We all have that period of time where we simply decided not to follow any rules but ours. I grew up in a very strict Christian family as strict as my mom reads the bible every dawn and my dad would woke us all of his children with a loud religious songs from Radio Pelita Kasih at 6 AM. So loud that I thought I gone deaf. Lol. Not to mention that we go to church every Sunday (no excuse or you’d get scholded) also attended mid week service. Well, those were not without reasons. Lots of our relatives from dad’s side are priests or pastors and even there’s a nun from my mom side. So yeah, religious activities and its values are something me and my siblings breath in everyday.
Those values lead my life well and keep me on track. I am forever grateful that my dad was putting a solid fondation for me so I wasn’t lost. But to certain point of life, I got bored. I felt like being restrained. In almost every situation, I always asked myself the WWJD question. You know, when in doubt, ask yourself, “What Would Jesus Do?” So then I always behaved, always become the teacher’s pet and bosses’ fave person or something like that. To the point that I couldn’t enjoy my life freely the way I want it.
Saya sedang asyik memandangi awan yang bergelung-gelung di angkasa dari jendela tempat saya duduk ketika terdengar suara ribut-ribut dari arah lorong di bagian depan pesawat. Seorang penumpang bersitegang dengan pramugari. Saya geleng-geleng kepala melihatnya. Di masa pandemi gini, saya pikir orang akan lebih berempati satu sama lain atau paling enggak hemat-hemat energi, ternyata perkiraan saya salah. Setelah sekitar 10 menit mendengarkan argumen keras, akhirnya sang penumpang nurut sama pramugari (ya jelas nurut, wong salah). Tapi hal itu nggak menyurutkan sifat angkuhnya, ia berjalan sambil terus memaki.
Lagi-lagi saya geleng-geleng kepala sambil mbatin (ngomong dalam hati) pake Bahasa Jawa, “Jatuh’o, kesandung’o, mbencekno tenan.” Yang kalau diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia jadi, “Moga-moga jatuh kesandung, nyebelin bener sih.”
dari jendela pesawat
Dan tiba-tiba terdengar suara gedubrak. Orangnya-beneran-jatuh. Saya kaget, saking kagetnya sampe nutup mulut pake dua tangan. Tapi saya bukan kaget karena orangnya jatuh tapi kaget karena teringat pesan dari Simbah Putri yang wanti-wanti bilang agar saya jangan sembarangan mbatin. Kasihan katanya. Simbah Putri itu pribadi yang luar biasa, firasatnya tajam dan paling mengerti saya. Dulu waktu kecil, kalo pas lagi diajak ke pasar dan saya nggak sreg sama sesuatu, beliau selalu tahu kalo saya habis mbatin dan kejadian tepat di depan mata.
Yang paling parah, pernah mbatin motor senggolan sama mobil karena yang naik motor nggak sopan sama Simbah. Untung abis senggolan, yang naik motor gpp meskipun motornya rada ringsek, tapi tentu saja saya jadi kena tegur. “Ojo mbatin ngono, tah, Ka. Dongake sing apik-apik wae gen sing luwih apik balik nggonmu.” (Jangan mbatin gitu, doakan yang baik-baik saja biar hal yang lebih baik lagi berbalik kepadamu).
Akhirnya saya jadi jarang “mbatin” karena sekalinya mbatin sering banget kejadian.
Suara gedubrukan penumpang yang berusaha bangkit setelah kesandung membawa saya kembali ke masa kini. Akhir-akhir ini hati saya nyeri karena ada orang dengan sengaja nyinyir, memaki dan menyakiti pake mulutnya yang tajam. Sudah hampir 9 bulan hal ini berlangsung.
Awan putih bak kapas terus bergulung-gulung di angkasa menjadi saksi bisu betapa hati ini terpicu untuk mbatin dan ngucap yang enggak-enggak. Tapi teringat pesan Simbah Putri untuk mendoakan yang baik-baik, akhirnya saya cuma mbatin gini…. “Semoga gak ada momen di mana gue jadi sampe ngucap, you deserve it, mulutmu jahat, hatimu penuh iri dengki benci sih.”
Semoga.
.
.
10.10 AM.
Ditulis di atas pesawat dalam perjalanan Jayapura-Jakarta
Namanya Ailtje dengan pelafalan /ailce/ atau /ailsa/ tergantung mau dari bahasa mana. Akrab dipanggil Tjeje tapi saya sih memanggilnya Ailsa. Terasa lebih hangat dan lebih mesra menurut saya. Kami kenal saat trip ke Madura berburu batik pesisir bersama Batik Attack di tahun 2012 lalu. Siapa sangka kami punya mutual teman yaitu Venny si Ratu Kuis (dijuluki begini saking seringnya dia menang kuis. Lol). Dan itu menjadi jembatan kedekatan kami.
Persahabatan yang dimulai dari jalan-jalan itu perlahan tapi pasti berkembang. Pepatah lama bilang, cocok atau enggaknya kita sama orang itu bisa ketahuan pas lagi ngetrip bareng dan itu benar adanya! Hehehe. Ohya, ternyata selain batik, kami punya banyak kesamaan lain. Di antaranya sama-sama penggila konser atau festival musik. Bersama dengan Aling (peserta Batik Trip juga) entah sudah berapa konser yang kami hadiri bareng. Udah nggak ingat! Yang pasti kami seringnya ada di kelas festival, selalu janjian sampe jam berapa lalu bergandeng tangan jangan sampe lepas biar kami bisa meringsek masuk. Tak lain dan tak bukan… Ya biar ada di baris paling depan jadi paling dekat sama penyanyinya… Masih keinget banget gimana kita teriak “aaaawwww” bareng pas liat Katon nyanyi ngedlosor patah hati di panggung.
