First Crush

Who was your first crush? I remember when I was on 5th or 6th grade I had this crush to this music player in church, guitarist to precise. Hmmm, I forgot his name already 😀 I could recall the high school where he went but… Darn! I completely forget his name. Slap me, please. Haha.

First CrushWe crossed a path when Baca lebih lanjut

Who Needs Who?

Seminggu lalu saya dirawat di rumah sakit, diopname karena suatu hal. Adakalanya saya down banget dan kesel setengah hidup. Selain mesti menanggung sakit yang nggak ampun-ampunan, saya juga mesti menjalani banyak pemeriksaan. Dari satu pemeriksaan ke pemeriksaan lainnya. Capek. Melelahkan. Dan di saat-saat seperti itu kadang saya jadi ngelantur.

“Kalo aku mati gimana?” Tanya saya ke suami yang sedang duduk istirahat di sofa di sebelah ranjang saya.

Sontak wajah Adrian berubah saat saya menanyakan hal tersebut. “Don’t, please don’t.” Jawabnya singkat sambil berdeham.

“Kenapa?”

Adrian berdiri dan berjalan menghampiri saya. “I don’t think I can live without you.” Suaranya tercekat. Ia diam sambil mengenggam tangan saya kemudian berkata lagi, “Aku… Umm… Aku pernah membayangkan gimana kalau kamu nggak ada lagi di dalam hidupku… Dan aku tahu aku nggak sanggup. Aku nggak bisa.”

It was a short conversation, but it arouses a question to my mind. Who needs who? Selama ini saya selalu berpikir kalau saya yang nggak bisa hidup tanpa suami saya. Saya yang manja ini, yang super duper ceriwis dengan segudang kisah dan selalu senang saat melihat raut wajahnya ketika mendengarkan saya bercerita. Saya yang sering banget minta ini itu. Saya yang gede ngambeknya. Saya pikir…. Saya yang nggak bisa hidup tanpanya. Tapi Adrian? Suami saya itu begitu mandiri, tidak banyak menuntut, saya pikir tanpa saya pun ia akan dengan tenang melanjutkan hidup. (Tentu berduka sebentar, tapi ya abis itu lalu bisa melanjutkan hidup lagi). Tapi ternyata enggak gitu juga… 🙂 Hmmm hidup nikah itu memang begitu ya… Seiring waktu, sejalan dengan banyak momen yang dilalui bersama maka kami menjadi semakin tidak terpisahkan. Menjadi semakin melebur sehingga memang akan terasa lain tanpa kehadiran belahan jiwa. We need each other.

P.S. I love you, suamiku.

Kapan Sebaiknya Anak Mulai Menabung?

Petualangan Agen Penny CitiPeka 1“Kamu suka nabung?” Tanya saya kepada seorang anak yang sedang memegang-megang celengan kaleng.

“Suka dong, Tante. Aku rajin nabung lho. Rajin banget,” jawab bocah lelaki chubby itu dengan sumringah. Dapat saya lihat binar wajah bangga dari senyumnya.

“Memang kamu nabung buat apa sih?” Tanya saya lebih lanjut.

“Buat beli mainan, Tante. Mama nggak bolehin aku beli mainan, tapi kalo pake uangku sendiri, mama gak bisa larang-larang,” ujar bocah itu lagi. Masih dengan senyum menawan yang bikin hati gemas.

Saya tersenyum-senyum sendiri selama mengobrol dengan Surya, bocah kelas 5 yang lucu itu. Obrolan itu membuat saya berpikir, hmmm…

Kapan sih sebaiknya anak-anak bisa kita ajarkan untuk mulai menabung? Baca lebih lanjut

Festival Kota Layak Anak: Semua Anak adalah Anak Kita

It takes a village to raise a child. –proverb-

Siapa bilang jadi orang tua itu gampang? Banyak seni dan triknya. Betul? Dan sebagai orang tua, saya sering banget mikir apakah saya dan Adrian sudah memberikan yang terbaik buat anak kami? Sudah? Tapi yang terbaik itu yang bagaimana ya? Versi apa dan siapa? Baik bagi kita, belum tentu baik bagi orang lain. Terus piye? Banyak ya pertanyaan saya? 😀 Hahaha.

Maklum deh, kami ini ortu newbie, jadi kadang saya punya banyak pertanyaan dan bingung mau nanya ke mana 😀 Beruntung kemarin liat di Twitter bahwa ada Festival Kota Layak Anak di GBK Senayan tanggal 7-8 November 2015. Wis, capcuss, saya putuskan untuk datang. ^_^  Festival Kota Layak Anak 5 Saya sampai di GBK saat matahari masih belum terlalu menyengat bersinar. Tawa anak-anak bergemuruh terdengar dari kejauhan. Hati saya membuncah. Mendengar tawa mereka yang polos memberikan semangat tersendiri di hati. Baca lebih lanjut

Barisan Para Mantan

“Let the past go and only hold the lesson.”

