Kategori: Literature
#5 Tentang Kita
#4 Kupu-Kupu
Senja dimatamu. Menari bersama pedih sembilu. Tak ingin kau jalani. Namun itu takdir yang terjadi.
.Senja dimatamu. Bergulung bersama takdir yang tak menentu. Manakala lembaran merah Soekarna-Hatta. Berpindah tangan dari si belang ke dalam bra. .
Senja dimatamu. Kan terus pilu. Kamu, terjebak diantaranya. Tersedot ke dalam pusaranya. Tak berdaya.
#3 Mati Tanpa Suara
Kemarin aku berpapasan dengan angin
Ia memaksaku bicara tentang kamu
Tentang hasrat, tentang mimpi, tentang rasamu
.
Dan aku benci pembicaraan itu Menggurat luka, menyemai duka Merusak suasana .
Tapi aku tak pernah mampu menolak bujuk rayunya Jadi walau terluka Aku tetap bicara Bercerita tentang kamu, tentang cinta, tentang kita .
Kamu dengan angkuhmu Dengan harga diri dan egomu Menggilas rapuh kalbu Mencabut semua akar hidup yang aku ampu .
Kamu dengan keras hatimu Membiarkan aku menangis dalam kelu Kamu dengan kepala batumu Menyiksaku dalam bisu .
Enam tahun berlalu Luka itu menjadi residu Dan kamu mati didalam kepalaku Atau aku yang mati berkalang sendu?
Dan aku benci pembicaraan itu Menggurat luka, menyemai duka Merusak suasana .
Tapi aku tak pernah mampu menolak bujuk rayunya Jadi walau terluka Aku tetap bicara Bercerita tentang kamu, tentang cinta, tentang kita .
Kamu dengan angkuhmu Dengan harga diri dan egomu Menggilas rapuh kalbu Mencabut semua akar hidup yang aku ampu .
Kamu dengan keras hatimu Membiarkan aku menangis dalam kelu Kamu dengan kepala batumu Menyiksaku dalam bisu .
Enam tahun berlalu Luka itu menjadi residu Dan kamu mati didalam kepalaku Atau aku yang mati berkalang sendu?
#2 Hujan
Lihat, riang aku berdansa dengan ombak
Musnah duka
Hilang airmata
Kularung gulana dalam cawan samudra
.
Bersama hujan rohku kan menari Bersulang untuk indahnya hidup yang tlah terlewati dan masa depan yang ceria menanti
.
Bersama hujan rohku kan menari Bersulang untuk indahnya hidup yang tlah terlewati dan masa depan yang ceria menanti
30 Hari Menulis Puisi
Berawal dari mention rame-rame di twitter, entah siapa yang memulai, saya diajak dalam gerakan 30 hari menulis Puisi. Weeeh… saya senang dengan gerakan ini! Gimana ya rasanya setiap hari dipaksa untuk menulis di blog? Menulis puisi pulak! Kalo emang jago puisi siy, yang kayak gini is just a piece of cake! Betul? Tapi buat saya? Yang nulis puisi benar-benar menggantungkan diri pada mood?! Ini benar-benar tantangan! Dan, jangan pernah menantang saya dalam hal beginian! Ini darah batak masih merah dan mendidih jenderal! Saya pasti ikutan hehehe. Baca lebih lanjut
#1 Mencintaimu
Pernikahan ini adalah sebuah perjalanan pendewasaan diri
Membawaku melalui ruang kehidupan penuh sisi
Dengan banyak lorong berliku;
Sering pelangi, kadang juga jamu
.
Tapi perjalanan ini terasa lebih mumpuni Karena kamu setia disisi Menawarkan lengan menggandeng tangan Menyodorkan rasa berbagi canda .
Pernikahan ini adalah sebuah perjalanan pendewasaan diri Membawaku naik ke dimensi kehidupan yang lebih tinggi Mari arungi perjalanan ini bersama, bersisian dengan selubung asa Aku menikmati setiap jengkal langkah yang kita ayun bersama Sejatinya, engkaulah seluruh perjalanan hidupku itu sendiri.
Tapi perjalanan ini terasa lebih mumpuni Karena kamu setia disisi Menawarkan lengan menggandeng tangan Menyodorkan rasa berbagi canda .
Pernikahan ini adalah sebuah perjalanan pendewasaan diri Membawaku naik ke dimensi kehidupan yang lebih tinggi Mari arungi perjalanan ini bersama, bersisian dengan selubung asa Aku menikmati setiap jengkal langkah yang kita ayun bersama Sejatinya, engkaulah seluruh perjalanan hidupku itu sendiri.
Cemburu
Berderak-derak pintu kamar terbuka
Aku cemburu pada kata
Pada pias wajah sukacita
Pada lentur jari bermanja
Dengan tuts huruf dan angka
Berbagi cerita dalam rangkaian rasa


Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.