Beberapa waktu lalu saya ngobrol-ngobrol sama teman kantor soal anak. Yeah, obrolan standar mamah-mamah muda pas istirahat. Hahaha. Dan saya kaget pas dengar ada anak dari tetangganya teman yang giginya nggak disikat sama sekali dari kecil, alhasil pas umurnya hampir 5 tahun, giginya udah reges/penuh karies semua. Semoga gigi anak itu baik-baik aja dan nggak sakit gigi ya. Wishful thinking.
Anw, tumbuh dan besar di mana orang tua saya menekankan betapa pentingnya kebersihan gigi membuat saya menganggap gosok gigi adalah hal standar yang wajib dilakukan. Nothing extraordinary about that. Saya jadi pengen berbagi cerita tentang gimana cara kami mengenalkan kebiasaan menggosok gigi kepada Basti. Yah lumayan sambil nostalgia mengenang masa lalu biar jadi cerita yang tak terlupakan. Hehehe.
Beberapa waktu lalu rame di WAG bahasan soal umur 25 tahun udah mesti punya apa aja dan ngapain aja. Errr… Garuk-garuk kepala. Tiap orang jalan hidupnya beda-beda, variabelnya banyak jadi gak bisa dipukul rata mesti gimana. Nggak ada standar/patokan di umur berapa mesti apa dan gimana.
Waktu itu gue skip aja nggak minat nimbrung bahas tapi minggu kemarin isu ini muncul lagi di temlen IG gue… Lalu gue jadi nginget-nginget pas umur 25 tahun tuh gue ngapain aja ya?
Anak lanang hari ini masuk Sekolah Dasar. Padahal kemarin kayaknya masih belajar berdiri sambil pegangan teralis jendela….. Sekarang sudah bisa mandi sendiri pake shampoo wangi dan memuji maminya dengan suara polos. Ia selalu ekspresif, selalu jujur bilang isi hatinya. Pujian kalo memang layak, akan ia sampaikan kalo enggak ya bakal bilang apa adanya (oh saya pernah dibilang bau kambing pas baru pulang sepedaan 🤣🤣). Tapi pujiannya selalu sukses bikin maminya klepek-klepek. Hahaha.
“You look beautiful with that dress, Mami.”
“Mami, you smell so good. I love it.”
“Wow, Mami, can I get a hug? I miss you so much.”
Basti, Basti…. Manisnya kamu… Kalo begini terus, berapa banyak hati cewek-cewek yang akan kamu patahkan nantinya, Bas? 🤣 Hahaha.
Berada di rumah sekian lama membuat saya jadi banyak berpikir betapa rapuhnya rencana yang dibuat manusia ketika harus berhadapan dengan takdir. Mau sedetil atau sebaik apapun rencana itu tapi kalau suratan takdir sudah mengetukkan palunya, kita bisa apa?
—
Mulai 3 Juli 2021 PPKM Darurat di Jawa dan Bali diberlakukan lagi.
Dan saya kangen hal-hal sederhana saja. Saya kangen memeluk dan mencium mamak dan bapak tanpa kuatir menularkan sesuatu kepada mereka. Usia mereka tak lagi muda, sudah di atas 60 tahun dengan masing-masing memiliki riwayat penyakit tertentu. Jadi, ya, saya sangat berhati-hati.
Saya kangen pergi ke Indomart dan Alfamart tanpa perasaan was-was.
Saya kangen duduk di kedai kopi, menyesap wangi kopi panas yang menguar dari cangkir beling yang cantik seraya menikmati mobil yang lalu lalang dari balik jendela kaca. Rasanya baru kemarin saya melakukan itu di bilangan Thamrin, Jakarta. Kala itu saya ditemani Kak Ria, duduk manja dengan bingkai jendela biru tua. Kami ngobrol riuh dan tertawa terbahak-bahak sambil bertukar pandang akan berbagai macam isu ibu kota.
Saya kangen pergi belanja ke supermarket dengan perasaan riang, berlama-lama di lorong sabun dan shampoo tanpa merasa takut sehingga harus buru-buru pergi. Menikmati waktu memilih wangi sabun cair mana yang enak dan lembut untuk jadi kawan mandi sore hari. Berjalan santai sambil mendorong troli dan membandingkan harga Kecap Bangau dan Kecap ABC yang kadang saling berlomba.
Saya menyesal menunda-nunda keinginan untuk waxing karena saya pikir masih bisa nanti-nanti. Sekarang saya meringis karena rasanya kurang nyaman di bawah sana.
Saya kangen nonton konser atau festival musik lagi. Menggila, bernyanyi bersama sambil teriak-teriak betapa nge-fans-nya sama penyanyi yang ada di atas panggung. Iya, kalo udah nonton konser jadi lupa umur. Hahaha.
Sungguh, rasanya seperti baru kemarin bisa begini bisa begitu dan bikin rencana ini itu. Namun semuanya terlibas pandemi dan menyisakan banyak kerinduan akan rutinitas yang dulunya saya anggap sepele. Something I take it for granted.
Semoga pandemi ini lekas berlalu. Yuk taat prokes yuk. Doa saya juga, semoga kita semua selalu sehat jiwa dan raga.
Went to Festival Musik 90an with Eno, my concert buddy (like in almost every concert or festivals. Lol). How many concerts we’ve been to, No? Countless! 😅
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.