Prita Kemal Gani: Cinta PR sampai ke Sumsum Tulang!

To be successful, the first thing to do is fall in love with your work – SM Lauretta.

Kamis malam lalu, saya beruntung mendapat kesempatan untuk makan malam dan mengenal lebih dekat sosok Prita Kemal Gani, pendiri sekaligus direktur dari sekolah yang hits banget di Indonesia, London School of Public Relation Jakarta. Bertempat di Penang Bistro Grand Indonesia, selama kurang lebih dua jam saya dan beberapa teman blogger berbincang hangat mengenai dunia kehumasan, nggak cuma tentang kehumasan di Indonesia bahkan juga di ASEAN. Lho kok bisa? Lha jelas bisalah! Mbak Prita (hasyeeek manggilnya pake “mbak” biar terkesan lebih ikrib gituh) adalah pemenang ASEAN People’s Award (APA) 2015. Itu lho, penghargaan bergengsi tingkat ASEAN yang diterima oleh satu individu atau organisasi dari Negara ASEAN yang telah membantu dan memberikan kontribusi terbaik dalam pengembangan negara ASEAN. Mbak Prita adalah satu-satunya wakil dari Indonesia yang menerima penghargaan tersebut. Cool isn’t it?!

Sagittarian rules! :P

Sagittarian rules! 😛

Bagi Mbak Prita, kehumasan adalah segalanya. Ia mulai jatuh cinta Baca lebih lanjut

This Keeps Me Sane

Sicily’s Coretti DynastyNamanya jadi emak itu nggak gampang. Mesti pinter bagi waktu buat banyak hal. Mulai dari ngurus anak, kerjaan (kalo working mom kayak saya), ngurusin suami (dimanja-manja dikit so that love sparkles still there), sampe ngurus diri sendiri. Itu semua menguras energi, waktu, dan space di otak. Betul? Hahaha.

Bahkan kalo ada yang bisa ngintip otak saya sekarang pasti bakalan kesasar di labirin penuh pikiran: mulai dari hal-hal yang harus dikerjain, yang udah dikerjain apa udah bener, sampai mimpi-mimpi di kemudian hari. Pendeknya sih, I have a busy mind! :mrgreen: Baca lebih lanjut

New Friend

My baby has always been a fond of animals especially the fluffy furry ones. Cats and dogs are his favorite.

One day there’s a new comer in our neighborhood. A cute dog. He really wanted to touch and pat him but he was too afraid to do that since he was not familiar with that cutie. So he just stared at the dog hoping that they’d be just fine. Eventually the dog realized that someone was noticing him. You know the old saying that if you stare someone intensively, that someone will notice you and look at you back, right? I guess that applies to dogs too :p

Bast New Friend

The dog looked back to my baby. Clearly that baby boy didn’t expect that so… He ran! I almost died of laughing as it was him who watched the dog first but when it came near him, he was scared. 😀

Anw curiosity held him from running further. There were moments they just stared at each other. I think there was chemistry between them. They got to know each other. A minute after that, the fear, the insecure feeling is a history.

 

Baby boy has a new friend starting that day 🙂

First Crush

Who was your first crush? I remember when I was on 5th or 6th grade I had this crush to this music player in church, guitarist to precise. Hmmm, I forgot his name already 😀 I could recall the high school where he went but… Darn! I completely forget his name. Slap me, please. Haha.

First CrushWe crossed a path when Baca lebih lanjut

Who Needs Who?

Seminggu lalu saya dirawat di rumah sakit, diopname karena suatu hal. Adakalanya saya down banget dan kesel setengah hidup. Selain mesti menanggung sakit yang nggak ampun-ampunan, saya juga mesti menjalani banyak pemeriksaan. Dari satu pemeriksaan ke pemeriksaan lainnya. Capek. Melelahkan. Dan di saat-saat seperti itu kadang saya jadi ngelantur.

“Kalo aku mati gimana?” Tanya saya ke suami yang sedang duduk istirahat di sofa di sebelah ranjang saya.

Sontak wajah Adrian berubah saat saya menanyakan hal tersebut. “Don’t, please don’t.” Jawabnya singkat sambil berdeham.

“Kenapa?”

Adrian berdiri dan berjalan menghampiri saya. “I don’t think I can live without you.” Suaranya tercekat. Ia diam sambil mengenggam tangan saya kemudian berkata lagi, “Aku… Umm… Aku pernah membayangkan gimana kalau kamu nggak ada lagi di dalam hidupku… Dan aku tahu aku nggak sanggup. Aku nggak bisa.”

It was a short conversation, but it arouses a question to my mind. Who needs who? Selama ini saya selalu berpikir kalau saya yang nggak bisa hidup tanpa suami saya. Saya yang manja ini, yang super duper ceriwis dengan segudang kisah dan selalu senang saat melihat raut wajahnya ketika mendengarkan saya bercerita. Saya yang sering banget minta ini itu. Saya yang gede ngambeknya. Saya pikir…. Saya yang nggak bisa hidup tanpanya. Tapi Adrian? Suami saya itu begitu mandiri, tidak banyak menuntut, saya pikir tanpa saya pun ia akan dengan tenang melanjutkan hidup. (Tentu berduka sebentar, tapi ya abis itu lalu bisa melanjutkan hidup lagi). Tapi ternyata enggak gitu juga… 🙂 Hmmm hidup nikah itu memang begitu ya… Seiring waktu, sejalan dengan banyak momen yang dilalui bersama maka kami menjadi semakin tidak terpisahkan. Menjadi semakin melebur sehingga memang akan terasa lain tanpa kehadiran belahan jiwa. We need each other.