Hahaha, judulnya bikin merinding ya? Kesannya mantan saya banyak bingits gituuu 😀 . Anw, tulisan ini emang buat ngomongin mantan. Nggak tabu kok ngomongin mereka…  :mrgreen: .

Well, I’ve been in a multiple relationships before I jumped in to a boat -which can not sail back to the shore- called marriage 😀 yet, these relationships taught me a lot about love and life. A lot!

So, if you ask me, “What did your ex(es) teach you?” There you go, here are the answers:

Ada mantan yang mengajarkan saya tentang menghormati pilihan suatu individu. Bertoleransi tanpa mempertanyakan apapun. Nggak pake syarat dia harus seagama, harus pinter, anak orang kaya atau gimana. Ya intinya sih, kalo sayang ya sayang aja. Nggak pake syarat atau embel-embel! Ia menyanyangi saya seapa adanya saya banget. Waktu itu saya masih umur 15 tahun, dengan pipi chubby penuh jerawat karena kelebihan hormon remaja, gigi tonggos karena belom dikawat, dan badan rada ndut. Nggak ada cakep-cakepnya deh (lha emang sekarang cakep? :p hihihi). Tapi ia menyanyagi saya sepenuh hati. Saya ingat, pas kami putus saya bisa lihat kesedihan mendalam di matanya. Kenapa putus? Karena pada akhirnya saya yang sadar kalo saya nggak bisa jalan sama orang yang nggak seiman. Tapi ia tetap saya kenang sebagai seorang yang penuh toleransi dan yang membuat saya menyenangi duku 😀 .

Mantan yang satu lagi mengajarkan saya tentang bagaimana menikmati hidup. Tentang melangkahi segala keteraturan dan lepas bebas menjalani apa yang dikehendaki. Rasanya puas banget menjalani hidup dengan penuh hura-hura. Liar, penuh tawa dan petualangan. Because of him, I learned how to ride motorcycle, hike a mountain, even listened to the music I have never heard before. Ia meracuni saya dengan U2, Radiohead dan Muse. Ia mengenalkan saya pada cerianya dunia anak band, pada lirik-lirik lagu yang romantis dan mendalam, juga kunci-kunci gitar yang bisa membuat nada dengan manis. Tapi lalu ada momen kosong yang panjang juga sih… We were young with big dreams (but unfortunetaly lack of responsibilities). So it came across to my mind kalo udah bosen senang-senang terus mau ke mana? Mau ngapain? Masa hura-hura terus? Menurut saya, mantan yang ini adalah mantan yang asyik buat jadi pacar, tapi terus terang nggak pas kalau jadi suami 😛 Wis, bubar. Hihi.

Mantan yang lain Baca lebih lanjut

ColdpressID Juice : A Juice a Day, Keep the Doctors Away.

Hai ^_^ Saya lagi seneng dan penuh semangat nih. Semingguan ini, hari-hari saya terasa segar dan menyenangkan banget. Gimana nggak segar ya bok? Saya lagi kecanduan ColdpressID Juice. Hihihi. Eh, eh… Udah tau belum apa itu ColdpressID Juice? Kalau belum, sini saya bisikin :P.

ColdpressID Detox 2ColdpressID Juice tuh juice baru yang lagi ngetrend banget karena dibuat dengan mesin khusus yang akhirnya bikin jus jadi mengandung lebih banyak vitamin, mineral dan enzim. Tentunya jadi lebih sehat buat kita dong! Baca lebih lanjut

Yang Tidak Dibicarakan Saat Kehilangan (Calon) Buah Hati

Some say you are too painful to remember but I say you are too precious to forget. –unknown-

Cukup lama saya menimbang-nimbang apakah saya akan menuliskan hal ini atau tidak. I’ve been tight lipped about my miscarriages. Suatu topik yang sangat sensitif buat saya. Kalau bisa saya nggak mau ngomongin itu, kalau bisa sih bab gelap dalam hidup saya itu hilang lenyap nggak berbekas dan saya nggak inget sama sekali. But then I thought, if I keep silent, this will be just a dark episode of my life. Yet, if I share my story, at least there’s something good comes up from the painful lost that I experienced, that other people who read the story can learn something from what I have gone through. Baca lebih lanjut