Upgrading Life Partner Criteria

Deru  lalu lalang orang yang bergegas bersliweran di telinga saat saya terlibat percakapan ringan dengan Riki, salah satu teman saya yang berprofesi sebagai translator dan guide berbahasa Spanyol.

“Ka, kapan lu tau kalau pacar lu adalah “the one” atau malah bukan “the one” buat ngejalanin pernikahan?”

Hmmm, dahi saya berkerut mendengarnya. Pertanyaan yang menarik yang dilontarkan di tengah bisingnya lalu lalang orang di di stasiun MRT. Topik beratnya kenapa dilempar pas di stasiun sih, Ki? :mrgreen: Tapi pertanyaan itu tetap saya jawab juga.

Simple aja. Gue pernah terlibat percakapan tentang cara membesarkan anak dan ternyata value gue dan dia beda.”

“Maksudnya gimana?” Desak Riki lagi sambil kami berdua menuruni tangga stasiun pelan-pelan.

Ternyata ngobrol berat pun bisa dilakukan di stasiun MRT 😀

Well, gue penah lagi jalan sama mantan gue dan keponakannya dan ada perempuan cantik lewat. Lalu dia bilang ke keponakannya yang umurnya baru 3 tahun buat cat calling ke perempuan itu. Keponakannya disuruh teriak ke perempuan itu, “Cewek, cewek godain kita dong.” Aslik gue kaget banget. Pas gue protes, dia marah karena katanya itu kan anak kecil yang cat calling. Dan gue shock denger penjelasannya.” Kata saya sambil melirik jam tangan sebelum menambahkan lagi.

“I can’t tolerate cat calling, that’s… Well, I wanna raise a kid with respecting woman as one of the value.”

“You mean cat calling is degrading woman?” Riki mencoba menyarikan jawaban panjang lebar saya dalam satu kalimat.

“Yes!” Jawab saya mantap.

“I totally agree with you. But don’t you think that he needs time to be at the same page like you?”

“Sure.” Jawab saya. “Umm, takes time for him to change and I don’t have enough patient and time to watch him change.”

“You do realize that you can’t change people right?” Riki balik bertanya dengan penekanan nada seolah memastikan kalau saya paham aturan dasar dalam suatu hubungan.

“Of course I do. But I know when there’s a possibility for people to change or not from the way he respond to a different argument. And for this matter I don’t think he can change. So bye bye.”

“So you move on and upgraded your boyfriend?”

“Upgraded?” Saya balik bertanya sambil menautkan alis mendengar pilihan kata yang digunakan Riki.

“Iya, lu upgrade kriteria pacar yang lu mau karena lu nggak mau ribet. Maunya yang udah settle di area soal value ngebesarin anak.” Riki menjelaskan maksudnya dan saya setuju dengan pilihan kata unik yang ia gunakan. Upgrading….

“Bener, gue upgrade kriteria calon pacar gue. Hahaha.”

Percakapan dengan Riki itu membuka banyak kenangan akan pilihan-pilihan yang saya buat terkait pasangan hidup. Memilih calon pasangan hidup itu bukan main-main. Sehidup semati, man! Oleh karenanya saya berusaha mencari yang terbaik. Bukan yang sempurna lho ya, karena kalo kata Bunda Dorce kesempurnaan itu hanya milik Allah. Saya mencari yang terbaik, kalau saya punya 10 kriteria maka 7 poin dipenuhi saja sudah sangat bagus. Dan buat saya, poin soal agama dan nilai-nilai dalam membesarkan anak adalah sesuatu yang absolut alias nggak bisa ditawar. Poin soal suku, tinggi badan, warna kulit, pendidikan masih bisa ditawarlah tapi tidak soal agama dan bagaimana cara membesarkan anak. Tentu ini benar-benar bersifat personal ya.

Mungkin ada orang lain yang bisa hidup berpasangan nyaman walau beda agama, tapi saya tidak. Mungkin ada orang lain yang bisa woles soal bagaimana membesarkan anak, tapi saya tidak.

Karena tanggung jawab sebagai orang tua itu besar. Sebagai orang tua, kami tentunya punya tanggung jawab menyiapkan, membekali dan mendidik mereka menjadi manusia yang memiliki nilai-nilai yang baik. Nilai-nilai yang dapat membantunya mandiri di kemudian hari memasuki dan menjalani kehidupannya sendiri tanpa kami lagi.

Lha kalau sama pasangan hidup sendiri aja nilai-nilainya nggak sama, gimana nanti ngajarin ke anak ya? Anak bisa bingung karena bokapnya bilang cat calling itu gpp tapi nyokapnya merengut. Apa nggak cekcok terus tuh?

Jadi, ya udah. Pu to the Tus: Putus. Padahal pas putus itu ya belum kepikiran bakal punya anak atau enggak. Hahaha. Cuma ya emoh aja. Lalu pas masa itu saya sadar, saya udah nggak pengen cari pacar lagi tapi cari suami and he wasn’t hubby material. So why wait? End of story. Sayonara.

Egois? Semudah itu memutuskan anak orang?

Menurut saya tidak. Poinnya adalah saya udah di fase cari suami dan sang mantan itu hanya cocok di kriteria pacar yang asyik tapi bukan suami yang saya idamkan.

Saya jadi ingat soal kebiasaan saya dalam hal sepatu. Pas kuliah di usia awal 20an saya doyan pake sepatu Vnc karena menurut saya modelnya trendy, lucu dan harganya murah banget. Tapi begitu masuk dunia kerja, sepatu Vnc itu udah nggak memenuhi kriteria kebutuhan saya yang perlu sepatu high heels ringan, model seksi, dan nggak nyakitin kaki walau dipakai berjam-jam. Akhirnya saya upgrade pilihan sepatu ke Nine West.

Sesederhana itu. Pilih yang nyaman dengan segala pertimbangannya.

Tapi begitu udah married, yowis. Madingnya udah terbit, kapalnya udah berlayar, wis nggak bisa ganti. Makanya penting banget buat filtering kriteria calon suami kayak apa sebelum nikah. And luckily I did! Kalau enggak, OH EM JI nggak kebayang gue konfliknya bakal kayak apa 😛

Dear younger Eka, thank you for following your heart. For listening to your instinct though it was hard at first.
And Dear Life, thank you for the life partner upgrade.

So, poin dari tulisan panjang ngalor ngidul ini apa? Menurut saya, gpp banget upgrading kriteria pasangan hidup toh memang belum nikah. Nggak ada yang salah dengan itu. Mending putus duluan di depan dan cari lagi yang sesuai kriteria daripada terikat pernikahan yang penuh drama menyesakkan. Kita berhak bahagia. 🙂

Selamat hari Kamis yang manis. Semoga yang galau soal milih calon pasangan ada pencerahan. Hihihi.

Buat yang mau menye-menye baca juga:

1. Adrian’s Day

2. Hari Ulang Tahun Pernikahan

3. Thank God We Got Married!

4. Who Needs Who?

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s