P.S. I love you, suamiku.

Kapan Sebaiknya Anak Mulai Menabung?

Petualangan Agen Penny CitiPeka 1“Kamu suka nabung?” Tanya saya kepada seorang anak yang sedang memegang-megang celengan kaleng.

“Suka dong, Tante. Aku rajin nabung lho. Rajin banget,” jawab bocah lelaki chubby itu dengan sumringah. Dapat saya lihat binar wajah bangga dari senyumnya.

“Memang kamu nabung buat apa sih?” Tanya saya lebih lanjut.

“Buat beli mainan, Tante. Mama nggak bolehin aku beli mainan, tapi kalo pake uangku sendiri, mama gak bisa larang-larang,” ujar bocah itu lagi. Masih dengan senyum menawan yang bikin hati gemas.

Saya tersenyum-senyum sendiri selama mengobrol dengan Surya, bocah kelas 5 yang lucu itu. Obrolan itu membuat saya berpikir, hmmm…

Kapan sih sebaiknya anak-anak bisa kita ajarkan untuk mulai menabung? Baca lebih lanjut

Festival Kota Layak Anak: Semua Anak adalah Anak Kita

It takes a village to raise a child. –proverb-

Siapa bilang jadi orang tua itu gampang? Banyak seni dan triknya. Betul? Dan sebagai orang tua, saya sering banget mikir apakah saya dan Adrian sudah memberikan yang terbaik buat anak kami? Sudah? Tapi yang terbaik itu yang bagaimana ya? Versi apa dan siapa? Baik bagi kita, belum tentu baik bagi orang lain. Terus piye? Banyak ya pertanyaan saya? 😀 Hahaha.

Maklum deh, kami ini ortu newbie, jadi kadang saya punya banyak pertanyaan dan bingung mau nanya ke mana 😀 Beruntung kemarin liat di Twitter bahwa ada Festival Kota Layak Anak di GBK Senayan tanggal 7-8 November 2015. Wis, capcuss, saya putuskan untuk datang. ^_^  Festival Kota Layak Anak 5 Saya sampai di GBK saat matahari masih belum terlalu menyengat bersinar. Tawa anak-anak bergemuruh terdengar dari kejauhan. Hati saya membuncah. Mendengar tawa mereka yang polos memberikan semangat tersendiri di hati. Baca lebih lanjut

Barisan Para Mantan

“Let the past go and only hold the lesson.”

Hahaha, judulnya bikin merinding ya? Kesannya mantan saya banyak bingits gituuu 😀 . Anw, tulisan ini emang buat ngomongin mantan. Nggak tabu kok ngomongin mereka…  :mrgreen: .

Well, I’ve been in a multiple relationships before I jumped in to a boat -which can not sail back to the shore- called marriage 😀 yet, these relationships taught me a lot about love and life. A lot!

So, if you ask me, “What did your ex(es) teach you?” There you go, here are the answers:

Ada mantan yang mengajarkan saya tentang menghormati pilihan suatu individu. Bertoleransi tanpa mempertanyakan apapun. Nggak pake syarat dia harus seagama, harus pinter, anak orang kaya atau gimana. Ya intinya sih, kalo sayang ya sayang aja. Nggak pake syarat atau embel-embel! Ia menyanyangi saya seapa adanya saya banget. Waktu itu saya masih umur 15 tahun, dengan pipi chubby penuh jerawat karena kelebihan hormon remaja, gigi tonggos karena belom dikawat, dan badan rada ndut. Nggak ada cakep-cakepnya deh (lha emang sekarang cakep? :p hihihi). Tapi ia menyanyagi saya sepenuh hati. Saya ingat, pas kami putus saya bisa lihat kesedihan mendalam di matanya. Kenapa putus? Karena pada akhirnya saya yang sadar kalo saya nggak bisa jalan sama orang yang nggak seiman. Tapi ia tetap saya kenang sebagai seorang yang penuh toleransi dan yang membuat saya menyenangi duku 😀 .

Mantan yang satu lagi mengajarkan saya tentang bagaimana menikmati hidup. Tentang melangkahi segala keteraturan dan lepas bebas menjalani apa yang dikehendaki. Rasanya puas banget menjalani hidup dengan penuh hura-hura. Liar, penuh tawa dan petualangan. Because of him, I learned how to ride motorcycle, hike a mountain, even listened to the music I have never heard before. Ia meracuni saya dengan U2, Radiohead dan Muse. Ia mengenalkan saya pada cerianya dunia anak band, pada lirik-lirik lagu yang romantis dan mendalam, juga kunci-kunci gitar yang bisa membuat nada dengan manis. Tapi lalu ada momen kosong yang panjang juga sih… We were young with big dreams (but unfortunetaly lack of responsibilities). So it came across to my mind kalo udah bosen senang-senang terus mau ke mana? Mau ngapain? Masa hura-hura terus? Menurut saya, mantan yang ini adalah mantan yang asyik buat jadi pacar, tapi terus terang nggak pas kalau jadi suami 😛 Wis, bubar. Hihi.

Mantan yang lain Baca lebih lanjut