saya ikutan kebaktian tengah minggu. Masih bolong-bolong banget sih tapi ya mulai rajin. Hehehe. Awalnya iseng tapi lama-lama seru juga. Is this is a sign that I’ll be more religious? I dunno. Hahaha.
Anw, tema khotbah dan diskusi kali ini cukup menarik. Tentang bagaimana perempuan memberi pengaruh kepada lelaki.
Her name is Dewi. I’ve known her almost a decade ago on her first move to Jakarta. We rarely meet up but our heart connects in a way.
On her last birthday I wrote her long letters. My first hand-written letter this year. I didn’t understand it but felt like there’s this urge telling me to take special time writing it.
So I took time. In result the Bday gift was late being sent.
Only after I sent it I understand why the universe did that. Dewi said she burst into tears as the letter seems like answering her wanders for the past several months. And by that I knew, I knew we need to catch up over a cup of coffee (our fave liquid. Lol).
So one noon we’re sitting at Pison Coffe next to Grand Indonesia. Catching up. We talked and talked. I told her I was astonished by her and Epat’s achievement, how I was proud of them. Really I am. Then she asked me what’s new about me. So I told her recent occurrences in my life. She smiled. A very warm one and some comforting words uttered afterwards.
A friend knows. A friend understands. Thank you for our friendship Dewi. Thank you for inspiring me to push myself training for a 100 km cycling. I am working on it. ☺️ Thank you for always reminding me that your ears are always ready, by that I know you have my back.
Let’s do it again soon. Make it longer next time. Love you, always. You, cute girl with the bangs! 😊😁
Inspired by @Dewikr and @tiyokpras who have been doing 100 km as easy as breathing, I plan on doing it too. So the past two months I’ve been rebuilding my stamina, developing my endurance and durability and training myself for this milestone. Boy, I am nervous. 😅
Anyway, couple of weeks ago I was challenged by Adrian to go for 60 km and I just did it! I managed to cycle that far. Hopefully soon can go for a 100 km. I’ve got the best cycling buddy who’ very determined on pumping my spirit up. Eventhough sometimes his short comments were quite annoying. 😅🤦🏻♀️
Kali kedua beribadah memperingati Kenaikan Yesus Kristus saat pandemi. Jujur, udah kangen banget ke gereja tapi ya mau gimana lagi sementara ini masih daring dulu. Ohya, Firman Tuhan peringatan kali ini diambil dari kitab Pengkhotbah 3 mengenai ketetapan Tuhan.
Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.